Cinta dari Bapak untuk Putrinya

“Bapak di mana ?” Tanyaku pada bapak melalui sabungan telepon. Tidak seperti biasanya, bapak tidak ada di rumah ketika aku pulang kantor.

“Bapak masih kerja di gudang, nok (panggilan sayang bapak ke anak – anaknya)” Bapakku seorang wirausaha yang pekerjaannya service – jual – beli besi pabrik, kapal dll, yang dikerjakannya di rumah, hanya sesekali beliau keluar kota.

“Mesti udah di rumah, pak “ kataku,

“Laper ya ?”

“Hehe….” Aku hanya bisa terawa, bapak mengerti tawaku itu. Aku memang hampir selalu kelaparan kalau sampai di rumah, hal itu karena biasanya aku merapel waktu makan siangku ke malam. Tanya kenapa ?, males mikir mau makan apa karena harus ke luar kantor dan beli.

“Bentar lagi ya, bapak pulang bawa makanan,”

“Ok bapak. Makasih,!” Telepon langsung aku tutup. Karena memang sepertinya beliau tengah sibuk. Aku jadi ingat pembicaraan pagi tadi, bapak bilang beliau lagi ada project mengerjakan beberapa pekerjaan dari bos-nya yang di luar kota.

***

Hari sebelumnya,

Pulang kerja, bapak menyabutku dengan senyuman lebar kemudian bertanya,

            “Lapar ya ?”

Aku mengangguk lemas, bukan karena lapar. Emang dasarnya aja manja 😀

            “Sebentar ya, bapak masakin mie goreng,”

Dan setelah mie goreng selesai dimasak, bapak memanggilku

            “Nok, makan dulu nie!”

            “Iya, pak.” Sahutku,

Bapak memang yang selalu menyiapkan makan anak – anaknya di rumah, terkadang beliau yang masak, atau beli di warung dan lebih sering mengandalkan tukang masak di sebelah rumah yang memang biasanya membuatkan khusus sesuai permintaan bapak. Pasti kalian menanyakan ibuku? Beliau Alhamdulillah sehat, Insya Allah akan aku ceritakan lain kali tentang beliau. Aku bersyukur dan amat menikmati kebersamaan ini, dimana bapak begitu bersemangat dan terlihat bahagia membersamai anak – anaknya. Kami telah melewati banyak kebahagiaan maupun kesedihan bersama, aku memang bukanlah anak yang sempurna tapi aku selalu berusaha menjadi anak penuh bakti kepedanya, Insya Allah.

            “Mesti, paling suka mie goreng buatan bapak” Aku tersenyum manis kepadanya, dan dibalas dengan senyum lesung pipi bapak yang membuat aku selalu protes ke bapak kenapa beliau tidak menurunkan lesung itu di pipi anak – anaknya. Bercanda.

***

Hari sebelumnya,

            “Makan yang bener sih Mes, !“ kata bapak kepadaku. Beliau memang hampir selalu protes melihat porsi makan anaknya ini. Dan setiap kali bapak ngomong begitu, aku menambahkan 1 sendok nasi lagi ke atas piring makanku.

Bapak mempunyai kebiasaan yang unik menurutku, setiap kali bapak membelikan makanan, contoh perkedel dan cabe hijau khas padang, maka selama 3 hari berturut – turut bahkan lebih beliau akan tetap menyediakan makanan yang sama sampai terkadang bosan, terutama ketika aku bilang, “mesti suka banget pak, ini.” Jadi soal makanan kesukaan anak – anaknya beliau lebih tahu. Kebiasaan lainnya ketika kami sedang makan, bila salah satu anaknya tidak ada untuk makan bersama beliau selalu menyebut nama anaknya yang lain bahkan putrinya (kakakku)yang sudah hidup terpisah karena telah minikah.

***

Hari sebelumnya

“Nanti malam Mesti mau makan apa ?” tanya Bapak saat aku bergegas pergi kerja.

“Sayur asem, pak!” pintaku, bapak tersenyum. Sungguh senyum bapak adalah salah satu kebahagiaan terbesar didalam hidupku.

Dan ketika waktu makan, malam harinya, bapak menyediakan menu makanan yang lumayan istimewa,

            “Enakkan,? yang bener dong makannya. Nambah!”

