BAHASA DIAM SEORANG ISTRI

df451561fffa47555cfe2084fd5cad37Wanita itu pun harus lembur. Hampir disetiap malamnya, terkadang melebihi karyawan yang teramat sibuk dengan setumpuk dateline di kantornya,. Juga malam ini!. Wanita itu melihat ke luar jendela rumahnya, jalanan terlihat lengang. Sunyi dan sepi. Hanya suara gesekan daun yang berbisik pada ranting – ranting pohon yang kedinginan,di malam ini bahkan anjing tetangga tak lagi menggonggong. Ada raut gelisah di wajahnya, berkali – kali wanita itu melihat jam di dinding yang suara detaknya mampu didengarnya dengan sangat baik, wanita itu mengelus dadanya sambil menutup matanya beberapa detik, amarahnya seperti meluap namun pertahanan yang dibuatnya mampu mencegah air mata itu untuk tidak tumpah. Bukan karena rasa lelah yang menuntutnya untuk segera tidur, tapi waktu telah menunjukkan tengah malam. Wanita itu masuk ke dalam ruangan paling besar di rumah itu, kamar utama dengan sebuah ranjang besar yang berada pas di tengah ruangan. Perasaannya yang tak tenang seperti ombak yang bergulung – gulung di pantai, membuat rasa kantuk seperti lari menjauh darinya sebagaiman ikan – ikan lari dari jaring para nelayan, keberadaaanya di atas kasur bagaikan sebuah kapal yang mengapung di tengah lautan.

 

***

Sebelum subuh, bahkan sebelum suara kokokan ayam, aku harus bangun! Tidak ada kesulitan untuk itu, aktivitas seperti biasanya berlanjut, menyiapkan makanan untuk putra – putiku dan ayah mereka, Sarapan dan bekal makan siang mereka dengan menu yang berbeda – beda. Untuk makan pagi, anak – anak dan suamiku masih mau makan roti dan selai, tapi untuk makan siang mereka mempunyai kesukaan masing – masing. Aku mampu membuat 3 sampai 4 menu berbeda setiap harinya, selain menu makan malam tentunya. Aku memang tidak membiarkan mereka makan makanan selain masakankku kecuali waktu – waktu tertentu, saat aku tak mampu memasak untuk mereka karena sakit contohnya, terlebih lagi si sulung Naura yang saat ini duduk di kelas 4 SD sangat sensitive dan memiliki beberapa alergi terhadap makanan tertentu seperti seafood dan kacang – kacangan.

Sebelum azan subuh berkumandang, aku membangunkan suami dan anak – anakku yang masih terlelap di tempat tidur, yang sulit terkadang membangunkan si kecil Raffa yang tak mau lepas dari selimutnya. Belum selesai pekerjaanku di dapur, aku harus menyiapkan keperluan sekolah putriku Naura dan putraku Raffa serta setelan kerja ayah mereka. Mandi pagi terkadang terlewatkan untukku, walaupun bajuku sudah setengah basah karena memandikan Raffa yang sering ngambek bangun pagi. Syukurnya Raffa bukan anak yang cengeng sehingga aku cukup tenang dengan hanya mengantarkannya menuju mobil jemputan sekolah TK-nya. sedangkan Naura sudah cukup mandiri untuk pergi ke sekolah sendiri dengan hanya dianter tukang ojek langganan, dan tugasku hanya menjemputnya berbarengan dengan menjemput Raffa setelah sekolah mereka selesai. Suamiku adalah seorang akuntan di sebuah perusahaan swasta, menjabat sebagai manager membuatnya harus berangkat pagi – pagi sebelum bawahannya mendahuluinya, ketika di meja makan pun ia harus makan sambil membaca koran dan selalu memintaku membuatkan kopi. 2 cangkir kopi di setiap pagi. Setelah cangkir kopi pertamanya kosong, lalu kubuat lagi di cangkir yang sama. Ia hanya ingin minum kopi yang langsung dibuat di cangkir bukan di teko. Setalah semuanya pergi dengan aktivitasnya masing – masing, aku bergegas pergi ke pasar, setelah itu beres – beres rumah, nyuci piring dan baju, dan tidak lupa membersihkan halaman depan yang harus di sapu setiap hari karena daun – daun kering yang berserakan dari pohon mangga di depan rumah. Begitu, berulang setiap harinya! Dengan rutinitas yang sama maupun tugas yang baru sebagai istri dan juga ibu dari 2 orang anakku.

***

Laki – laki itu memasuki rumah dengan langkah kaki yang nyaris tanpa suara, membuka pintu kamar dengan sangat perlahan. Dalam kegelapan laki – laki itu berusaha tidak berisik, yang paling sulit ketika mengambil baju setelan tidur di lemari dalam keadaan gelap, laki – laki itu pun memanfaatkan lampu handphone untuk membantunya. Gantungan baju yang jatuh menyebabkan bunyi yang memecah kesunyiaan di kamar itu, namun semuanya masih terkontrol dengan sangat baik piker laki – laki itu membantin. Laki – laki itu bergegas merebahkan dirinya ke atas kasur. Lalu tertidur, di samping seorang wanita yang juga tertidur dengan mata yang belum terpejam.

