Renungan Bagi Para Pasangan Baru

b75ccec6d5dd90f6e59680cc035fd28dSetelah beberapa hari menikah status hubungannya di facebook langsung berubah dari single menjadi menikah diserta nama pasangannya. Tidak ada yang salah, wajar – wajah saja, para pengguna facebook atau jejaring sosial lainnya biasa begitu. Setelah itu hampir setiap hari membagikan tautan yang di tag/ Cc ke pasangannya, status – status mesra mulai merambah kronologis facebook, seperti Lagi nungguin mamas suami… sesuatu ya, kangen suami tercinta, bersama suami tercinta dan interaksi lainnya bersama pasangan. Maklum pengantin baru, serasa facebook itu dinding rumah yang bebas dicorat – coret sesukanya ( padahal mah dinding rumah sendiri sayang ditulis – tulis, maklum masih ngontrak 😀 ). Sekali lagi tidak ada yang salah, hal itu menjadi hak masing – masing setiap induvidu, ya paling kalau ada lebay – lebay dikit jadi agak menggangu bagi orang lain seperti melihat seseorang tengah mempermalukan dirinya sendiri, seperti ke-nora-an diawal karena ada loh yang sampe urusan dapur, kasur dan sumurnya ikut di ekspos ke media sosial.

“Apa yang Anda pikirkan” begitulah kolom pembaharuan status di facebook, oleh karena itu seseorang hanya menuliskan apa yang ia pikirkan dan tidak memikirkan apa yang akan dipikirkan orang lain ketika status itu terkirim ke kronologi mereka, hanya sedikit orang yang memikirkannya. Di jejaring sosial seperti facebook tidak ada yang namanya menjaga perasaan orang lain, mengatasnamakan kebebasan para penggunanya, setiap orang bebas bercerita, berbagi dan atau menyombongkan diri sendiri dengan segala aktivitasnya. Seperti penuturan diawal tentang sepasang ‘pengantin baru’ yang tengah diliputi kebahagiaan, tapi bagaimana dengan seseorang masih berstatus single or jomblo (ya Ngeness!) melihat interaksi kemesraan pasangan baru itu?. Menurut Anda yang masih sendiri ? pasti ada perasaan iri atau berharap dapat segera seperti mereka melepas masa lanjang dan menemukan jodoh idaman bukan ?. syukur – syukur menjadi motivasi agar ikut bersegera bagi yang siap dan mampu. Dan bagaimana bagi yang sudah siap tapi belum mampu, sepertinya makin merana.

Terlalu banyak dari mereka yang sudah menikah tidak mampu menghargai perasaan yang masih belum menikah, menganggap bahwa itu bukan urusan mereka ? itulah sikap induvidualistik, egois, sikap acuh tak acuh terhadap orang lain, relasi sosial yang renggang dan masing – masing orang lebih menjaga self safety tanpa mau peduli dengan nasib yang dialami orang lain. Lain lagi bila di dunia nyata akhirnya bertemu pertanyaan yang paling pertama ditanya pengantin baru kepada para single adalah pertanyaan kapan nyusul ? ditambah mengkompori situasi hingga makin membakar sang bujangan atau para gadis. Padahal seharusnya pasangan baru itu mendoakan para sahabat atau saudara mereka yang belum menikah dengan doa terbaik, terlebih lagi mengingat banyaknya doa – doa dari orang – orang saat pernikahan mereka. Tentunya selain itu banyak hal yang bisa mereka lakukan daripada pamer kemesraan di depan khalayak ramai, seperti membantu beberapa teman yang masih single untuk diperjodohkan dengan teman – teman pasangannya menjadi perantara perjodohan atau mak comblang antar sesama teman begitu ? perbuatan seperti itu dalam Al – Quran merupakan tugas mulia, mempertemukan 2 orang untuk saling – mengenal kemudian menikah “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan AllahMaha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (Q.S. An-Nur ayat 38)

Namun sebelumnya ada hal – hal yang perlu diperhatikan oleh mak comblang/ perantara diantaranya:

  1. Berniat hanya karena Allah. Ikhlas dalam membantu mempersatukan dua orang yang berniat menikah karena beribadah, tidak mengharapkan pamrih apa pun dari pasangan yang diperjodohkannya.
  2. Mencomblangi pasangan yang berorientasi untuk nikah, bukan untuk pacaran. Seseorang yang menunjukkan kebaikan, maka ia akan memperoleh kebaikan pula. Dan orang yang menunjukkan pada keburukan maka ia akan memperoleh keburukan itu juga.

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah bersabda: “ Barangsiapa menyeru kepada hidayah (petunjuk) maka ia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa yang mengerjakannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” (HR Muslim)

  1. Mak comblang harus mengenal betul karakter pasangan yang dicomblangi.
  2. Mak comblang harus mempunyai pandangan kalau pasangan yang akan dicomblangi tersebut sekufu. Dalam hal ini dilihat dari segi kafaah terutama agamanya untuk meminimalkan ketidakcocokan pasangan tersebut.
  3. Mempertemukan dan mengenalkannya harus sesuai syariat.

Walaupun menjadi perantara itu tidak mudah, tapi itu merupakan salah satu ladang amal bagi kita khususnya para pasangan yang telah menikah. Untuk para pengantin baru hal ini bisa menjadi renungan bersama dan pelajaran bahwa daripada membuat iri dengan sengaja atau ttidak, daripada masak air di atas kompor (mengkompori) lebih baik berburu banyak kebaikan yang akan berlipat ganda karena dilakukannya bareng pasangan.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s