Aku mengangguk.

            “Iya, nie, “ aku mengambil beberapa sendok lagi ke atas piringku,

            “Enak banget nie Pak,”

            “Tadinya bapak mau beli sayur asem di daerah kampong rawa, tapi warungnya tutup”

            “Eh, iyayah. Tadi pagikan mesti bilang mau makan sayur asem ye pak,” Aku bahkan lupa keinginanku makan sayur asem, aku mengerti! Bapak memang terbiasa membelikan sesuatu yang lebih istimewa bila apa yang ingin tadinya beliau berikan kepada anaknya tidak ada, memang tidak selalu begitu sih khususnya kalau lagi ada rezeki lebih.

Bapak paling heboh kalau udah waktunya makan, semua anak – anaknya harus ngumpul dan makan bersama, apapun keadaannya, apapun lauk pauknya, yang penting kata bapak ‘kumpul’ walau tidak ada makanan yang bisa dimakan sekalipun.

***

Bapak selalu memberikan apa yang anaknya mau, terlebih lagi bila ia mampu. Aku ingat bapak pernah bilang,

“Kalau bapak punya uang banyak, mesti pasti bapak beliin mobil”

            “Yang warna merah kaya itu ya pak,” pintaku sambil menunjuk sebuah mobil yang malaju disamping kami yang tengah mengendarai motor. Bapak memang selalu rajin mengantar – jeput aku ke kantor, dan selama perjalanan aku selalu mempunyai kebiasaan menempelkan dagu di pundaknya, sambil bercerita banyak hal, tentang rumah, adik – adikku, kakakku dan keluarga kecilnya, cucu – cucunya, teman – temanku atau bahkan sesuatu yang kami liat di jalan.

Banyak masa – masa romantis antara anak dan putri tercintanya ini yang kami lewati bersama, seperti kebiasaan mencari sarapan bareng, dan biasanya kita makan bubur, awalnya bubur adalah makanan yang paling tidak aku sukai tapi karena bapak selalu mengajak makan bubur, dan waktu – waktu itu yang membuatku bahagia, aku menjadi penggemar bubur sekarang. Dan jika langganan warung bubur tidak dagang maka kami mencari alternative lain, biasanya soto. Hal lainnya, bapak sering kali mencari jalan baru, walaupun lebih seringnya nyasar dan anaknya ini selalu mentertawakannya.

Hampir semua teman – temanku, bapak tahu karena aku selalu menceritakannya, tentang pekerjaan yang aku kerjakan di kantor, tentang film yang kami tonton dan masih banyak lagi yang lainnya. Aku selalu berusaha terus memperbaiki komunikasi yang baik terhadapnya, karena bapak tipe orang yang keras, sekalinya beliau marah, maka seperti gunung yang menyemburkan larva, beliau akan meledak – ledak tapi sesungguhnya hatinya lembut. Bisa dibilang hubungan antara aku dan bapak adalah hubungan yang paling harmonis dibanding anak – anaknya yang lain. Tetapi keakraban kami ini, bukan tidak pernah dibumbui keributan. Sering kok, perbedaan keinginan, pandangan dan benturan lainnya menghujani kami, bahkan dahulu ada masa – masa dimana aku rasanya ingin lepas darinya, benar – benar ingin bebas!. Tapi itu, menjadi sesuatu yang tidak boleh terulang kembali saat ini, aku menikmati masa – masa indah dimana bapak selalu ada saat aku lelah akan beban masalah. Terlebih lagi saat ini dimana saat ini bapak mulai menyadari bahwa sepertinya sebentar lagi anak gadisnya ini akan segera menikah karena anaknya ini telah tumbuh menjadi perempuan dewasa yang insyaallah shaleha dan sekarang ini aku sangat merasakan kasih sayang bapak yang begitu deras tercurah seolah – olah beliau ingin menikamati saat – saat bahagia bersama putri tercintanya sebelum seorang pria meminta darinya.

“Bapak apapun yang terjadi nanti, aku akan selalu mencintaimu karena Allah ,”

110720122008 110720122010 110720122011 110720122013 110720122015 110720122016 110720122017 110720122019

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s