Di Jalanan Aku Mengenal Kehidupan (Ayo, jalan!)

755d8415db7bc37d9c25a30e2de8c22dBagi sebagian orang berjalan kaki adalah aktivitas yang melelahkan, banyak diantara kita yang memilih menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum hanya untuk pergi ke pasar atau modern market di komplek sebelah yang hanya memerlukan waktu 10 – 20 menit dengan berjalan kaki untuk sampai. Sekali lagi, bagi sebagian orang dirasa sangat melelahkan atau bahkan buang – buang waktu. Ada yang lebih mudah dan praktis dengan hanya mengendarai kendaraan pribadi atau cukup membayar beberapa ribu dengan angkot untuk apa bersusah – susah jalan kaki sehingga menyebabkan pegel atau keringat melekat di badan. Sekali lagi, itu bagi sebagian orang. Dan lihatlah betapa kita dimanjakan dengan fasilitas pribadi seperti motor ataupun mobil, bagi kita yang mungkin tidak terpengaruh naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) setidaknya ingatlah polusi udara yang sudah kita sebarkan lewat asap kendaraan itu.

Tidak mudah memang berjalan kaki di kota besar seperti Jakarta yang tak pernah sepi oleh lalu – lalang kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Mungkin diantara kita sudah pernah ada yang mengalami, ketika kita berjalan di trotoar jalan atau pinggiran jalan khusus pejalan kaki dengan serampangannya kendaraan bermotor yang seperti tak mau mengalah menerobos jalan kita. Hak pejalan kaki yang dirampas oleh kendaraan beroda dua menimbulkan problem serius yang harus disikapi para pejalan kaki dengan ekstra sabar dan ketegasan! Halangi saja jalannya. Dan jangan biarkan kita sebagai pejalan kaki mudah mengalah bila hak kita dirampas. Masih banyak masalah para pejalan kaki yang belum dapat nyaman berjalan di tempat – tempat umum, belum lagi masalah para pedangang kaki lima yang tak pernah habis – habisnya tumbuh dan berkembang. Walaupun begitu, berjalan kaki seharusnya merupakan aktivitas yang menyenangkan yang baik bila secara rutin dikerjakan oleh kita, mengingat manfaatnya bagi kesehatan (dapat menurunkan berat badan loh!) juga penghematan bahan bakar dan yang paling penting dengan berjalan kaki kita dapat turut serta mengurangi polusi udara.

Selanjutnya “ada apa dengan berjalan kaki ?

Sebenarnya saya ingin bercerita tentang kebiasaan saya belakangan hari ini yang secara rutin berjalan kaki selepas keluar kantor dan balik pulang ke rumah. Kantor saya terletak di Jl. Kramat asem, Matraman – Jakarta Timur dan rumah saya di johar baru – Jakarta Pusat. Seberapa jauh ? entahlah, saya memerlukan waktu satu jam untuk sampai ke rumah. Bisa dibayangkan ? bagi sebagian orang mungkin terdengar menyedihkan ? bahkan ada yang khawatir bahwa dikiranya saya tidak punya cukup uang untuk naik angkot sehingga harus berjalan kaki dengan jarak yang cukup jauh tersebut. Saya senang dengan perhatian mereka, walaupun sejujurnya kenaikan BBM berpengaruh cukup besar di ongkos harian dan keuangan pribadi saya. Tapi sekali lagi saya tegaskan bukan itu alasannya. Berjalan kaki sejauh itu bukankah sangat pegal dan melelahkan ? Yupp, pada awalnya dipertengahan jalan telapak kaki akan sangat kaku seperti mati rasa, lecet dibagian jari kaki juga sedikit menghambat karena pemakaian sepatu karet yang biasa saya pakai, dan saya harus rehat sejenak untuk kembali meneruskan perjalanan bila ingin dampak yang dirasakan tidak terlalu parah nantinya, dan ketika sampai di rumah saya harus merebahkan kaki atau selonjoran lalu menggoyang – goyangkan kaki pada saat diluruskan untuk melemaskan otot – otot kaki yang tegang, dengan sedikit pijitan atau pukulan ringan di bagian kaki itu akan sangat melegakan. Tenang saja, selanjutnya untuk keempat hari dan waktu – waktu selanjutnya hal itu sudah tidak akan terasa, mungkin karena sudah terbiasa.

