Jalan itu bernama ZINA

zinaASTAGFIRULLAH, secara tiba-tiba Maya menarikku ke sudut ruangan saat aku tengah berjalan santai di koridor kantor kemudian ia memeluk dengan sangat erat. Ia menangis sejadi-jadinya sampai-sampai aku khawatir ada yang mendengar tangisannya dan mengira aku berbuat sesuatu padanya, untung kondisi saat itu sepi. Melihatnya seperti ini aku mencoba bersabar untuk bertanya ini dan itu sampai ia sendiri yang melepaskan pelukannya.

“Farah, gue yakin lo gak akan bilang siapapun dan akan merahasiakan ini.”

“Lo kenapa May?”

“Semalam gue…. ML sama Dito”

ML? Pikiranku langsung tertuju pada kata Making Love?

            “Hah? Astagfirullah!”

            “Gue takut hamil Fa” wajah Maya bertambah pucat

            “Yaa Allah May, seharusnya lo lebih takut dosa dibandingkan hamil!”

Maya terdiam sejenak, gurat-gurat penyesalan terlihat sangat jelas di rona wajahnya. Aku tidak dapat berkata apa-apa, lidahku kelu. Maya terlihat sangat tertekan, kali ini aku yang mendekapnya seerat pelukannya tadi. Ia menangis sejadi-jadinya dalam diam yang getarannya dapat ku rasakan dan membuat hatiku ikut menangis.

Beberapa minggu kemudian Maya mengabarkan kepadaku bahwa ia negative hamil selain itu ia berkata bahwa Dito pacarnya siap bertanggung jawab dengan segera menikahinya. Tidak banyak yang dapat aku lakukan, aku hanya memberitahunya bahwa yang harus ia lakukan adalah Taubatan nasuha karena Zina adalah salah satu dosa besar tentunya dengan sebenar-benarnya taubat yaitu menyesali perbuatan buruknya di hadapan Allah SWT.

Belum genap seminggu keterkejutanku soal kisah temanku Maya, kali ini aku kembali dikagetkan oleh Tati yang tiba-tiba saja menelponku, mulanya Tati bertanya kepadaku bagaimana caranya shalat taubat lalu dengan sesingkat mungkin aku menjelaskannya dan memintanya membeli sebuah buku panduan lengkap tata cara shalat taubat dan lain sebagainya. Kami sangat jarang bertemu karena kesibukan masing-masing, terlebih setelah ia pindah rumah dan tidak menjadi tetangga sebelah rumahku lagi.

            “Gue mau curhat sama lo Far, gue mau shalat taubat karena gue abis ngelakuin dosa besar nih,” katanya

Tati memang sering curhat kepadaku makanya aku tidak heran bila malam-malam begini dia menelpon, tapi aku tidak dapat mengira apa yang dia maksudkan sebuah dosa besar?

“Kejadiannya sebulan yang lalu sih! Gue ML sama pacar gue Far”

“ASTAGFIRULLAH, “ Aku tidak dapat menyembunyikan keterkejutanku

“Syukurnya sih gue gak hamil,”

“Apa? Syukur? Tat perbanyak istigfar ya! Minta ampunan sama Allah. “

“Iya Far, makanya gue niat shalat taubat ni,”

Tidak usah diteruskan kembali ceritanya. Realita, masih banyak sebenarnya kisah-kisah lain di luar sana yang sungguh mengiris hati dan dapat membuat kita terkejut ternyata perzinahan ada di sekitar kita hanya saja mungkin kitalah yang menutup mata kita dan mata hati kita. Mungkin kita sudah tidak terkejut lagi karena terbiasa menyaksikan perzinahan itu atau jangan-jangan kita sendiri yang tanpa sadar tengah berjalan mendekati zina? Na’udzubillahiminzalik

Kedua kisah tersebut memiliki kemiripan yaitu sama-sama melakukan perzinahan dengan pacarnya. Sedangkan pacaran sendiri sudah bagian dari zina, kalau ada yang tidak terima dibilang zina karena merasa tidak tengah berbuat dosa (dengan pemahannya sendiri) maka itu pacaran juga bisa mendekati zina dan sangat dekat dengan zina ibarat jari telunjuk dan jempol. Sekarang ini pacaran dianggap hal yang sewajarnya bahkan bila tidak pacaran dikatakan tidak beres atau mempunyai kelainan dan lain sebagainya, mirisnya lagi sebagian orang tua kita mendukung anak-anaknya untuk berpacaran dengan alasan sebagai motivasi positive bagi masa depan anaknya dengan begitu ‘si anak’ dapat memiliki pengalaman berkomitmen sebelum berumah tangga kelak, dan berbagai alasan lainnya.

Terlepas dari peran orang tua saat ini, bagi kita mungkin pacaran sah-sah saja selagi ada batas. Pertanyaanya dimana batas itu? dan siapa yang berani menjamin bahwa kita sendiri akan menjaga batasan itu? sedangkan bila laki-laki dan perempuan berduaan di suatu tempat saja maka dapat dipastikan adanya tindakan-tindakan fisik yang terjadi, ok jika bukan kita anggap saja orang lain yang berbuat demikian. Akan jauh lebih baik memang bila kita tidak membicarakan hal ini pada orang yang sedang dimabuk cinta karena akan ada 1001 alasan bagi mereka untuk melakukan pembelaan bahwa apa yang mereka jalani (pacaran) adalah hal yang wajar atau bahkan semestinya.

Bagi kita yang mungkin terlalu yakin bahwa kita akan mampu menjalani pacaran sehat dengan batasan yang telah kita buat sendiri nampaknya kita harus menyadari satu hal bahwa mungkin kita bisa menjamin hati kita sendiri tapi kita tidak akan mampu menjamin hati orang lain (pasangan) apalagi apa yang mereka pikirkan. Bila kita merasa pacaran adalah pilihan yang tepat dalam hidup kita karena dengan pacaran kita merasa bahagia maka lihatlah kebahagiaan yang akan mendatangi kita hanya sebatas itu, sebatas waktu yang akan berlalu dengan sangat cepatnya dan kebahagiaan-kebahagiaan yang akan kita dapatkan itu kelak akan berganti menjadi penyesalan jika bukan di dunia maka di akhirat.

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al-Isro;32)

Sayangnya, kebanyakan dari kita telah buta mata hati dan pikirannya hingga tidak menghiraukan larangan agama. Tidak mungkin tidak ada yang tahu bahwa pacaran itu mendekatkan diri kita pada perzinahan bahkan pacaran itu sendiri adalah zina! zina yang sering kita anggap sepele ibarat dosa yang kelak akan mudah kita bersihkan seperti noda pada pakaian kotor padahal sesungguhnya catatan perbatan kita abadi pada buku yang kelak akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s