Bapakku Seorang Koki

05bf364ea03f48e34cba3eec72236d07Semoga Allah menjadikan aku termasuk dari orang – orang yang pandai bersyukur. Karena apapun yang aku dapati hari ini dalam kehidupanku sesungguhnya itu merupakan karunia yang tak terhingga dari Allah subhanallahu wata’ala. Khususnya bulan rahmadhan kali ini sungguh banyak nikmat yang telah Allah berikan kepadaku, sampai – sampai aku menangis karena terlalu bahagia, namun disisi lain aku pun khawatir pada diriku sendiri, aku khawatir diriku ini lalai atas segala nikmat yang sesungguhnya adalah bagian dari ujian, oleh karena itu aku berlindung kepada Allah dari segala sesuatu yang buruk termasuk kelalaian yang acapkali melenakan.

Salah satu kebahagiaan yang aku rasakan saat ini adalah kebahagiaan berkumpul dengan keluargaku, bapak beserta adik – adikku tercinta. Di waktu – waktu berbuka dan ketika makan saur, tidak jauh berbeda memang dengan hari biasanya di luar bulan Ramadhan, kami sekeluarga selalu melakukan hal demikian, berkumpul dan saling berbagi cerita, bercanda dan mengobrol banyak hal. Semoga aku termasuk orang yang pandai bersyukur. Aamiin

         Bapakku selalu mementingkan bulan istimewa ini dibandingkan bulan – bulan lainnya dalam soal ibadah ataupun segala kebutuhan yang diperlukan untuk melaksanakan dengan sebaik – baiknya bulan Ramadhan ini. Bapak selalu menyiapkan menu buka dan saur, hanya sesekali saja aku atau adikku yang menyiapkannya, kondisinya memang bapakku hampir selalu mengistirahatkan diri dalam bekerja ketika bulan ramdhan akan tetapi bukan tidak sama sekali bekerja hanya saja tidak dikejar target kerjaan, bapakku melakukannya dengan sangat baik, insya Allah. Bapak selalu bertanya kepada anak – anaknya “Mau makan apa ?” atau “Enaknya makan ini kali ya ?” atau “Bapak mau buat ini” dan benar saja, bapakku adalah seorang koki terhebat di dalam rumah (Ibuku pun mengakui bahwa bapakku adalah seorang pria yang pandai memasak), bapakku bisa masak apa saja, yang simple dan gak ribet kalau masakan seperti rendang atau masakan lainnya yang memelukan waktu cukup lama, beliau sekedar tahu resep dan tata caranya, atau terkadang beliau membuat sesuatu yang baru. Pernah Bapak membuat sambelan terasi, beliau sangat tahu bahwa aku si sulung ini penyuka atau bahkan penggila sambal (rasa pedas) dan subhanallah sambel buatan bapak adalah sambel terenak yang pernah aku makan (karena menikmatinya dengan cinta. Hehe) adik – adikku pun menyukainya, dan dalam waktu sekejab sambel ala bapak ludes, keesokkan hari nya bapak nyambel lagi dan kali ini sambelnya lebih enak, adik laki – lakiku yoga sampai nambah berkali – kali walau kepedesan!, pas aku reques agar bapak buatkan sambel terasi lagi untuk besok, eh diomelin! “Jangan kebanyakan makan sambel ! gak baek, nanti jerawatan lagi” ckckck kalau udah begitu aku hanya tertawa dibuatnya.

