Kepastian Hidup

Tantangan Hari ketujuh Kampus Fiksi

ebdbb31db79dca01b0a631447fd20ec6

 “Dia meninggal.”

“Pada malam sebelum kejadian, dia bilang ke aku kalau dia udah gak punya alasan lagi untuk hidup,” dengan nada parau Ria bercerita.

“Ya Allah, sungguh sangat disayangkan apa yang dia lakukan. Itu dosa besar.”

“Iya teh Ayu.” Ria menatap wanita berhijab di hadapannya itu dengan pandangan sendu.

“Pacarnya itu lebih memilih selingkuhannya dibandingkan dia. Akhirnya mereka putus sepihak. Aku sudah berusaha menghiburnya dan memberikan sedikit nasihat bahwa lelaki itu tidak pantas untuknya tapi dia bersikeras bahwa dirinya tidak akan bisa hidup tanpa lelaki itu.” Ria berhenti sejenak, ada kemarahan sekaligus kesedihan yang terpancar dari matanya.

“Aku juga bilang bahwa jika lelaki itu membuatmu putus asa sehingga terbesit dalam pikiranmu ingin mati saja, pikirkanlah orang-orang yang menyayangimu seperti orangtua, saudara, dan juga teman-temanmu jadikanlah mereka semua alasanmu untuk tetap hidup.”

“Pada akhirnya dia memilih bunuh diri dengan lompat dari apartemennya,” sergah Teh Ayu menyayangkan sikap yang diambil oleh segelintir orang yang nekad bunuh diri hanya karena persoalan cinta.

“Walaupun teteh tidak begitu kenal baik dengan dia tapi teteh ikut sedih sekaligus merasa kecewa atas langkah yang dia ambil. Teteh harap kamu, teteh dan orang-orang yang mengenalnya tidak akan mengikuti langkahnya. Seharusnya, sekalipun kita tidak punya alasan untuk hidup, kita harus tetap hidup karena hidup itu kepastian. Saat tadi kamu mengatakan orangtua, saudara, dan lain-lain untuk dijadikan alasan seseorang bertahan hidup, bila semua itu tiba-tiba hilang akankah seseorang akan tetap hidup atau seperti halnya dia yang merasa tidak memiliki alasan lagi untuk hidup akhirnya malah mengakhiri hidupnya.” Tutur Teh Ayu. Ria terdiam mencerna kata-kata Teh Ayu sekaligus membatin dan membenarkan bahwa hidup adalah kepastian.

“Apa yang disampaikan Teh Ayu membuat Ria berpikir bahwa memang seharusnya tidak ada alasan bagi seseorang untuk mengakhiri hidupnya. Kita bertahan hidup sampai saat ini karena rahmatNya ya teh.”

“Iya, sekalipun kita tidak punya alasan untuk bertahan hidup kita harus tetap hidup karenaNya.”

 

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s