Cinta Monyet (Drama ‘kepentok pintu’)

cinta monyet gambarIngatanku kembali ke masa lalu. Sangat jelas wajahnya tergambar sekalipun mulai tertutup kabut kelabu. Lelaki itu, matanya yang sendu tak mampu ku lupakan dan tak akan tergantikan. Namanya masih tercatat di hatiku, Rusli. Seorang pangeran –bagiku, saat itu- berbaju putih bercelana abu-abu. Kisah ini dimulai dengan drama ‘kepentok pintu’. Dan sesungguhnya aku malu, jika harus menceritaan kembali kenangan itu.

            Rusli dan keluarganya menjadi tetangga baru di depan rumahku dan membuka sebuah warung kecil bernama ‘warung baru’. Aku yakin, orang pertama yang menjadi pelanggannya adalah aku, si gadis berkuncir dua yang saat pagi-pagi buta sudah menggedor-gedor pintu rumahnya. Walaupun aku sangat ingin melihatnya dari jarak sangat dekat untuk memastikan ketampanan wajahnya, tapi saat itu aku berharap bukan dia -anak lelaki- yang diam-diam kupandangi wajahnya dari balik jendela yang membukakan pintu. Namun rupanya takdir berkehendak lain. Rusliadi, nama yang kuperoleh dari hasil menguping obrolan mamaku dengan mamanya yang membukakan pintu itu.

            “Ada apa ?” tanyanya. Aku masih terpaku dan membisu. Dia kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama. Dan aku kembali seperti paku yang ditancap palu. Tatapannya mulai sinis, aku berusaha meringis karena kata-kata seakan tertahan dan tak mau berbunyi keluar dari mulutku. Sebenarnya aku meleleh seperti es yang disinari pandangan matanya yang terang menyilaukan. Aku berusaha menguasai keadaan, lebih tepatnya mengontrol perasaanku karena saat ini bukan waktu yang tepat untuk itu, selain ada rasa sakit yang tak tertahankan menyerangku,  aku harus segera menunaikan hajatku membeli sebuah benda. Sayangnya benda itu adalah khusus untuk wanita. Bagaimana aku harus mengatakannya? Ini pertama kali untukku. Malu, sakit melilit di perut yang mulai tak tertahankan, senang yang rasanya seolah baru pertama kali kurasakan, bercampur gugup tak tertolongkan membuatku terlihat bodoh di depannya.

            “Mau beli roti,” kataku sekenanya.

            “Rasa apa?” tanyanya singkat

            “Roti khusus buat perempuan,” aku bahkan tidak cukup mengerti dengan apa yang aku katakan. Yang kuingat ‘benda itu’ bentuknya memang mirip seperti roti, seingatku!. Rusli terlihat berfikir keras, seolah mencerna ucapakan yang absurd dalam pikirannya. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi aku mengatakannya, ingin rasanya aku katakan sejak melihatnya pertama kali, aku merasakan seolah di dalam perutku ada gelembung-gelembung sabun. Loh kok? Perutku semakin sakit. Seberapapun kuatnya aku bertahan sepertinya sulit. Karena aku masih belum mampu juga mengatakan maksud dan tujuanku mendatangi warungnya sepagi ini hanya untuk membali pembalut untuk kali pertama. Aku lebih besar malu, dan memilih segera kabur darinya. Tapi malang, sungguh disayang aku tidak melihat ada sapu. Entah bagaimana, aku terjatuh! dengan posisi nyungsep setengah nungging tepat di depannya. Dan parahnya kepalaku kejedot pintu. Aku menangis histeris. Bukan karena ada darah di kepalaku tapi malu. Di depan anak lelaki itu, anak lelaki yang padanya untuk kali pertama aku merasa ada sesuatu yang aneh di dalam hatiku, dan dihari pertama menstruasiku, tepat di depannya aku terjatuh dengan cara yang sangat memalukan. Oleh karena itu aku memutuskan untuk melupakannya dan menghapus ingatanku akan tragedi ‘kejedot pintu’. Yang terjadi selanjutnya, aku berhenti mengagguminya. Namun disaat yang sama tak sengaja aku melihatnya diam-diam mencuri pandang dan tersenyum manis kepadaku.

***

_Ditulis dalam rangka #7HariTantanganMenulis dari @kampusfiksi dan @basabasi_store

Iklan

Satu pemikiran pada “Cinta Monyet (Drama ‘kepentok pintu’)

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s