Berjalan kaki bagi saya sekarang ini adalah aktivitas menyenangkan bahkan luar biasa ? kenapa bisa begitu ? karena selain saya meyakini bahwa itu menyehatkan (sudah dibuktikan! Badan terasa lebih vit, salah satunya karena berat badan berkurang) juga karena dengan berjalan kaki akan saya temui hal – hal baru setiap harinya, pengalaman – pengalaman yang mengesankan dan membuat pikiran lebih refres dan releks (Begitupun menurut banyak penelitian, bahwa dengan berjalan kaki akan mampu menghilangkan stress) tapi berjalan kaki dapat membuat betis menjadi besar ? berjalan kaki tidak serta merta membuat betis menjadi besar secara ekstrim, tentu hal ini akan berkaitan dengan berat badan, bila berat badan bertambah betis pun akan semakin besar dan sebaliknya, bukankah begitu ? berjalan kaki faktanya terhadap betis adalah dapat mengencangkan otot betis yang telah ada. Masih penasaran ? bisa dibuktikan sendiri!.

Berjalan kaki bukanlah aktivitas yang membosankan, saya sama sekali tidak merasa bosan dengan kegitan itu. Bagaimana tidak ? setiap harinya saya mendapatkan catatan baru dalam lembar kehidupan saya. Seperti bagaimana saya berjalan menapaki setiap jengkal bumi Allah, bertasbih padaNya, memuji namaNya atas setiap keindahan dan keunikan yang tercipta dari hal yang kecil. Ketika berjalan saya melihat dan memperhatikan ekspresi – ekspresi manusia sampai dengan kegiatan yang dilakukan mereka. Akan banyak saya temui orang – orang yang dengan kesibukan mereka yang tanpa mereka sadari telah mengajarkan saya banyak hal tentang kehidupan ini.

Saya melihat seorang kakek tua duduk termangu menatap entah kemana ? entah tengah melihat dan memperhatikan apa ? yang jelas saya melihatnya dan tanpa sadar meneteskan air mata. Gurat – gurat kesedihan tersembunyi di bola matanya yang telah katarak. Dua kotak yang biasa dipikulnya secara seimbang dengan sebuah tongkat tergeletak hampa di samping kanan dan kirinya. Saya tahu kakek tua itu adalah tukang patri keliling yang berharap ada panci bolong yang dapat diperbaiknya. Kakek tua yang sering saya bayangkan sebagai ayah saya, kakek saya atau bahkan buyut saya. Saya sadari kemudian, mengapa saya menangis saat itu, bahwasannya saya bukan tengah menangisi kakek tua itu tapi tengah menangis diri saya yang tak berdaya.

Banyak hal konyol yang dapat saya lihat dalam perjalanan, seperti seorang pejalan kaki yang menerka – nerka kapan kendaraan – kendaraan di jalan raya akan hilang sesaat atau melaju dengan lambat agar pejalan kaki itu bisa menyebrang di tengah jalan raya yang padat, lucunya adalah jembatan penyebrang ada di atasnya. Bukankah dia tengah menantang maut ? atau saya kadang curiga orang itu mungkin sedang melakukan percobaan bunuh diri ?. Lain lagi dengan para pengendara sepeda motor dan mobil yang setengah kesabaran dalam hidupnya seperti telah hilang sehingga yang tersisa hanya emosi yang membara saat menenteng kesombongan untuk saling dulu – duluan dan adu kecepatan di jalan, tak akan ada saling mengalah dengan supir angkot yang nguber setoran yang akan dengan mudah sumpah serapah keluar dari mulutnya kepada pengguna jalan lainnya, padahal mereka tak kan mampu lepas dari kemacetan ibu kota yang semakin parah. Sungguh, alangkah lucunya!

Ketika lelah berjalan, saya akan melihat tukang buah, tukang es cincau, tukang gorengan, tukang pangsit, tukang baso, tukang cireng goreng, dan masih banyak lagi tukang yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, yang jelas mereka lagi mangkal. Dan ketika rasa lelah menggelayutimu, apa yang dijualnya sama sekali tidak akan membuatmu berniat membelinya, itu yang terjadi pada saya. Tapi anehnya lelah saya berkurang, melihat mereka seperti menambah semangat saya untuk terus berjalan, saya perhatikan setiap dari mereka juga lelah, lalu saya akan tersenyum dan berkata pada diri saya sendiri ‘itulah hidup’. Dalam kehidupan ini, setiap kita memiliki jalan yang berbeda – beda dan dengan lakonnya masing – masing menjalani kehidupan. Sering kali setiap orang adalah cermin yang dapat membuat kita berkaca diri dan melihat diri sendiri yang telah dianugrahkan karunia yang teramat besar dengan daya yang sangat besar, dengan modal yang sangat besar yang telah diberikan oleh Yang Maha Besar, seharusnya dengan begitu kita berfikir tidak sempit dengan hanya memperhatikan diri sendiri sehingga sering kali malah membuat kita sombong dan ketika apa yang kita cari dalam kehidupan ini tidak kita temukan lantas kita putus asa ?. Perlunya rasa syukur adalah untuk menambah kenikmatan yang telah ada menjadi lebih nikmat. Ada kenikmatan yang saya rasakan ketika berjalan kaki, walaupun lelah mendera, akan banyak hikmah yang dapat dikumpulkan meskipun sekecil debu di jalanan.