***

Hari ini terulang kembali, begitupun dengan aktivitasnya di dalam rumah. Seperti halnya mentari pagi seorang istripun menyinari keluarganya dengan sinar kasih sayang. Setelah mengantarkan kedua anaknya berangkat sekolah, Naoura dan Raffa. Anna kembali ke dapur, setelah selesai mencuci piring – piring bekas anak – anak sarapan, Anna kembali lagi ke bagian depan rumahnya untuk menyapu halaman. Pekerjaannya di pagi ini lebih awal selesai dikerjakannya, Anna berusaha membuat waktu beberapa jam menjadi lebih spesial dipagi ini agar bisa sesaat beristrirahat sebelum menjemput anak – anak siang hari. Dan sesuatu pun terjadi ketika Anna sedang asik merebahkan diri atas sofa yang baru dibersihkannya, terdengar suara teriakan dari dalam kamar. “Annaaaaa, An….!” Anna tidak berniat mendatangi sumber suara tersebut, tentu ia sangat kenal dengan suara Ega, suaminya.

***

Anna istriku, selepas subuh tadi aku kembali ingin tertidur.

Kamu mengertikan sudah hampir sebulan ini aku selalu pulang larut malam,

bangunkan aku pada pukul tujuh pagi ya.

Suamimu Ega,

Ega tidak ingin membangunkan istrinya yang telah terlelap tidur malam itu, dan ketika selesai sholat subuh di mesjid pun Ega tidak sempat melihat istrinya yang tengah sibuk di dapur, dengan inisiatifnya, Ega membuat pesan singkat yang dikirim ke hp istrinya, Anna.

***

“Anna, kenapa kamu tidak membangunkan aku ?” Suara Ega terdengar membentak, matanya membelalak terlebih setelah di liatnya jam di dinding menunjukan pukul 9.20

“Aku ada kerjaan di kantor pagi ini, seharusnya kamu membangunkan aku jam 7 tadi!” Anna masih terdiam membisu. Ega pun salah tingkah, ia masih ingin menuntut penjelasan pada istrinya, tapi juga harus siap – siap pergi ke kantor dan tentu ia harus mandi ? Ega terlihat bingung, mana yang harus dikerjakannya dulu, dan ia memilih ke meja makan, karena perutnya terasa sangat lapar. Setelah sarapannya selesai ega menuju kamar mandi, melewati istrinya Anna yang masih duduk terdiam di posisi sebelumnya, di atas sofa ruang tengah.

“Apa kamu tidak membaca pesan yang aku kirim ?”

“Baca,” jawab Anna singkat

“Lalu kenapa kamu tidak membangunkanku ?”

“Aku sudah membangunkanmu,”

“Seharusnya aku sudah bangun dan tidak kesiangan seperti ini!” kata Ega dengan nada kesal.

“Apa kamu sudah membuka handphone mu pagi ini ?”

“Mana sempat!”

“Aku sudah membangunkanmu!”

“Ah, kamu! Ini bukan waktu yang tepat untuk menuntut penjeralasan darimu! Kamu sudah mengacaukan kerjaanku pagi ini!” Ega kembali membentak dan membanting pintu kamar mandi.

***

Di kantor Ega langsung tenggelam dalam kesibukkannya di tengah – tengah tumpukkan berkas yang harus dipelajari dan ditandatangainya. Perasaannya masih sangat kesal! Gara – gara telat berangkat kerja, Ega tidak mengikuti meeting pagi ini dengan para pimpinan perusahaan. Ega khawatir ini akan berdampak pada karirnya nanti, walaupun laporan hasil rapatnya masih bisa ia dapat, tapi ketidakhadirnya pasti akan mengurangi penilaian kinerjanya di mata pimpinan. Sebuah pesan berbunyi, Ega membuka hanphone-nya, ada beberapa pesan di kotak masuk. Ia membaca satu persatu pesan itu, dan di urutan paling bawah di deretan pesan yang belum terbaca, Ega melihat sebuah pesan masuk dari Anna, istrinya.

AYOOOO, SEGERA BANGUN!

SEKARANG SUDAH PUKUL TUJUH PAGI

ISTRIMU, anna

Ega tertegun dan bertanya ? ada apa dengan sms ini ? tapi lebih tepatnya ada apa dengan istrinya ? kenapa istrinya mengirim pesan ini ? Ega ingin tersenyum, tapi tidak ada yang lucu ?. Untuk beberapa saat Ega terdiam, pikirannya melayang menuju rumahnya, dimana ia lihat istrinya bangun sebelum subuh, masak di dapur, melayani anak – anaknya, membuat secangkir kopi panas kemudian membuat lagi kopi di cangkir yang sama, menyapu halaman, dan ia teringat sesuatu dan tersadar ketika istrinya menyelimutinya setelah ia hampir terlelap di atas kasur setelah pulang kerja di setiap malamnya. Kemudian ia pun baru sadar hanya lampu kamar yang padam, namun lampu ruang keluarga dan dapur masih menyala, serta makanan yang masih hangat di meja dapur yang sering sekali hanya dilihat tanpa di sentuh. Ega membantin ? ada apa denganku ? aku memiliki seorang istri yang juga berkarir di rumah. Bahkan mungkin kerjaannya lebih banyak daripadaku ? tanpa pernah lelah ? apalagi mengeluh ? Ega menyentuh wajahnya yang basah oleh bulir air mata yang jatuh begitu saja. Ega menangis pilu atas pengabdian istrinya, merasa sangat menyesal pada dirinya yang tidak mampu membangun komunikasi yang baik dengan istri dan tentu juga anak – anaknya. Ega menangis, atas sifat dan ucapannya yang kasar pagi ini yang pasti telah melukai istrinya, hingga istrinya bersikap demikian. Ega menagis, dalam diam!

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s