Izinkan Aku Pacaran

3bd9aba088e0644a65cf43f029b7d2e9Aku mencoba menahan getir, tapi air mata tumpah tak tertahankan. Kemudia aku ingat sepenggal ayat “tawashau nil haqqi dan tawashau bis shabri“ saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Baiklah, aku akan berusaha semampuku, berdoa dan setelahnya aku pasrahkan kepada Allah. Tiba – tiba saja masa – masa SMA terbayang di kepalaku seakan memutar kaset lama, semuanya sangat jelas.

Aku baru active di Rohis justru di masa – masa akhir kelas tiga, selain menjadi anak rohis, aku terlebih dahulu menjadi ketua OSIS, dan itu pulalah yang mendekatkan aku dengan anak – anak Rohis terkait kegiatan kerohanan islam. Anak – anak Rohis banyak membantuku untuk jadi Mesti Farah yang ‘baru’, mulai dari cara berhijab yang syar’i, shalat dhuha, sampai dengan pergaulan antara ikhwan – akhwat yang ternyata punya batasan yang harus dijaga.

 

Suatu ketika aku protes terhadap mereka terkait adab dalam rapat dimana antara ikhwan – akhwat wajib dibuat sekat (hordeng berwarna hijau atau bekas spanduk) atau duduknya yang berjarak cukup jauh hingga terkadang aku juga gak kedengeran tuh ikhwan ngomong apa ?, pokoknya aku bilang, “Untuk apa sih pake hordeng segala, kan ribet !” tapi seiring waktu aku mulai paham, bagaimana adab yang baik berinteraksi dengan lawan jenis. Mereka, anak – anak rohis yang mengajarkan aku banyak hal, salah satunya seorang akhwat, panggil saja dia ‘Sasa’ (nama samaran).

Sasa adalah salah satu akhwat yang aku teladani, sikap wara’ melekat dalam kepribadiaannya, dia selalu berhati – hati dalam bertindak dan bertutur kata, dia melakukan sesuatu berdasarkan ilmu yang dia pahami jikalau ada sesuatu yang baru yang dia pertanyakan pertama kali adalah landasan Al- qur’an dan al – hadist, pakaian yang dia kenakan pun menjadi contoh buatku seperti hijab yang menutup dada, baju yang tidak ketat atau transparan dan menggunakan kaos kaki dan kaos tangan (maksudnya manset). Kini, Sasa tepat dihadapanku, tangannya menggengam erat tanganku, wajahnya penuh harap.

“Aku yakin kita bisa saling menjaga, kita gak akan macam – macan, kita sama – sama tahu batasan agama. Dia seseorang yang religious kok, aku banyak mendapatkan ilmu baru darinya, dia juga gak kaya kebanyakan ikhwan centil, dia punya sikap mengayomi,”

“Hubungan seperti apa yang memang kalian inginkan ?”

“Kita serius, dia lagi nabung untuk pernikahan kita nanti. Aku setuju, mungkin dua atau tiga tahun lagi. Aku juga kan harus menyelesaikan kuliahku,”

Aku mengela nafas perlahan, menutupi gejolak hatiku yang terbakar, betapa sedih aku mendengar penuturannya. Mereka akan saling menjaga ? menjaga iman untuk tidak tergoda pada tipu daya setan ? Jika mereka yang pacaran tahu batasan agama bukankah dalam agama islam tidak ada yang namanya pacaran ?

            “Kamu bukan sedang meminta persetujuanku untuk pacaran kan ?”

            “Aku hanya ingin kamu mengerti tentang apa yang aku rasakan saat ini, hanya itu.” Ya, aku tahu posisi diriku hanyalah sebagai seseorang yang pabila aku melarangnya, mungkin aku akan dikatakan sok suci, hal itu sebenarnya tak mengapa dibandingkan bila Sasa menjauh dariku, aku rasa itu malah akan membuatku semakin sulit untuk kembali menuntunnya pada komitmen awal yang pernah kita buat bersama yaitu ‘tidak berpacaran sebelum halal’. Saat ini aku diharuskan untuk bersikap sabar dalam menasehati saudaraku yang saat ini sedang dibutakan oleh ‘cinta’ walaupun aku tetap meyakini bahwa dalam islam tidak diperbolehkan pacaran, tapi bagaimana jadinya bila aku mengatakannya dengan keras saat ini ? Sasa pasti tidak akan menerima karena hatinya tengah dipenuhi dengan bunga – bunga asmara.

“Itu pilihanmu, tapi sebagai teman bolehkah aku mengajukan sebuah syarat”

“Syarat apa ? kenapa harus pake syarat – syaratan ?!”

“Bukankah kita sahabat,”

“Tentu”

“Syaratnya kamu harus bisa menjaga matamu, hidungmu, mulutmu, tanganmu, dan kemaluanmu. Yang terutama, kamu harus bisa menjaga hatimu. Ketika kamu ingat pacar, maka kamu harus ingat kepada Allah. Sebaliknya, jika kamu sedang ingat kepada Allah, harus lupa pada pacar. Kalau kamu belum bisa menjaga diri seperti itu ? sebagai sahabat aku meminta mu memikirkan kembali keputusanmu!”

                                                                       ***

Sudah 3 tahun berselang semenjak keputusannya untuk menjalin kasih dengan seorang pria yang ia yakini adalah jodohnya. Kami sering mengatur janji bertemu, dan selalu disetiap pertemuan kami yang tidak pernah absen dari obrolan kami adalah tentang hubungannya yang sampai dengan saat ini belum diresmikan secara agama, jangan tanyakan padaku apa saja yang mereka lakukan saat berpacaran ? aku bukannya tidak mengingatkannya untuk selalu bersikap hati – hati terhadap pria manapun yang belum berstatus suaminya. Aku bahagia melihatnya bahagia, walaupun kini kebahagianku bercampur kepiluan, tapi Sasa tetaplah sahabatku, walaupun pendapat kita saling berseberangan terlebih lagi tentang batasan berkawan antara ikhwan dan akhwat. Yang jelas aku selalu mengingat bahwa aku pernah mengenal Sasa yang dulu istiqomah di jalan dakwah, muslimah yang menjaga diri dan agamanya dan berharap ia kembali.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s