Menertawakan Kecemburuan

Keguguran

Tidak ada surga yang tak kurindukan

“Kakak iparku lahiran, suamiku jadi punya dua keponakan,” Izzah mulai bercerita kepadaku dengan wajah bermuram durja.

“Kok aku sedih ya?”

“Kenapa?” tanyaku.

“Punya keponakan satu saja sudah bikin aku cemburu gimana sekarang dua!” Aku mulai bisa mengerti arah pembicaraan ini, Izzah sudah menikah 1 tahun dan baru 2 bulan yang lalu ia mengalami keguguran. Sebagai sesama perempuan aku berusaha memahami kesensitifannya akan persoalan ‘anak’.

“Satu keluarga bahagia menyambut baby tapi cuma aku yang merasa gak bahagia, apa aku udah mulai gak waras?”

“Istigfar Zah,” Aku menggenggam tangan Izzah mengingatkannya untuk mengingat Allah agar hati tetap tenang. Tiba-tiba Hp Izzah berbunyi entah apa yang diterimanya sehingga membuat Izzah kembali meneteskan air mata.

“Nih, kamu liat sendiri, suami kirim foto ponakannya. Kelihatan banget dia bahagianya.”

“Sebelumnya aku mau tanya Zah, kamu udah pernah membahas persoalan ‘cemburu’mu itu kepada suami?”

“Udah Tia!” Izzah menjawab lugas

“Sebelum kaka iparku lahiran anak keduanya ini aku sudah pernah bilang perasaan cemburuku pada keponakannya yang pertama dan kamu tahu respon suamiku?” Izzah malah bertanya kepadaku dan aku menggeleng tak tahu

“Dia tertawa!”

“Dia bilang ‘kamu ada-ada saja masa cemburu sama anak kecil’ padahal ponakannya laki-laki kelas 3 SD masih aja dipelukin dan diciumin kalau ketemu” Izzah terlihat amat tersulut emosi dan perasaaannya, aku mencoba menyampaikan persoalan yang mungkin sama seperti yang juga pernah aku alami.

            “Mmhhh…. mungkin karena kita sama-sama perempuan ya, aku juga pernah merasakan hal yang sama. Keponakan suamiku mirip banget sama suami dari wajah sampai terkadang aku perhatikan sifatnya juga rada-rada mirip sama suami mungkin karena memang sedari kecil suamiku juga bantu mengurus dan mengasuhnya bahkan kalau dia lagi jalan sama keponakannya suka disangka anaknya. Harus aku akui aku cemburu dengan sikap suami yang terlalu menyayangi keponakannya itu dan khawatir apakah nantinya anakku akan kekurangan kasih sayang ayahnya yang seolah telah terbagi dengan keponakannya itu.” Izzah amat serius menyimakku, bisa dilihat dari wajahnya yang seolah bergumam ‘Oh ternyata bukan aku saja yang merasa cemburu begitu?’ dan aku kembali bertutur,

            “Tapi aku berusaha membangun komunikasi sebaik mungkin dengan suami dengan mengatakan sejujur-jujurnya apa yang aku rasakan dan cukup sering mengingatkannya akan sifat istrinya ini yang bisa dibilang amat pecemburu.”

            “Jadi kamu berhasil merubah suamimu dengan tidak berlebihan memperlakukan keponakannya?” sergah Izzah

            “Ya enggaklah… hehehehe” Tukasku sumeringah

            “Aku malah semakin mengerti Zah bahwa cemburu itu wajar dan pasti semua perempuan bahkan semua orang merasakan ‘cemburu’ dengan bentuk yang bermacam-macam. Nah, untuk itu menurutku amat penting mengelolah sifat cemburu itu jangan sampai menjadikannya sebuah kesedihan terlebih yang berlarut-larut itu bisa membuat persoalan semakin rumit dan menimbulkan masalah lainnya dikemudian hari. Ada kalanya mungkin kita malah harus mencoba menertawakan kecemburuan yang kita rasakan.”

            “Menertawakan kecemburuan?” kata Izzah mencoba menela’ah

            “Iyah, seperti kata suamimu tadi ‘masa cemburu sama anak kecil.

            “Bener juga yah! Hehe, seharusnya aku juga mengerti perasaan suamiku bahkan harus aku akui kalau sama anak kecil saja dia sayangi dengan tulus apalagi sama istri dan anaknya nanti.” Aku terseyum begitupula Izzah.

            Mengenai kecemburuan, aku jadi ingat kisah Ibunda Aisyah. Begitu tinggi cemburunya sampai-sampai bukan hanya pada istri-istri nabi yang masih hidup, kepada yang sudah meninggalkan pun demikian.

Al-Kisah, nabi sering memuji Khadijah di hadapan Aisyah. Akhirnya dirinya tidak kuat sehingga mengucapkan kata-kata yang menyulut kemarahan nabi, “Betapa sering engkau menyebut wanita yang bibirnya telah memerah, padahal Allah sudah mengganti untukmu dengan yang lebih baik darinya?” Rasul pun menjawab, “Allah tidak menggantikan yang lebih baik darinya,” kemudian beliau menyebutkan keutamaan Khadijah, “Ia beriman kepadaku ketika banyak yang mengingkariku,” ini yang pertama. Kedua, “Ia membenarkanku, saat kebanyakan orang memdustakanku.” Sedangkan yang ketiga, “Ia membantuku dengan hartanya ketika orang lain enggan mengeluarkan bantuan.” Yang terakhir, “Melaluinya, Allah mengaruniai aku anak, sedangkan dari istri-istri lain tidak.” (HR. Ahmad).

Pada kisah ini, ada pembelajaran yang luar biasa dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bagi wanita yang cemburu. Pertama, cemburu tidak boleh berlebihan. Kedua, rasa cemburu bukan menjadi affirmasi kita untuk menghina atau menjelekkan orang lain. Ketiga, jika cemburu kepada orang lain, jangan melihat sisi buruknya, tapi justru berusaha melakukan amalan-amalan yang terbaik melebihi dia sepanjang bisa dijangkau. Keempat, anak murni anugerah Allah. Sekiranya belum dikaruniai anak, jangan merasa cemburu berlebihan, justru itu jadi pemicu untuk evaluasi diri berdoa kepada Allah agar dikaruniai anak. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s