Kisah Pak Dadang & Pak RT

mengajarkan anakPak Dadang adalah seorang yang baik hati, kaya raya dan orang terpandang. Jika idul fitri tiba Pak Dadang tak pernah absen memberikan zakat-nya pada fakir miskin sekitar kampung. Antrian di depan rumahnya mencapai 50 meter lebih, dengan dijaga ketat oleh para polisi, barisan mereka sangat rapi dan sejauh ini tidak pernah ada kasus ‘rusuh’ dalam pembagian zakat tersebut. Akantetapi Pak Dadang mempunyai 2 kelemahan. Pertama, dia mudah marah dan kedua dia selalu bertindak kasar. Pada suatu hari Pak Dadang didatangi 2 orang petugas RT, Pak Kosim dan Pak Rohim, maksud dan tujuan mereka ke rumah Pak Dadang adalah untuk meluruskan pokok permasalahan, klarifikasi dan mengetahui kebenaran (menurut versi Pak Dadang) karena laporan salah satu warga yang anak lelakinya dipukul dengan menggunakan sapu ijuk oleh Pak Dadang karena sebuah insiden kecil (keleparan bola sepak) yang menyebabkan jendela rumah Pak Dadang pecah. Persoalan semacam ini bukan hanya terjadi sekali ini saja, sebelumnya beberapa orang anak juga mengalami hal serupa. Karena rumah Pak Dadang bersebelahan dengan lahan kosong yang sering dipakai sebagai lapangan sepak bola oleh anak – anak kampung, itulah mengapa hal ini seringkali terjadi. Masalahnya kemudian adalah sifat Pak Dadang yang mudah marah dan kemudian bertindak kasar.

Pak Kosim dan Pak Rohim diterima baik oleh Pak Dadang, tanpa basi – basi lagi Pak Kosim langsung pada inti permasalahan.

            “Sebelumnya saya minta maaf kepada bapak bila hal ini mungkin tidak berkenan di hati bapak, apakah benar bapak memukul si fulan kemarin sore, dengan menggunakan sapu ijuk ?” Tanya Pak Kosim dengan nada hati – hati.

            “Ya, benar.” Jawab Pak Dadang tegas dan lugas,

            “Jika demikian saya sebagai petugas RT sekaligus sebagai perwakilan orang tua yang anaknya bapak pukul dengan sapu ijuk itu, berharap bapak..”

            “Saya akan tanggung jawab, apa perlu kita bawah anak itu ke rumah sakit ? anak dan orangtuanya aja di suruh kemari !” Pak Dadang memotong ucapan pak kosim.

            “Bukan begitu pak maksud saya.”

            “Jadi apa ? wong saya pukulnya juga gak keras kok, saya yakin gak ampe berdarah atau luka. Makanya mereka itu, anak – anak yang kerjaannya maen terus itu harus hati – hati ! saya udah sering ganti kaca jendela rumah karena ulah nakal mereka. Dan bila harus menanggung biaya rumah sakit anak itu yang hanya saya pukul pake sapu ijuk, saya sama sekali gak masalah“

Pak Kosim dan Pak Rohim terlihat kikuk, ucapan mereka yang terus dipotong membuat mereka nampak kebingungan harus bagaimana menjelaskan prihal kedatangan mereka saat ini. Pak Kosim dan Pak Rohim sangat kenal Pak Dadang bahwa ia orang yang sangat bertanggungjawab, tetapi yang hendak mereka sampaikan bukan sekedar itu, ‘hanya’ berharap sifat Pak Dadang yang mudah marah dan kasar tersebut dapat lebih bijak menanggapi kelakuan anak – anak sehingga tidak lagi meresahkan sebagian masyarakat sekitar khususnya orangtua dari anaknya yang sering kena perlakukan kasar Pak Dadang, walaupun memang benar seperti yang dikatakan Pak Dadang tadi bahwa perbuatannya itu tidak sampai melukai yang terlalu parah anak – anak itu akantetapi karena kejadian ini cukup sering maka dari itulah Pak Kosim dan Pak Rohim datang secara baik – baik kepada Pak Dadang untuk tidak bertindak seperti itu lagi.

