Titik Jenuh Bekerja

270420121545Titik jenuh! Berada di dalam dunia kerja yang telah lama dijalankan dengan segala rutinitas setiap hari yang selalu sama, selalu terulang, atau bahkan pekerjaan yang tak akan pernah ada habisnya, akan membawa diri kita pada kejenuhan yang menjemukan (baca:bosan), tak jarang banyak diantara kita yang mengeluhkan tentang karir mereka, pekerjaan yang saat ini tengah mereka jalankan yang seolah menuntut mereka untuk lebih ekstra menguras hati bukan saja memutar otak. Ada masa dimana satu – satunya hal yang ada didalam pikiran kita adalah keputusan untuk segera keluar dan mencari pekerjaan baru yang lebih nyaman. Rasa – rasanya sudah tidak sanggup menangung beban pekerjaan yang selalu menumpuk, tuntutan lembur, tekanan dari atasan, atau bahkan perlakuan rekan kerja yang tak meng-enakkan.

Sudah sampai klimaks, keputusan untuk keluar kerja pun sudah dipikirkan matang – matang, walaupun terkadang hanya modal nekat karena belum ada pekerjaan lain sebagai gantinya. Jadi ? masih belum bisa juga mengajukan surat resign. Dengan senyum kecut, ya!. Kalau udah begini, gak ada keadaan lain yang lebih mengenakan selain hanya bekerja dengan uring – uringan, bekerja setengah – setengah, oya jadi inget tulisan lama …….Bekerja Setengah Hati Membuat Hidup Tak Berarti jadi mau sampai kapan terus begini ? meratapi pekerjaan yang gak sesuai dengan hati ? mari sama – sama kita menghayati pekerjaan kita masing – masing; sebagai seorang karyawan perusahaan ritail yang pelit banget kalau soal libur, sebagai seorang guru TK , SD, SMP atau guru honorer yang kebingungan antara ikhlas dan butuh gaji lebih besar, atau seorang pelayan toko yang keseringan diomelin pelanggan yang maunya dilanyani kaya raja, dan pekerjaan lainnya. Diposisi manapun anda berada, ingatlah betapa banyak orang di luar sana yang berharap seperti anda, paling tidak butuh sebuah pekerjaan. Tidak usah melihat si A gajinya besar, si B situasi kantornya kondusif, si C disayang bos nya, dan sampai Z yang malah akan membuat kita tidak bahagia karena kehilangan rasa syukur.

Jadi haruskah bertahan ? sekali lagi ini tergantung diri kita masing – masing, jika memang sudah tidak bisa dipertahankan untuk apa pula masih tetap disana ? dalam mencukupi kehidupan ini dengan bekerja masih banyak hal yang kita dapat lakukan, tapi bila hanya sikap berkeluh kesah dalam setiap hal yang kita kerjakan di kantor, daripada kita menjadi seseorang yang lebih buruk lebih baik mencari sumber penghidupan lain yang dapat membuat kita menjadi pribadi tangguh. Pekerjaan apapun yang kita lakukan sertakanlah sikap penerimaan yang baik terlebih lagi kita telah menerima hak – hak kita sebagai seorang pekerja walaupun dirasa masih kurang, apa pun itu kita harus tetap menukarnya dengan kewajiban yang harus dijalankan dengan sebaik – baiknya. Tetap mau resign, Ingat loh ? sekarang ini tidak mudah mencari pekerjaan, terlebih lagi mulai tahun 2015 akan memiliki tantangan tersendiri bagi para tenaga kerja professional. Untuk menghadapi ketatnya persaingan global, maka sangat penting bila dapat mempersiapkan diri sejak dini. Kita akan digempur oleh para pekerja asing, untuk itu kita harus siap. Yang lebih penting bahwa sudah terlalu banyak orang pintar tapi disisi lain orang yang jujur semakin langkah, maka jadilah pekerja yang jujur.

Atau bosan menjadi bawahan, ya jalan keluarnya silakan jadi bapak rumah tangga (lho…) maksudnya masih banyak peluang kok untuk menjadi seorang wirausaha, tanya bagaimana ? silakan dipikirkan sendiri, tapi jangan juga kebanyak mikir yang ada gak jalan – jalan. Balik lagi soal sikap kita terhadap pekerjaan yang udah nge-BT-in, jalani aja dengan sabar dan ikhlas, dan tetap bersungguh – sunggh dalam berkerja (profesional) kalau tetap gak bisa juga silakan cari jalan keluar lain yang dirasa terbaik, persiapkan dengan matang pekerjaan gantinya yang tidak akan membuat kita menyesal diakhirnya karena ternyata (mungkin) pekerjaan yang baru tidak sebaik pekerjaan lama, ya setiap hal ada 2 sisi; baik dan tidak baiknya, bahkan sesuatu yang terkadang muncul tiba –tiba (sulit diprediksi) tergantung bagaimana kita menghadapinya.

 “Diligence is the mother of good fortune”

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s