Suarahati Sang Supir Angkot

Walikota Bandung Ridwan Kamil menunggu penumpang di balik kemudi angkutan kota Dago-Kebon Kalapa di Terminal Dago, Bandung, Jawa Barat (20/9). Walikota Bandung menjadi supir angkot dalam pelaksanaan Angkot Day di Bandung. TEMPO/Prima Mulia

Walikota Bandung Ridwan Kamil . Sumber : TEMPO

Pagi ini adalah salah – satu pagi yang paling indah dalam beberapa bulan terakhir (setidaknya dalam kehidupanku), karena hujan semalam membuat daun – daun basah yang selalu kurindukan sejak musim kemarau berbau harum menyeruak dalam penciumanku, juga udara dingin dan sedikit bersih karena hujan menyapu sebagian besar asap polusi. Aku merasa ketika hujan turun membasahi bumi, maka sedikit kehidupan menjadi lebih ringan. Aku menikmati sinar mentari pagi yang juga memberikan kehangatan pada beberapa orang di pinggiran jalan seperti diantaranya; pemulung, penjual barang kelontongan dan tukang patri, ya kutemui kakek tua itu lagi, dari semalam aku masih saja mengingat tukang patri yang menjual jasa untuk memperbaiki alat – alat rumah tangga yang kulihat kemarin sore, mana mungkin aku melupakannya, aku merasa bersalah karena meminta Tuhan menurunkan hujan yang besar agar aku tidak lagi kepanasan tapi disisi lain hujan malah menusuk beku sebagian orang seperti tukang patri itu.

 

Aku naik angkot biru, tapi penuhnya penumpang memaksaku duduk di bagian depan bersebelahan supir. Aku tidak mengerti -hampirselalu- ketika aku duduk di depan sebelah supir, para tukang angkot itu mengajakku ngobrol padahal aku selalu menutup rapat mulutku untuk tidak menanggapi sebagian dari mereka, aku hanya tetap menyimak dan sesekali mengagguk, dan dipagi ini supir angkot itu mengajakku ngobrol dan aku menikmati itu.

“Di Jakarta ini, waktu akan habis di jalan. Bukan karena semakin sempitnya jalan, tapi banyaknya mobil dan kendaraan lain. Banyak orang kaya yang menganggap mobilnya lebih berharga dari pada manusia. Oh jakarta!” Aku menolehkan kepala ke supir angkot itu (seperti orang kaget), aku yang mendengernya seperti ia seorang punjangga atau ini hanya hiperbolaku saja, apapun itu aku mendengarnya demikian, dan ia mulai bersuara kembali.

“Pemimpin itu harus punya pemikiran kedepan, 5 tahun kedepan harus bagaimana ? jangan hanya bikin project – project melulu, emangnya bikin project gak pake biaya ? pake kartu githu ! Yang susah siapa kalau githu ? kan rakyatnya, kemakan kartu. Kalau kata pemimpin mah gue mah genteng! Adanya diatas, ya kalau bocor dibawah yang kerendem” Aku masih menyimaknya, perjalananku menuju kantor sepertinya akan seru!

“Coba liat katanye jakarta akan bebas banjir, dibikinlah project baru benahin kali, emangnya kali banjir ? yang ada buat pelebaran kali 3 meter kesamping kiri dan kanan, nah tuh! Lagi – lagi yang dijadiin korban orang – orang yang udah bangun rumahnya dari kayu yang harus merima nasib di gusur! Kalau kontraktor dan orang – orang ntu mah demen pemerintah banyakin project, kaya butuh 100 karung buat beli semen, laporannya sih bergitu! Nah dia beli deh tuh 50 sisanya masuk ke kantong! Lah kita ? makan derita!” Supir angkot yang tak kuketahui namanya itu berbicara dengan nada suara dari rendah ke tinggi, membuatnya nampak seperti orang yang protes kian lama, atau memang begitu?. Sang supir angkot tengah menyuarakan kegundahannya sebagai rakyat yang tertekan dengan harga bbm yang naik, mungkin yang lebih merisaukannya adalahlah harga kebutuhan pokok lainnya. Ah, aku jadi ingat harga cabe 70 ribu perkilo.

“Katanya keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia, di sekolah negeri biaya gratis, nah itu tetangga saya harus nyekolahin anaknya ke sekolah swasta disuruh bayar dulu 500 ribu buat uang pendaftaran. Lah, udah miskin ketimpa tangga punya anak bodoh. Apanya yang adil ? pemerintah dong bikin sekolah swasta yang gratis! Pake kartu pintar bisa kale ya ? “ Supir angkot itu menengok ke arah saya, karena saya rasa sulit menjawabnya dengan jawaban yang pas, saya menolehkan pandangan saya ke kiri, mobil – mobil mewah itu berderet dalam kemacetan kota Jakarta.

“Tugas guru mengajar, tugas murid belajar, nah tugas orang tua kudu ngerti sama kantong guru, supaya guru gak hanya makan ikhlas! Karena sekolah di jakarta pada mahal dan anak saya gak bisa masuk sekolah negeri, saya masukin deh tuh anak laki – laki saya ke pesantren di gunung. Sekarang sih lagi ada di rumah tuh, kerjaannya apalin surat – surat al- qur’an, udah 7 jus diapal, senengnya bukan maen saya! Semalem pan hujan, dia kagak ke mesjid, saya suruh deh tuh jadi imam solat berjamaah di rumah, tambah seneng saya! Merdu banget suaranya, makhroj hurufnya kagak ada yang salah. Dia baca surat Al –baqoroh, ampe pegel saya sholat.” Saya kembali tertegun dengan cerita bapak supir angkot yang saya tak tahu namanya ini, tidak menyangka sama sekali, tidak menyangka bapak ini mempunyai anak yang sholeh seperti yang ia ceritakan, Masya’Allah!

“Saya bilang ke anak saya, nak kamu pasti masuk surga! Tapi saya kaget denger jawaban anak saya! Dia bilang, Aku gak bakal masuk surga, kalau bapak di nereka. Nagis saya denger jawaban anak saya itu. Saya tahu saya orang bodoh, saya pun gak mau punya KTP kalau di KTP itu gak identitas agama saya! Saya islam bukan hanya di KTP. Kalau di KTP itu ada alamat rumah saya, agama saya pun identitas saya.”

Tiba – tiba saya menyela, “Maaf pak, utan kayu udah lewat ya ?” dan sepertinya ya! Karena keseruan ini membuat saya sesaat kehilangan arah menuju kantor. Syukurnya, jam di tangan masih menujukan 7.30 dan masih belum terlambat. “Iya neng, jalan balik aja! Gak jauh kok” kata abangnya, dan saya pun turun dengan membayar ongkos tanpa kembalian seperti biasanya, karena harga angkot sudah naik 1000 rupiah. Dan kali pertama saya berusaha menerima semoga saja kenaikan ini dapat bermanfaat bagi mereka yang hanya pasrah dan tak keilangan arah untuk terus mencari penghidupan yang lebih baik”….Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan kalau mereka mengetahui.” (QS al-Ankabut [29]: 64).

Iklan

2 pemikiran pada “Suarahati Sang Supir Angkot

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s