Siapa Tahu Kita Meringankan Bebannya

PedagangSetiap kali melewati SPG atau SPM yang membagikan brosur – brosur di jalanan, seperti brosur cicilan motor, angsuran rumah ataupun pembukaan sebuah toko baru Bapak selalu bilang kepada anaknya ini yang berada di boncengan belakang motor yang dikendarainya; “Ambil Mes, kasian! Siapa tahu bisa mengurangi bebannya” Aku sempat ogah – ogahan mengambilnya, karena aku pikir toh kita juga gak butuh ? atau bahkan khawatir malah tergiur pada barang promosi-nya. Dan ternyata tidak hanya ketika berada di jalanan saja bapak seperti itu, terkadang aku malah mendapati beberapa brosur lainnya di rumah, yang ketika aku tanyakan jawaban bapak tidak jauh berbeda dari sebelumnya “Kasian, siapa tahu bisa mengurangi bebannya”. Aku pun berusaha memahami maksud baiknya bapak.

Kebiasaan seperti yang diceritakan diatas hanyalah sebagian kecil bentuk dari betapa lembut hati bapakku, aku sering sekali mendapati bapak membeli sesuatu yang bahkan tidak ia butuhkan hanya kerena ingin mengurangi beban si pedagang atau karena kasian. Aku ingat kalau di rumah itu ada kue yang hampir setiap harinya selalu ada di atas meja bahkan terkadang sampai basi atau berlumut. Kemudian aku ngedumel “Ngapain sih masih dibeli kue kaya gitu, “ Jawaban Bapak hanya “Kalau enak ya dimakan, kalau enggak yaudah gak usah dimakan!”. Dan suatu hari ada seorang ibu menggendong anak sambil membawa sekeranjang kue datang ke rumah kami, saat itu aku yang membukakan pintu, ternyata ibu itu datang untuk menawarkan kue yang biasa dibeli bapak, aku baru ngerti kenapa bapak rajin beli kue tersebut, seperti yang aku lihat akan keadaaan ibu tersebut, aku pun kasian. Kejadian lainnya sering kali terjadi, ketika aku di rumah beberapa pedagang sering sekali datang ke rumah menawarkan barang dagangnya macam; kue begitu. Nah, giliran keadaanya bapak lagi tidak ada uang atau tidak megang uang, bapak seperti memperlihatkan wajah tidak enak kepada pedagang tersebut, bahkan bapak sampai manggil anak – anaknya untuk tanya “Pada mau enggak?” Padahal bapak tahu anak – anaknya pasti gak mau, kami pun hanya berani menggeleng (Soalnya udah keseringan juga jadi bosen) kemudian dengan sangat terpaksa bapak bilang “Maaf ya bu/ pak. Besok – besok lagi aja. Insyaallah”

Kami selalu ngobrol di sepanjang perjalanan naik motor tentang sesuatu yang kami lihat, seperti seorang kakek atau nenek – nenek tua yang memanggul barang dagangannya dan aku selalu bilang ke bapak, “Kasian ya pak, udah tua masih aja harus kerja seperti itu. Memang anaknya kemana sih ?” dan setiap aku ajak ngobrol tentang itu bapak selalu nasihatin anaknya ini, “Jangan hanya kasian ngelihat, kalau mesti punya uang bantu aja mereka beli barang dagangannya. “ aku pun langsung menjawab, “Tapi buat apa pak beli juga, kita juga gak butuhkan barangnya.” Bapak pun kembali berujar “Ya kan, kalau ada uang ya bantu mereka beli, soal barang siapa tahu aja nanti butuh! “

Aku selalu ingat pesan bapak ku itu, sehingga seringkali jika melihat hal – hal seperti itu sebisa mungkin aku membelinya, walaupun belum tentu aku inginkan atau butuhkan. Sekiranya memang tidak bisa, aku pun selalu berdoa dalam hati agar si pedagang tersebut diberikan kemudahan dalam menjual barang dagangannya tersebut. Aku ingat sebuah nasihat bijak yang kemudian aku improvisasi “Jika tanganmu terlalu pendek untuk membantu orang lain meringankan bebannya atau menyelesaikan masalahnya, panjangkan lisanmu untuk mendoakannya.”

Aku pernah punya pengalaman yang begitu terkenang, pada waktu aku di luar kantor, aku hanya sekilas melihat seorang pedagang cendol lewat dengan kondisi si bapak penjual nyeker panas – panasan, tapi berhubung aku selesai makan siang aku pun tak berniat membeli, bapak penjual itu tersenyum melihatku dan langsung menawarkan, “cendol nya neng, enak loh!” aku pun hanya menggeleng dan membalas senyumnya dengan maksud ‘ndak pak’. Hari – hari berikutnya aku perhatikan ternyata si bapak itu lumayan sering lewat di depan kantor, dan suatu hari bapak pedang cendolnya mangkal di depan kantor, bapak itu terlihat capek, ia pun selonjoran dengan memijat – mijat kakinya. Ketika itu seperti sebelumnya aku tidak berniat membeli, tapi aku ingat sekali senyumnya tempo hari yang dengan ramah menawarkan, juga merasa kasian dan inget pesan bapakku, aku pun membeli es cendolnya, sungguh aku sama sekali tidak menyesal membelinya bukan karena es cendolnya lumayan enak tapi merasakan kebahagiaan yang masuk ke hatiku mendengar bapak pedagang cendol mengucapkan terimakasih yang sangat yang terpancar jelas di wajahnya karena aku membeli barang dagangnya, padahal harganya pun tak lebih dari 5.000 rupiah.

Aku kembali mengingat pesan bapak, “Siapa tahu kita meringankan bebannya” semoga ini menjadi ladang kebaikan kita bersama bila sekiranya kita dapat membantu mereka seperti yang disabdakan baginda Nabi tercinta Rasulullah saw, Dari Abu Hurairah ra,: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim, lihat juga Kumpulan Hadits Arba’in An Nawawi hadits ke 36)

Iklan

2 pemikiran pada “Siapa Tahu Kita Meringankan Bebannya

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s