Menggugurkan Kenangan Keguguran

mengharapkan anak “Aku kok merasa kaya hamil lagi ya ? beser banget, gampang pusing, sensitif, perut bawah sakit bawaannya pengen makan mie terus sama banget kaya kemarin awal hamil,” kata Ester sambil memegangi perutnya.

Aku melihat ada harapan di matanya untuk kembali hamil. Dua bulan yang lalu Esty mengalami keguguran pada usia kehamilan 10 minggu, dan aku masih melihat dengan jelas kekosongan jiwanya akibat rasa kehilangan dan wanita berusia 23 tahun yang baru 1 tahun menikah ini tak setegar apa yang selalu ditunjukannya.

            “Kamu sudah haid normal Ester? “ Tanyaku

            “Paling cuma ngeflek-ngeflek duang, kemarin aku flek Din. Mungkin aja kan sekarang aku hamil?” Ester mendesah dan resah, lalu ia melanjutkan omongannya.

            “Duh Dinda, kalau beneran jadi aku akan merasa bersalah banget ini karena naik motor gak pelan-pelan dan suka lari-lari ngerjar jadwal kereta.” Ester menahan tangis yang nyaris tumpah. Aku memeluknya berharap meredakan sedikit kecemasan yang menyelimuti hati dan pikiran Ester, tentu aku mendoakan yang terbaik untuknya. Sampai akhirnya Ester mulai lega aku berkata kepadanya,

            “Aku pernah denger sih kalau rahim habis dibersihin (kuret) dia akan lebih subur tapi kurang tahu pasti kebenarnya yang pasti keadaan rahim setelah itu harus benar-benar diistirahatkan supaya lebih kuat menyambut kehamilan berikutnya. Dan menurut aku akan jauh lebih baik kamu jangan dulu terbawa perasaan, aku khawatir apa kita harapkan tidak sesuai.”

            “Tapi aku bener-bener ngerasa ada sesuatu yang aneh sama aku Din, kaya perubahan orang-orang hamil gitu. Apa aku tespek ajah sekalian, sekarang!” Sergah Ester berusaha meyakinkanku, tapi aku tahu sebenarnya ia tengah meyakinkan dirinya sendiri, dan aku tidak bisa mencegahnya melakukan apa yang ingin dilakukannya tapi sebelum itu aku kembali berkata kepadanya;

            “Persiapkan mental dan hati kamu untuk lebih kuat! Apapun hasilnya insyaallah itu yang terbaik”

Ester berjalan kearahku dengan keadaan yang lunglai, wajahnya tak menunjukan senyum sedikitpun, aku melihat sisa-sia air mata di kelopak matanya. Aku segera mendekatiknya dan mengenggam erat kedua tangannya.

            “Benar Din, aku masih baper (bawa perasaan). Hasilnya negative,

***

Menanti datangnya masa kehamilan bagi seorang perempuan adalah harapan-harapan yang melebihi semua keinginan, namun disisi lain penantian itu juga saat-saat menegangkan seolah semua kebahagiaan dipertaruhkan. Selain itu perempuan menyimpang sejuta kekhawatiran pada pasangannya bila kabar kehamilan itu tak kunjung datang akankah cinta masih bertahan dihatinya? sedangkan perempuan selalu menjadi objek yang disalahkan dari khalayak ramai bila tak kunjung kabar baik itu datang. Lalu bagaimana rasanya bila yang diharapkan akhiranya datang namun ternyata hanya singgah sebentar seperti kejadian keguguran? disitulah perempuan mulai merasa tidak yakin pada dirinya seperti apa yang terjadi pada kisah Ester, sebuah kisah nyata yang mungkin banyak perempuan juga mengalaminya, termasuk aku, Dinda.

Aku menuturkan kisah ini berdasarkan apa yang juga pernah aku alami dimana aku pernah merasakan apa yang dirasakan Ester sahabatku, dimana kepercayaan diriku sebagai perempuan hancur bahkan ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa aku di vonis dokter sulit mendapatkan keturunan hanya berkemungkinan 40-50%. Tapi disini aku ingin berbagi bahwa jika saat-saat terberat dalam hidup kita itu terjadi jangan pernah kita padamkan keyakinan kita pada Allah SWT atas setiap curahan kasih dan sayangNya. Allah sesuai prasangka hambaNya, dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, Allah berfirman: “Aku (Allah) sesuai dengan prasangka hamba pada-Ku.” (Mutaafaqun ‘alaih)

Kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi besok karena hidup ini misteri dan seringkali harapan tidak sesuai kenyataan. Allah yang lebih tahu mana yang terbaik untuk hambaNya, kita hanya perlu terus mendekat dan taat kepadaNya serta berbaik sangka. Ketika musibah datang dengan tiba-tiba namun kita bersabar maka kita hanya perlu menunggu waktu kebahagiaan yang kita yakini itu akan datang dan menggantikan kesedihan yang kita alami. Namun bila yang kita tunggu tak kunjung datang atau sekedar ada tanda-tandanya maka kita perlu kembali mengoreksi hati kita, mungkin saja masih ada luka yang mengangga disana. Luka yang perihnya masih sering membuat kita meneteskan air mata dan tak tahan lalu berkeluh kesah. Itulah dimana belum ada ikhlas.

Dalam hidup ini kita harus benar-benar menyadari bahwa Allah SWT adalah pemilik segala sesuatu yang kita miliki, yang ada pada diri kita adalah titipan. Hidup ini ujian bahwasannya kita amanah tidak dengan yang Allah telah percayakan kepada kita, dan kita harus selalu siap bila sewaktu-waktu Dia mengambilnya baca: (Kehilangan) . Dan saat itu adalah masa dimana ikhlas itu dipertanyakan sesuai dengan kisah ‘keguguran’ kita harus benar-benar ikhlas. Sabar dalam menjalani apa yang terjadi dan ikhlas terhadap apa yang terjadi pada diri kita.

Pasca 6 bulan vonis itu dilayangkan dokter kepadaku, aku sungguh terkejut! aku kembali diberi amanah oleh Allah SWT untuk mengandung, saat pertama kali aku menerima kabar baik itu aku sujud mengucap syukur. Dan untuk perempuan-perempuan yang telah Allah berikan kekuatan besar pada dirinya sabar dan ikhlaslah dengan apapun yang terjadi insyaallah setiap kejadian yang kita alami akan menjadi kenangan dimana kita bisa mengambil hikmah dan berusaha mengerti maksud Allah SWT kepada kita. Semoga kisah ini bermanfaat, dan kita saling mendoakan.

Iklan

Satu pemikiran pada “Menggugurkan Kenangan Keguguran

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s