Saya tersenyum, pemandangan yang membahagiaankan ketika saya melihat seorang pria setengah baya menggandeng tangan mungil dari seorang gadis kecil dan mereka menyeberangi jalan dengan sangat hati – hati di zebra cross, saya pikir mereka ayah dan anak. Mereka terlihat melepar senyum dan kebahagiaan terpancar dari wajah mereka. Ah, saya jadi ingat bapak saya di rumah yang tengah menunggu saya dan telah menyiapkan masakan spesialnya untuk putri sulungnya ini, saya sudah sering bilang untuk tidak mengapa bapak makan malam duluan atau tak mengapa bila tak ada makanan yang dimasak untuk anaknya ini, tapi ia selalu bilang kalau bapak makan yang diinget pasti anak duluan, mesti lagi apa ? (dia sebutkan anaknya satu per satu), udah pada makan apa belum ? dan kekhwatirannya kalau – kalau putrinya ini jalan kaki. Lagi! Saya selalu punya rasa bersalah untuk aktivitas saya ini kepada bapak yang sangat tidak setuju melihat putrinya ini jalan kaki dari kantor ke rumah. Kalau bapak sampai tahu, dia akan sangat marah dan ngedumel setiap waktu lalu memberi anaknya ini uang atau kembali diwajibkan untuk anter – jemput! Dan ini akan membuat saya tidak nyaman karena merasa sebagai anak belum mampu sepenuhnya membahagiaakan bapak tapi sudah menyusahkan. Olehkarena itu, saya meminta adik – adik saya untuk tidak memberitahukan hal ini kepada bapak. Begitupula dengan kalian bukan ? keep silent 😉

Lagi – lagi saya dibuat merana oleh perasaan saya sendiri ketika di jalan, saat yang saya lihat adalah para pemulung yang tengah mengorek – ngorek tumpukan sampah seolah yang dicarinya adalah emas. Pemulung dari yang anak kecil, ibu – ibu yang menggendong anaknya, anak muda sampai kakek dan nenek tua yang saya lihat duduk menyender di bawah pohon sambil bersantai seolah tengah berada di pantai sedangkan disampingnya adalah tempat pembuangan akhir sampah. Lalu saya berfikir, bagiamana mereka hidup ? berapa banyak pakaian ganti mereka ? sedangkan yang mereka kenakan adalah pakaian kumel, dekil dan compang – camping ? saya bertanya – tanya dimana mereka tinggal ? sedangkan di dekat mereka banyak kardus digelar ?. Dan ketika itu, saya menuntut diri saya untuk bersyukur ? bersyukur bahwa saya dapat hidup di sebuah rumah dengan keluarga bahagia, dengan pakain ganti di dalam lemari – lemari, dan dengan kenikmatan lainnya yang saya rasakan dan belum tentu tidak untuk mereka! dan saya menuntut diri saya sendiri untuk bersyukur! BERSYUKUR ?? namun hati saya menolak!, kenapa ? kenapa seolah saya tengah bahagia diatas penderitaan orang lain, saat saya menyukuri apa yang saya miliki dan melihat mereka maka sifat cengeng saya merengek lalu menangis. Entahlah ? ada hal – hal yang saya tidak mengerti!

Begitulah perjalanan saya dari kantor ke rumah selepas kerja, buat saya perjalanan ini walaupun singkat tapi sangat menarik, bermanfaat dan penuh hikmah, bukan sekedar aktivitas yang hanya membuang – buang waktu. Perjalanan ini seperti halnya berjalan dalam lika – liku kehidupan, yang bila tak pandai – pandai kita menjalaninya, maka hanya lelah yang akan kita rasakan sedangkan perjalanan hidup ini begitu panjang dan untuk sampai pada tujuan kita perlu iman dan keteguhan. Innallaha ma’ana. Aamiin.

Iklan

2 pemikiran pada “Di Jalanan Aku Mengenal Kehidupan (Ayo, jalan!)

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s