            “Jangan marah!” kata Pak Rohim kepada Pak Dadang yang mulai emosi karena teguran dari pak Rohim, Pak Dadang berdiri di hadapan Pak Kosim dan Pak Rohim yang masih duduk di atas kursi.

            “Siapa yang bilang saya bertemperamen buruk dan kasar ?” teriak Pak Dadang kepada Pak Rohim yang sebelumnya berkata;

            “Karena sifat bapak yang mudah marah dan kasar pada anak – anak saya berharap bapak tidak lagi mengulangi perbuatan kasar seperti itu lagi. Atau saya tak segan – segan menindaklanjuti hal ini sampai ke pihak berwenang, terlebih lagi karena banyak aduan masyarakat yang sudah mulai resah dengan sifat bapak yang tempramen dan kasar itu!”

            “Seharusnya saya bukan hanya memberi pelajaran kepada anak – anak itu! tapi juga kepada orangtua mereka agar mereka mampu mendidik anak – anaknya dengan baik! Suruh saja mereka yang mengadukan saya, biar saya langsung hadapi mereka”

Pak kosim berdiri dari duduknya diikuti Pak Rohim yang juga berdiri, kini mereka semua tidak lagi dalam posisi duduk namun berdiri dengan posisi tegap dan mata yang saling berhadapan.

            “Pak Dadang tadi tanya siapa yang mengadukan sifat Pak Dadang yang tempramen dan kasar, sekarang ini bapak telah menunjukan kepada kami akan kebenaran sifat bapak itu, apa sekarang bapak mau memukul kami dengan menggunakan sapu ijuk itu ? Apakah bapak menyadarinya ?”

Pak Dadang terdiam, matanya terbelalak. Mulutnya bungkam, seperti menyadari sesuatu dalam dirinya yang baru ia sadari!

***

“Orang – orang yang benar – benar bijaksana mau mendengar kritikan tentang dirinya”

Mungkin saat ini Pak Dandang tengah merenungi beberapa sifatnya yang tidak baik, karena setelah dialog Pak Dadang dengan Pak Kosim dan Pak Rohim selesai, Pak Dadang berniat meminta maaf kepada mereka yang pernah mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakan dari beliau. Pak Dadang adalah orang baik, dan cerita di atas tentang sifat kasar dan temparamen Pak Dadang menjadi sebuah gambaran kecil yang mungkin saja sifat seperti itu ada di dalam diri kita, (mungkin saja: coba baca dari awal lagi 😀) ? jika demikian tentu hal seperti itu harus segera kita koreksi agar kelak tidak menimbulkan ketidaknyamanan orang lain dan juga diri sendiri. Kita bisa menilai sendiri bagaimana buruknya hal itu bukan ?.

Rasulullah bersabda; “Sesungguhnya, Allah telah mewahyukan kepadaku, saling bersikap tawadhu’lah kalian, hingga tidak ada orang yang membanggakan dirinya atas orang lain dan tidak pula seseorang menganiaya orang lain” (HR. Muslim)

Selain itu kita juga bisa menilai bahwa ada sebuah ‘kerikil’ keangkuhan/ sombong yang dimiliki Pak Dadang yang merasa tindakannya benar, “Seharusnya saya bukan hanya memberi pelajaran kepada anak – anak itu! tapi juga kepada orangtua mereka agar mereka mampu mendidik anak – anaknya dengan baik! Suruh saja mereka yang mengadukan saya, biar saya langsung hadapi mereka”. Bagiamana menurut kalian ? iya kan, mari kita bercermin dan melihat diri kita lebih dalam, apakah kita seperti itu juga? ada sebuah kesombongan dalam diri kita ? yang merasa benar pada sesuatu yang menurut kesimpulan kita tanpa mencari sudut pandang lain ? dari kata – kata yang keluar begitu saja dari mulut kita ini, seringkali keluar asap kesombongan dari api keangkuhan dalam diri kita. Ketika kita tidak menyadarinya, kita memerlukan orang lain untuk membantu membuat kita sadar dan mengerti tentang sebuah hal buruk yang dapat membuat oranglain tidak nyaman pada diri kita, sepertinya yang dilakukan Pak Kosim dan pak Rohim.

Allah Ta’ala berfirman : “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang – orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahanya (yang baik) itu adalah bagi orang – orang yang bertkwa. “ (Q.S. Al-Qashash:83)

 

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s