Cahaya Kehidupan, itulah cinta

Tantangan Hari Keempat Kampus Fiksi
Kamu berbohong aku pun percaya

Kamu lukai ku tak peduli

Coba kau fikir dimana ada cinta seperti ini

        Slide5     “Ampun deh Ratna, ini kamar atau kapal pecah? berantakan banget sih.” Rani geleng-geleng kepala melihat kelakuan adik bungsunya. Tisu dimana-mana, bantal-bantal sudah terpisah dengan sarungnya, sampah chiki, coklat, minuman ringan berserakan. Tak bergeming, Ratna masih terdiam di posisinya, duduk termenung di depan jendela, seolah tak menghiraukan kedatangan kakaknya. Rani mendengus kesal.

 
Kau tinggalkan aku
Ku tetap disini
Kau dengan yang lain
Ku tetap setia
Tak usah kau tanya kenapa
Aku Cuma punya hati
Huwooo……hu….huu….

Dimatikannya musik dari DVD. Lagu Mitha lestari, aku Cuma hati. Berhenti. Ratna hanya menoleh dengan tatapan hampa, lalu kembali melanjutkan lamunannya. Rani jengkel, ia menghardik Ratna.

            “Kamu kenapa sih dek? Kok aneh begini.”

            “Kakak gak liat? Aku lagi berduka.” kata Ratna dengan suara parau

            “Emang siapa yang meninggal?” `

            “Orang berduka bukan berarti ada yang meninggal ka!”

            “Oh, terus kamu kenapa?”Tanya Rani bingung

            “Aku baru aja diputusin”

            “Oh, kenapa?” Tanya Rani lagi, Ratna menatapnya dengan sangat tanjam kali ini seolah memperingatkan kakaknya itu untuk tidak bertanya-tanya lagi. Rani mengerti, dia pun diam.

            “Ka,” Panggil Ratna. Rani yang masih terpatri menyahut

            “Bener ya kata Panglima Tian Feng sejak dulu beginilah cinta, penderitaannya tiada akhir…” Ucap Ratna dengan nada getir.

            “Siapa tuh panglima Tian Feng?”

            “Ih, kakak masa gak tahu sih? Itu loh Cu Pat Kay siluman babi di film Kera sakti.” Protes Ratna. Rani nyengir kuda.

            “Tadi kamu bilang apa, cinta penderitaannya tiada akhir ?” tegas Rani, Ratna mengiyakan.

            “Anak kecil, tau apa tentang cinta. Sekolah dulu yang bener!”

            “Kakak sama aja kaya bunda. Gak ngerti perasaan aku.” Rani terdiam, ia berfikir sepertinya ucapannya itu kurang tepat saat ini. Ia pun mencoba lagi mengatur kata-kata.

            “Dek, maksud kakak baik. Adek kan baru kelas 5 sd, masa depan masiiiiiihhh panjang. Kalau saat ini adek sedih karena baru diputusin jangan sampai mengganggu kehidupan adek saat ini. Lagi galau sebaiknya gak usah tuh denger lagu-lagu melow yang ada adek semakin mendramatisir perasaan, bukannya move on malah tambah galau.”

           “Cinta bukanlah cinta tanpa air mata. Tetap aja aku sedih ka. Bagiku sekarang cinta itu sesuatu yang menyakitkan. Rasanya sesak.”

            “Yaa ampun dek segitunya. Tapi ntar dulu deh, sejak kapan adek pacaran?” Rani baru sadar kalau selama ini adeknya pacaran. Walaupun telat, Rani cukup syok. Kayanya saat ini dia bukan lagi ngomong sama anak kecil umur 11 tahun.

***

            Tidak ada 1 orang pun termasuk anak sd saat ini yang mau disalahkan dalam mengartikan cinta. Kisah diatas menjadi sedikit gambaran bahwa siapapun bisa mendefinisikan rasa cinta, entah itu bentuknya sesuatu perasaan bahagia atau derita. Yang pasti, bila seseorang keliru mengartikan cinta hal itu akan menjadi senjata paling membahayakan bagi dirinya. Maka tak jarang banyak kita jumpai kasus bunuh diri karena patah hati. Cinta seharusnya menjadi cahaya kehidupan bagi seseorang bahkan kekuatannya mampu menerangi dunia bukan malah membunuh rasa kemanusiaan. Salah mengartikan cinta maka nyawalah taruhannya.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s