Mesti Cinta

mestifarah & mahmud budi

MestiFarah

 

Ditulis secara sederhana oleh suami tercinta :

Dalam sudut cinta
Yang indah mulai tereja
Dulu kau hanya sekadar
Huruf yg tercecar

Sekarang, …….
Cinta membuatmu nyata
Bukan sandiwara
Ketika bayangmu hadir
Hati selalu berdesir

Sayang, …
Biarkan aku terpesona
Oleh gelombang cinta
Meluap rindu bak air
Bergulung meretas takdir

By : 2M (Mesti & Mahmud)

 

**

Antara Gresik dan Jakarta
Bermula dari taaruf bertukar biodata
Istiqoroh memohon petunjukNya
Takdir mempersatukan ku dengannya

Cinta,
Pada awalnya aku bertanya ?
Seperti apakah ia ?
Kini, aku mulai merasa ….
Segala Puji bagi Allah atas Anugrah terindah dan nikmat tiada tara
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah nikmat kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)

Hidup bersama dengan seseorang yang mungkin baru kita kenal bukanlah hal mudah, bahkan diawal terlalu banyak pertanyaan – pertanyaan di kepala seperti; bagaimana kita bisa mencintai seseorang yang sedemikian asing ? bagaimana berbagi bersamanya dalam segala keadaan susah maupun senang ? bagaimana mendahulukan kepentingannya diatas kepentingan dan keinginan pribadi ? bagaimana menerima kekurangannya atau melengkap apa yang dirasa kurang sempurna darinya?. Mungkin salah satu hal yang bisa didefinisikan dari proses itu adalah kesungguhan, menyatakan cinta itu sangat mudah, tetapi menerima sepenuh diri dan apa adanya, menyayangi, memelihara, dan memupuknya, teramat membutuhkan kesungguhan. Seiring waktu cinta sejati akan bersemi dalam sebuah rumah tangga yang berlandaskan Tauhid.

“Tali iman yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” (HR. At-Tirmidzi).

Cinta tak akan membutakan, tetapi membuka gerbang – gerbang rahasia kehidupan. Cinta sejati yang akan menuntun kita pada kebahagiaan, dan hanya yang saling mencintai karenaNya yang kelak akan kembali dipertemukan.

Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda: Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu Pemimpin yang adil; Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah semasa hidupnya; Seseorang yang hatinya senantiasa terpaut dengan Masjid; Dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah kerena Allah; Seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan yang cantik dan berkedudukan untuk berzina tetapi dia berkata, “Aku takut kepada Allah!”; Seorang yang memberi sedekah tetapi dia merahasiakannya seolah-olah tangan kanannya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kirinya; dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sunyi sehingga bercucuran air matanya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebuah Catatan Kecil

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s