Kalau soal masakan berbahan dasar telur seperti telur dadar, aku dan adikku selalu merasa bapak adalah seorang koki yang tidak tertandingi, telur buatan bapak selalu lebih enak dibandingkan telur buatan anak – anaknya, bapak sering mencampurkan bahan lain dalam pembuatan telur dadarnya seperti ikan, ati ayam, mie ataupun bahan pelengkap lainnya seperti daun bawang, bawang bombai, seledri dan sedikit mencampurkan mentega ke dalam minyak panas yang digunakan untuk memasak, dan anehnya ketika aku melakukan yang sama dengan bahan yang sama namun hasilnya selalu berbeda, aku kalah telak dari bapak yang lebih pandai memasak. Dan saat memasak, terkadang beliau melakukannya sambil berdialog dengan anak – anaknya yang hanya sekedar melihat bapak sibuk memasak, bapak berkata, “Nanti kalau mesti ataupun poppi udah jadi istri harus pandai masak untuk suaminya, jangan suaminya nanti yang malah masak!” dan ketika itu aku berkata pula dalam hati, “semoga Allah memberikan seorang suami kepadaku yang baik, lembut hatinya, dan pandai memasak seperti bapak. Aamiin.”

Aku jadi teringat bagaimana bapak selalu menghargai masakan anak – anaknya yang rasanya pas – pasan bahkan lebih seringnya ‘enak ga enak’ hehe. Suatu kali dihari special yang adikku siapkan sebagai kesempatan untuk dirinya memasak karena dia libur bekerja dan ada teman yang dia undang untuk buka puasa bersama di rumah, pagi – pagi sekali poppy sudah belanja ke pasar, sebelumnya dia bilang pada kakak tercintanya ini, bahwa dia akan memasak ayam goreng, tempe goreng dan sayur labu. Dan ketika aku pulang kerja aku mendapatinya sudah sibuk di depan kompor, aku pun segera datang membantu, eh dia malah tanya ini dan malah tanya itu ? (seputar bumbu dan tata caranya) aku jawab setahuku, selebihnya aku tanya bapak deh. Dan hasilnya adalah “Enak kok bapak suka ayamnya, kaya ayam kampung !” puji bapak untuk putri kecilnya, poppy.  Pas aku, adikku yoga dan teman adikku mulai makan khususnya lauknya ayam goreng itu, Apa nya ayam kampung ? ayamnya alot ! ternyata ketika diungkep ayamnya gak maksimal, langsung dimasak aja! Jadinya gak meteng – mateng amat tuh ayam, hahaha. Setelahacara buka puasanya selesai, dan teman adikku pulang aku bilang ke bapak “Apanya kaya ayam kampung pak ?” bapak menjawab “Gak mungkinlah di depan  temannya poppy bapak bilang ayamnya belum mateng dan gak enak ?” subhanallah bapakku, semoga Allah membantuku untuk membahagiakannya di dunia dan di akhirat. Aamiin.

Kali ini aku yang berkesempatan masak, sebenarnya dari SMP aku sudah belajar memasak dan sudah dibiasakan memasak, akan tetapi setelah SMA sampai dengan saat ini aku jarang menyempatkan diri untuk itu karena kegiatan di luar rumah dan lainnya. Pada hari itu aku hanya memasak telur dadar, bapak bilang saat mencium wangi harum masakanku, “Mmmhh, masakannya mesti mah dari bau-nya aja udah enak!” katanya membanggakan anaknya ini, dan ketika waktu makan ternyata tak seenak perkataan bapak saat memujiku karena ternyata gak ada rasanya kecuali rasa telur. Hehehe dan yang aku lakukaan selanjutnya adalah mengancam adik – adikku untuk tidak menyisakan sedikitpun! Saat aku melihat bapakku, bapakku tersenyum sambil menghabiskan makanan yang dimasak anaknya ini tanpa mencibir sama sekali.

Kami adalah keluarga sederhana yang mempunyai slogan “Makan gak makan yang penting kumpul,”. Tidak perlu ada makanan istemewa ataupun saat special yang mengharuskan kami kumpul 1 keluarga sedangkan kami selalu kumpul bahkan ketika pernah tidak  ada satu butir snasi pun tersedia di meja ataupun makanan untuk dimakan. Ketika berkumpul bersama ada keberkahan yang Allah curahkan kepada kami, kami cukup bersyukur maka Allah menambahkan nikmat lainnya kepada kami.   Kebahgiaan itu sederhana, semoga Allah menganugrahkan kita sebuah keluarga yag sakiinah, mawaddah dan warahmah… aamiin

 

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s