Katakan Tidak pada Pergaulan Bebas (Fenomena Cabe – Cabean & Terong – Terongan)

download (2)“Mau liat cabe – cabean sama terong – terongan gak ?” Tanya adikku sambil memonyongkan mulutnya ke arah kerumunan anak – anak muda yang tengah asik mojok di pinggiran jalan.
“Hah?”
Dalam hati ‘itu’ ?
“Nyesel, kenapa tadi gak bawa cobek! Tau githu, sekalian aja bikin sambel terong”
ekspresi adikku mengintimidasi melihat ke arahku
“Emang bisa masak ?”
Aku? buang muka ke cabe sama terong L

 It’s ok, saat ini saya memang belum bisa masak, tapi saya bisa nulis (buat pembelaan) –anak kecil juga bisa kalau nulis 😀 –  ok… ok… saya akan mengikuti ‘mau’ nya kalian ! saya akan belajar masak, dimulai dari membedakan mana mecin, mana garam 😀

Sebenarnya yang ingin saya bicarakan di sini bukan persoalan saya yang gak bisa masak lho..! (belum bisa masak tepatnya)  tapi saya ingin menuliskan tentang ke-gudahan saya pribadi akan fenomena ‘cabe – cabean’ dan ‘terong – terongan’. Apa ? kamu gak tahu cabe dan terong ? itu loh sayuran -_-  sama kaya beberapa temen saya donk yang masih belum tahu apa itu cabe – cabean dan terong – terongan, walaupun saya pribadi juga baru tahu. Jadilah, saya ingin memberikan sedikit gambaran tentang itu .

 

Cabe – cabean dan terong – torongan berasal dari bahasa sayuran. Lho ? maaf, saya akan lebih serius 😀 maksudnya itu adalah sebutan – sebutan yang biasa digunakan oleh anak gaul zaman sekarang untuk menyebut atau memberikan sebutan pada remaja putri maupun remaja putra yang senangnya keluyuran malam dan nongkrong di tempat – tempat biasa mereka nongkrong seperti WC, iya itu salah satunya, kemudian di pinggirian jalan, dan di banyak tempat lainnya, yang beberapa tempatnya menjadi terasa ‘janggal’ atau bahkan meresahkan karena digunakan untuk tempat nongkrong. Gimana gak meresahkan ? terkadang mereka nongkrong di jalan – jalan gelap. Ngapain coba ? kenapa gak pake lilin ?

Bahkan, seiring berjalannya waktu penyebutan cabe – cabean maupun terong – terongan sendiri berkembang dari remaja yang suka nongkrong menjadi remaja dengan gaya pakaian,  yang bisa dibilang tidak pantas atau kurang pantas digunakan oleh anak – anak seusia mereka yang umumnya berkisaran SMA dan SMP bahkan SD. Kaya gimane tuh ? sedikit gambaran nya seperti ; ketika yang perempuan dengan usai mereka yang masih tergolong anak – anak menggunakan baju you can see dengan dipadu – padankan dengan celana pendek hot pants di tempat – tempat nongkrong dengan berpasang – pasangan dengan anak laki – laki seusia mereka, apalagi di waktu malam bahkan larut malam.

Sebenarnya pas saya telusuri lebih dalam (gak sampe ke dasar bumi juga sih) asal muasal kata cabe – cabean memiliki arti yang lainnya bahkan kata tersebut merupakan singkatan, tapi berhubung singkatan dari cabe – cabean yang saya dapat tidak sopan dan disensor di blog ini maka saya tidak akan menuliskannya secara detail. Oh…? jadi asal usulnya cabe – cabean itu dari balap liar (Lah saya juga baru tahu), yang juara atau menang dalam perlombaan balapan tersebut mendapetkan  cabe (wiih, berapa kilo?) cabe – cabean maksudnya, nah itu yang namanya cabe cabean.

Jika arti/ pengertian atau asal muasal kata cabe – cabean dan terong – terongan saja negative, akan jauh lebih baik menurut saya pribadi kata cabe – cabean dan terong – terongan dicoret dari daftar suka kata yang tersimpan di kepala kita. (Loh? Kenapa) karena saya khawatir ada diantara kita (Duh, jangan sampe deh!) yang keceplosan ngatain orang dengan sebutan tersebut yang akhirnya membuat rasa sakit hati pada orang lain (ya, kalau itu memang gak bener) lah, ya kalau bener ? bukan kah dalam agama dilarang menyebut orang lain dengan sebutan – sebutan buruk. Saya juga gak yakin sih diantara kita akan sampai segitunya ngatain orang, tapi paling tidak mengantisipasi.

 

 “Hai orang-orang yang beriman,janganlah suatu kaum mengolok-olok suatu kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” QS. Al Hujurat: 11

 

Lagi pula kalau kita yang sudah tahu arti ataupun asal kata tersebut tidak baik, gak enak juga kan di dengernya ?

