Cinta Seratus Persen Sempurna

7d421f9c0de778f1ed3a5839a6af39b0Aku bukanlah cinderella yang meninggalkan sebelah sepatu kaca, agar seseorang segera menemukanku (jodohku). Aku sadar siapa diriku. Aku tidak secantik ratu Balqis, tak setulus Zulaikha, pun tak sekuat Siti Hajar maupun semulia Siti Khadijah ataupun setabah Fatimah. Ketika diriku dilanda cinta, aku khawatir tak mampu seperti Lyla yang menyembunyikan segenap rahasia cinta dalam dirinya, Lyala yang rela mengorbankan diri bagi orangtua, bagi tradisi, sekaligus menjaga ketaatannya pada suami, sedangkan disisi lain menyembunyikan kemurnian cintanya bagi majnun. Layaknya wanita, sesungguhnya aku hanya ingin dicinta, cinta yang seratus persen sempurna.

Mulanya, aku kira cinta yang seratus persen akan kudapatkan dari seorang laki – laki yang kucinta, yang mencintaiku. Akan tetap aku tidak ingin membangun kenyataan lewat dongeng maupun mimpi belaka. Saat ini, ketika aku kembali membaca hatiku, mempertanyakan kembali cinta yang aku inginkan, aku menemukan kenyataan bahwa cinta yang seratus persen sempurna adalah ketika aku sungguh – sungguh ingin mencintai pemilik cinta yang sesungguhnya.

Berikan cintamu untuk Allah, maka allah yang akan menemukan pemilik hati terbaik untuk cintamu. Itulah yang aku yakini, sebagaimana aku meyakini firman Allah dalam kitab-Nya.

“Barang siapa yang mengerjakan amalan soleh, baik lelaki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang sudah mereka kerjakan.” (Surah an-Nahl, ayat 97)

Awalnya aku selalu dikhawatirkan dengan siapa ? siapa yang akan mencintaiku ? siapa yang akan aku cintai ? siapa yang dengannya aku dapat hidup bersama selamanya bahkan sampai ke jannah. Aku bertanya, berkata – kata pada hatiku, aku ingin seseorang yang memang pantas untuk aku perjuangkan, siapa yang pantas itu ? Dia yang memperjuangkan agamanya, dia memperjuangkan cinta-Nya, sampai ketika pasrah pada kehendakNya.

Hidup bersama dengan seseorang yang mungkin baru kita kenal (misalnya melalu proses taaruf) bukanlah hal mudah, bahkan diawal terlalu banyak pertanyaan – pertanyaan di kepala seperti; bagaimana kita bisa mencintai seseorang yang sedemikian asing ? bagaimana berbagi bersamanya dalam segala keadaan susah maupun senang ? bagaimana mendahulukan kepentingannya diatas kepentingan dan keinginan pribadi ? bagaimana menerima kekurangannya atau memperbaik atau melengkap apa yang dirasa kurang sempurna darinya?. Mungkin salah satu hal yang bisa didefinisikan dari proses itu adalah awalnya penderitaan dan akhirnya adalah kesungguhan, menyatakan cinta itu sangat mudah, tetapi menyayangi, memelihara, dan memupuknya, teramat membutuhkan kesungguhan. Seiring waktu cinta sejati akan bersemi dalam sebuah rumah tangga yang berlandaskan Tauhid.

“Tali iman yang paling kuat adalah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah.” (HR. At-Tirmidzi).

Cinta tak akan membutakan, tetapi membuka gerbang – gerbang rahasia menuju kehidupan yang berharga, dan menuntun pemiliknya untuk dapat melangkah meski bila tak memiliki sarana. Cinta sejati yang akan menuntunmu pada kebahagiaan, dan hanya yang saling mencintai karenaNya yang kelak akan kembali dipertemukan.

Dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda: Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu Pemimpin yang adil; Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah semasa hidupnya; Seseorang yang hatinya senantiasa terpaut dengan Masjid; Dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah kerena Allah; Seorang lelaki yang diajak oleh seorang perempuan yang cantik dan berkedudukan untuk berzina tetapi dia berkata, “Aku takut kepada Allah!”; Seorang yang memberi sedekah tetapi dia merahasiakannya seolah-olah tangan kanannya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kirinya; dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sunyi sehingga bercucuran air matanya. (HR. Bukhari dan Muslim).

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s