Tukang Patri

Ropik tukang patri kelilingKeluar kantor jam 4 sore setelah seharian ini bergulat pada pekerjaan yang menumpuk rasanya kepala pening, jalan pun terasa gontai, menuju tempat pemberhentian metromini M35. Di pertengahan jalan saya melihat seorang laki – laki tua duduk di pinggiran jalan depan sebuah rumah mewah. Saya perhatiin wajahnya terlihat lelah bahkan pucat, saya pun tetap jalan dan melewati kakek tua itu, dalam hati saya kok seperti menahan perasaan sedih, sambil jalan sambil mikir sepertinya itu tukang wantek (jasa pewarna pakaian/baju/ jeans), saya teringat mempunyai werpak dan rok yang saya ingin rubah warnanya jadi warna merah, kaki ini tetap melangkah dan tetap mikir berapa ya kira – kira harganya ? terus kalau kakeknya kembali lagi besok di tempat dan jam yang sama mau gak ya ? berhenti enggak – berhenti enggak sebenarnya sih keinginan saya merubah warna pakaian dengan wantek gak penting – penting amat tapi saya kasian.

Setelah bergulat dalam pikiran dan ngedumel dalam hati atau istilah lainnya ‘perang batin’, saya pun balik lagi ke arah kakek tua tersebut, lumayan jauh sih tapi yaudahlah saya yakin In sya Allah, bahkan ada seorang bapak – bapak yang menegur saya “eh, si eneng balik lagi ?” saya cukup senyum. Sesampainya di hadapan kakek tua wah bener kan, ini pasti tukang wantek, pikir saya saat melihat peralatan yang dibawa kakek tua itu seperti besi kecil – kecil dan semacam ember kecil dari bahan besi pula, , tapi kok ? waduh saya ragu lagi ? saya langsung tanya deh “Kek, tukang wantek kan ?” kakek tua itu terseyum dan berkata; “Apa?” tanya saya lagi, saya gak kedengaran, kakek itu berkata lagi lebih keras tapi tetap terdengar lemah “Bukan nak, Patri!” kakek tua itu mengulangi lagi “Tukang patri.” Oh saya masih terlihat kaya orang bingung tapi kakek itu tersenyum, semakin jelas kerut – kerut di wajahnya, kakek itu memiliki wajah yang teduh, sebelah kanan matanya terlihat berbeda dengan mata kirinya, yang kanan matanya seperti mata kakek saya yang terkena katarak, bola hitam dalam matanya hampir tertutupi dengan warna putih. “Hehe bukan tukang wantek ya kek, yaudah deh makasih ya kek” saya pun melangkah meninggalkan kakek tua yang ternyata tukang patri. Patri ? saya mikir lagi! Apa ya patri ? aduh kenapa gak tanya sih tadi tukang patri itu tukang apa ?

Saya berada di dalam mitromini sekarang, saya masih memikirkan tukang patri, karena saya penasaran saya search di eyang google oh ternyata tukang patri itu tukang perbaikan alat dapur yang bocor atau rusak semisal; panci bocor, penggorengan bocor atau bahkan ada yang bolong, rantang retak dan lain – lain, jadi semacam tukang tambal ban ya ? setelah saya membaca beberapa artikel seputar tukang patri saya berkesimpulan bahwa tukang patri itu adalah pekerjaan zaman bahela seperti pandai besi, Masya Allah hebatnya kakek tua itu yang masih saja bertahan dengan profesi yang mungkin sekarang ini tidak banyak dibutuhkan orang (terlepas pilihan kakek terhadap profesi itu). Membayangkan perjuangannya menjelajah jalan di Jakarta untuk mencari orang – orang yang ingin menggunakan jasa nya dalam memperbaiki peralatan dapur yang rusak (berapa banyak sih orang yang memperbaiki atau lebih baik beli yang baru), Apalagi laki – laki tua dengan senyum lembut sudah cukup berumur, saya kira berkisar 70 lebih. Masya Allah, saya tidak bisa menahan air mata setelah merasakan sesuatu yang menusuk dibagian batang hidung, sedih! Saya semakin sadar bahwa hidup ini memang perjuangan, perjuangan untuk tetap hidup dan menjadi sumber penghidupan bagi orang lain (semisal seorang ayah yang bekerja untuk membuat anaknya menjalani kehidupan ini dengan baik).

Tukang Patri, hanyalah salah satu dari sekian banyak jenis pekerjaan yang sudah tergerus zaman seperti halnya tukang sol sepatu , tukang kapuk atau pengganti sarung bantal/guling/kasur dan masih banyak lagi, yang saat ini keberadaannya tidak cukup menjadi pilihan khususnya di kota besar seperti Jakarta, dimana kebanyak masyarakatnya lebih ‘memilih’ yang baru daripada mengganti atau memperbaiki sebuah benda yang rusak semisal peralat dapur yang bolong, toh ada banyak pilihan juga lem ‘ajaib’ seperti lem korea atau lem perekat lainnya yang cukup mudah ditemukan di bandingkan mengharapkan tukang keliling seperti tukang patri yang tidak setiap hari melewati jalan yang sama untuk dapat memperbaiki peralatan dapur mereka yang rusak.

Tentunya tidak perlu memaksakan juga jika bertemu tukang patri (karena kasian) lantas kita menggunakan jasanya untuk memperbaiki peralatan dapur kita wong gak ada yang rusak juga kok. Bukan seperti itu maksud saya dalam menarasikan pengalaman ini, hanya mengungkapkan bahwasannya di dalam kehidupan ini selain berjuang kita juga harus bersyukur (bukannya mensyukuri kemalangan orang ya!) masih banyak saudara kita yang kehidupannya, khususnya kehidupan perekonomiannya yang masih jauh dibawah kita, saudara kita yang memiliki pekerjaan yang bukan harapannya seperti itu tapi tanpa adanya pilihan, tetap menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dalam memenuhi kehidupannya dengan bekerja, dari sumber yang halal tentunya. Sedangkan kita ? untuk kehidupan kita ? pekerjaan kita ? (mari kita bercermin dan lihatlah bagian hati masing – masing)

 

*Foto diambil dari google

Iklan

2 pemikiran pada “Tukang Patri

  1. kadang bingung kalo ketemu yang begini pengen kasih uang langsung takut tersinggung karena mereka bukan pengemis, tapi gue selalu coba tanamkan “carilah alasan untuk membeli walau sebenarnya ga butuh karena mereka sedang menghindarkan diri dari meminta minta” tapi kalo tukang patri gini ketemu di jalan gimana bantu nya yah?

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s