(anak – Anakmu) lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya

11072230_10204160191189294_300274279_nBelakangan ini sering deh liat status – status facebook yang juga mempublikasikan foto anak – anak mereka dari temen – temen sd, smp, sma, dan teman dumay lainnya. lucu – lucu banget anak – anaknya. Ets, bukan kelucuan anak – anak itu yang lebih saya perhatikan tapi lebih kepada status mereka yang sebagian besar mengutarakan betapa cintanya yang teramat besar kepada buah hati dan tak dapat hidup tanpa anak – anak mereka seperti “aku tak bisa hidup tanpa anakku” atau “anakku adalah alasan untuk aku bahagia” dan lain sebagianya.

Buat saya pribadi ada sebuah pelajaran penting dari apa yang saya anggap sebagai bentuk kecil dari kasih dan sayang seorang ibu kepada anak – anaknya itu, yang kemudian membuat saya merenungi sebuah firman Tuhan, (tiada illah kecuali Allah);

“Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS: At-Taubah Ayat: 24).

Berharap kalau apa yang saya pikirkan ‘keliru’ tentang mereka, adalah ketika dari status – status mereka itu saya mendapat sebuah kesimpulan yang menegaskan bahwa mereka benar – benar tidak bisa hidup tanpa anak – anak mereka sedangkan bukankah sesungguhnya hidup dan mati kita hanya untuk Allah SWT ? ingatkah kita tentang sebuah hadis yang berbunyi “Seseorang tidak akan mencicipi masnisnya iman sampai ia mencintai aku melebihi dari keluarga dan hartanya.” (HR. Bukhori & muslim)

Lantas, pertanyaan besarnya adalah apakah benar kita telah benar – benar mencintai Allah dan Rasulnya ? lebih dari apapun !!! …

Menuliskan ini sebenarnya juga untuk menasehati diri saya sendiri tentang kecintaan yang hakiki, tulisan ini awalnya adalah status saya di facbeook, yang kemudian mendapat beberapa kritikan (mengingatkan) karena saya sendiri belum merasakan apa yang mereka rasakan mengandung, melahirkan dan merawat (dan Insya Allah akan merasakan) tapi seperti yang saya renungi dalam al-quran surat At-taubah yang menyebutkan bukan hanya soal ‘anak – anakmu’ tapi juga orangtua, kaum keluarga, harta kekayaan yang setidaknya saya miliki saat ini (atas segala nikmat Allah).

Saya jadi kembali membuka buku karya Imam Al-Gazali, ada bagian dari buku itu (al-mahabbah wa al- syawq wa al-uns wa al-ridha) yang mengatakan “Manusia jelas mencintai diri sendiri jika ia mencintai orang lain, itu pun demi dirinya sendiri, bisakah tergambar dalam pikiran kita, manusia mencintai orang lain demi orang lain, bukan demi dirinya sendiri ?” . Dan dari situ saya berfikir bahwa cinta kepada apapun, dan dengan siapapun tidak akan melebih kecintaan kita pada diri sendiri Tapi dalam islam itu berbeda, sebagaimana ayat al- quran yang saya renungi diatas, Mencintai ALLAH dan Rasul-Nya melebihi dari segalanya adalah jalan menuju keselamatan yang hakiki. ALLAH, Dialah yang paling berhak untuk dicintai, yang lebih patut menjadi labuhan hati dibandingkan orang tua, anak, bahkan diri sendiri. Dan bila ada yang mengatakan kepada saya bahwa (di komen status) “konteksnya pun berbeda antara hubungan cinta kita pd Allah & hubungan cinta kita dg manusia” Hal itu tidak boleh dibedakan (menurut saya) karena cinta kepada manusia harus berdasarkan karena kecintaan kita pada Allah, dan saya kembali ingin menambahkan sebuah hadis nabi yang berbunyi ; “Sebelum seseorang mencintai Allah dan NabiNya lebih daripada mencintai yang lain, ia tidak memiliki keimanan yang benar.” Dari situ adalah indikasi bahwa TIDAK benar ‘cinta kepada manusia tidak ada sangkut pautnya cinta kepada Allah’ (Wallahu A’lam Bishawab) karena “Setiap orang akan berkumpul bersama orang yang dicintainya.” (H.R. Bukhori & Muslim) Semoga kita serta semuanya yang saling mencintai karena Allah akan dikumpulkan bersama di surga Allah kelak (aamiin). Itulah yang saya renungi, mungkin memang benar saya harus merasakan sendiri ‘sensasinya’ dan mohon doanya agar Allah juga memberikahan hal yang sama seperti yang telah mereka rasakan memiliki buah hati yang saya cintai karena Allah (aamiin), sehingga saya akan jauh lebih mengerti, sedangkan saat ini seperti yang telah saya katakan di status saya hanya dapat merenungi semua.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s