Nah, yang tak kalah pentingnya untuk dibahas tentang fenomena tersebut adalah faktor penyebab cabe – cabean dan terong – terongan merebak di kalangan anak muda atau ABG sekarang. Bahkan menurut saya jika hal tersebut tetap di populer kan akan menimbukan dampak negative yang lebih banyak lagi. Bisa dihubungkan pula kan dengan maraknya sekarang ini tindak asusila ataupun kekerasan seksual pada anak maupun remaja yang menurut Komisi Perlindungan Anak atau KPAI bahwa kejahatan seksual terhadap anak – anak – anak sudah pada taraf “Bencana Nasional”. Inilah yang harus menjadi kewajiban kita kedepan, ingat loh ! bukan hanya siaga 1 tapi AWAS!

Banyak faktor yang menyebabkan fenomena cabe – cabean dan terong – terongan muncul. Mulai dari faktor keluarga, dalam hal ini adalah orang tua musti menggodok kembali kurikulum dalam kelurga tersebut agar berlandaskan nilai agama sebagai pondisi awal kemudian menyusul nilai – nilai lainnya seperti nilai sosial. Jangan sampai orang tua kalah sama anaknya. Lho ? lah kan anak sekarang udah semakin pinter eh, bukan berarti orang tuanya …..? sebaliknya loh. Akan tetapi orang tua juga kudu wajib mengikuti perkembangan dunia remaja saat ini, memberikan pengawasan bukan berarti pula sikap otoriter yang malah akan membuat anak – anaknya merasa tertekan atau bahkan tak nyaman, pasalnya juga anak – anak saat ini banyak yang menuntut emansipasi anak – anak? Apa tuh ? itu loh wujud dari pembelaan mereka. Kemudian  selanjutnya faktor media, saat ini media televisi khususnya, banyak mempertontonkan atau bahkan mencontohkan perbuatan – perbuatan yang tidak baik seperti cara berpakaian atau pun cinta – cintaan yang masih belum pantas untuk dialami oleh banyak anak – anak saat ini, bukankah kita juga sudah melihat bukti nyatanya bahwa pernah terjadi dimana sepasang ABG yang bertengkar sampai berbuntut hilangnya nyawa, walaupun mungkin ada faktor lain dari kejadian tersebut, tapi masa sih mereka gak pernah atau bahkan terpengaruh apa yang mereka tonton sebelumnya ? paling tidak saya yakin hal tersebut ikut ambil bagian. Faktor berikutnya adalah faktor lingkungan, tempat dimana mereka bermain atau bergaul seperti ya, tempat nongkrong dan lingkungan terdekat lainnya seperti sekolah dan teman-teman bergaulnya. Dari Abu Musa Asy-Asy’ari, Dia mengatakan bahwa, Rasulullah saw. Bersabda :

“Sesungguhnya, Perumpamaan Teman yang Baik dan Teman yang Buruk, adalah Seperti Penjual Minyak Wangi dan Tukang Pandai Besi. Seorang Penjual Minyak Wangi akan memberi kamu Minyak, atau kamu Membelinya, atau kamu mendapati Bau yang Harum darinya. Sedangkan Pandai Besi, maka bisa jadi akan Membakar bajumu dan bisa pula engkau mendapati darinya Bau yang Busuk”. (HR. Muttafaq ‘Alaih).

Seperti itulah pertemanan yang baik & buruk. Berteman dengan orang baik, diumpamakan berteman dengan penjual minyak wangi jika minyaknya tidak melekat pada kita, baunya pun jadi. Sedangkan berteman dengan orang jahat, laksana berteman dengan tukang pandai besi, jika hitamnya besi (kotorannya) tak melekat, paling tidak asapnya yang bau itu mengenai kita. Walaupun kita tidak Ikut-ikutan berperilaku jahat, paling tidak kita kena pengaruh dari kejahatannya. Seperti itulah berteman dan bergaul, dalam lingkungan manapun kita berada harus menjaga diri. Bagaimana dengan anak – anak yang mungkin belum mendengar hadits tersebut ?  itu lah tugas masing – masing dari kita yang harus saling mengingatkan, mengingatkan dengan yang lebih tua dengan hormat, mengingatkan dari yang lebih muda dengan kasih sayang dan mengingatkan dengan yang mungkin berbeda agama maupun suku dengan kita dengan penuh saling pengertian. Disini saya pun ingin mengingatkan orang tua dan saya pun yang nantinya akan jadi orang tua untuk senantiasa mengingat pesan dari Rasulullah dalam memilih Pertemanan, bukan hanya pertemanan sesama orang tua, tapi orang tua yang juga harus tahu dengan siapa anaknya berteman. Rasulullah saw. Bersabda :

“Seseorang tergantung Agama temannya, maka hendaklah salah seorang diantara kalian melihat dengan siapa dia berteman”. (HR. Imam Abu Dawud).

 

 

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s