Guru kehidupan

Tantangan Hari Kelima Kampus Fiksi

 

“Ambil sebuah buku terdekatmu. Carilah sebuah paragraf di dalam buku tersebut yang sangat ingin kamu tuliskan dan kenapa memilih paragraf tersebut”

 7b66a66f80a41bf11f64c266cec95c30

Dalam hubungan – hubungan yang kita jalin di kehidupan

Setiap orang adalah guru bagi kita.

Ya, setiap orang. Siapapun mereka. Yang baik, juga yang jahat. Betapapun yang mereka berikan pada kita selama ini hanyalah luka, rasa sakit, kepedihan, dan aniaya, mereka tetaplah guru – guru kita. Bukan karena mereka orang – orang yang bijaksana. Melainkan kita lah yang tengah belajar untuk menjadi bijaksana. (Salim A. Fillah, Dalam Dekapan Ukhuwah. Hal.81)

Saya memilih paragraf ini karena saya yakin siapapun yang membaca kalimat-kalimat ini akan mampu menginsyafi diri sendiri, tentang setiap rasa sakit yang mereka rasakan. Dan siapapun mereka jika mampu menelaah dengan baik, mereka tidak akan menjadi seseorang yang buruk yang mengutuk setiap orang yang menorehkan luka pada mereka dengan sumpah-sumpah yang hanya mengotori hati. Semoga kita mampu menjadi orang-orang yang bijaksana dari setiap hal yang menimpa diri kita bahkan rasa sakit sekalipun.

Karena rasa sakit, kepedihan, aniaya yang kita terima tanpa kita sadari sesungguhnya adalah pelajaran, yang akan membuat kita semakin kuat meniti jalan kehidupan. Mungkin kita marah bahkan membenci pada mereka yang telah menggoreskan luka pada hati maupun diri kita tapi sesungguhnya mereka adalah guru yang mengajarkan banyak hal, diantaranya agar kita senantiasa belajar dari kesalahan orang lain sehingga kita tidak akan terjatuh pada lubang yang sama bersama mereka. Tetaplah menjadi baik sekalipun apa yang mereka lakukan membuat kita terluka, bahkan seharusnya kita membalasnya dengan kebaikan yang lebih besar lagi seperti pohon buah mangga yang walaupun dilempar batu ia membalasnya dengan buahnya yang manis.

Belajar menjadi bijak tidak memerlukan pedoman khusus, cukuplah menjadi penerima yang baik yang mampu memaafkan kesalahan orang lain tanpa menuntut mereka agar merasakan hal yang sama karena kejahatan bila dibalas dengan kejahatan hanya akan menghasilkan kesia-siaan. Sekali lagi seperti kata Salim A. Fillah bukan karena mereka orang–orang yang bijaksana. Melainkan kita lah yang tengah belajar untuk menjadi bijaksana.

Iklan

Satu pemikiran pada “Guru kehidupan

  1. Sudut pandang yang menyegarkan, Kak. Melihat pertemanan (interaksi dengan orang lain) tidak semata-mata hanya melihat sisi baik-buruk melainkan menjadikan apa yang didapat sebagai guru bagi kita, asyik sekali 😀

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s