Jodoh yang Terikat

Jodoh terikat takdir

Dalam sebulan ini sudah 9 undangan pernikahan yang aku hadari, seminggu hampir 3x dari tetangga, kerabat, dan sahabat. Total sebenarnya 10, plus 1 menghadiri ijab-qabul sahabat dari adikku, bukan berarti sahabatku, aku hanya sekedar kenal. Kenapa pula harus aku yang datang? Karena Dila adikku? masalahnya adalah mereka sahabat adikku? rasanya itu belum cukup menjawab pertanyaan kenapa musti aku yang datang? Secara pribadi aku tidak cukup mengenal mereka, dan aku ragu mereka mengenalku? Dan ajaibnya aku sekarang berada di sebuah aula gedung, tempat akan dilaksanakannya prosesi ijab dan qabul antara Aya Kumala dan Fadli Muhammad, tiba – tiba saja bayangan wajah Dila menyeruak masuk secara paksa ke dalam pikiranku, benar – benar wajah kesedihan dari seorang gadis yang baru pupus hatinya, melihat pria dambaannya menikah dengan sahabat karibnya sendiri, jangan salah paham dulu tentang hubungan antara Fadli-Aya-Dila, sepertinya memang terlibat cinta segitiga sama sisi diantara mereka tapi kisah ini berbeda dari sinetron kebanyakan, Fadli – Aya maupun Dila tidak tahu satu sama lain bila jadinya akan seperti ini,  mungkin ini yang dinamakan jodoh yang bagian dari takdir, tidak ada satu pun manusia yang tahu ?. Fadli dan Aya melalu proses yang syar’i sampai dengan saat ini, keduanya dipertemukan dalam proses ta’aruf, bermula dengan saling bertukar biodata, pada awalnya biodata Fadli jatuh ke tangan Dila, akan tetapi Dila menolak sebelum diketahuinya bahwa itu adalah biodata Fadli, mantan senior- nya di kampus. Alasan kuat Dila adalah sampai dengan saat itu Dila berniat untuk meminta bantuan Murabbi-nya membantu mengikhtiarkan harapannya yang lain dan oleh karena itu, Dila menyerahkan biodata itu pada sahabat selingkarannya Aya kumala, yang kemudian disetujui pula oleh sang Murabbi, Dila bertindak demikian karena tekadnya sudah bulat dan tak ingin memberikan harapan kosong pada pria manapun- sang Murrabi dan Aya pun tidak mengetahui sama sekali persoalan ini, Dila tak kunjung menceritakan pria idamannya tersebut, Dila menjaga hati dan merahasiakan cintanya hingga tidak ada satu pun yang tahu kecuali ia dan Tuhan, kemudian mungkin aku.

 

Seperti menelan pil pahit saat Dila menceritakan perasaannya padaku, tidak ku lupa sedikitpun suara rintihan tangis Dila yang masih terus terngiang ditelingaku sampai saat ini, air mata menggenang bagai kubangan air dalam lubang matanya, jika kepedihannya meluber buru – buru membenamkan wajahnya ke bantal, hatiku terenyuh bahkan rasanya ikut merasakan sakit yang dirasakan adikku itu, saat ini Dila perlu waktu-nya sendiri untuk intropeksi serta meinginsyafi makna dan hikmah dari ini semua, sungguh tak tega aku dibuatnya. Itulah mungkin yang membuatku menggantikan  posisinya sekarang, menyerahkan hadiah pernikahan untuk sahabat tercinta yang dibungkusnya juga dengan air mata. Aku diminta menyerahkan langsung pada Fadli dan Aya, dan memohon maaf atas ketidakhadiran Dila pada saat ini. Aku pikir hal ini menjadi bentuk penghormatan untuk mereka dari Dila, baiklah aku tak akan mempermasalahkan kenapa harus aku yang datang!

Aku membuka kembali undangan pernikahan Aya dan Fadli, prosesi ijab qabul harusnya sudah dimulai dari setengah jam yang lalu, rupanya karet tidak hanya lengket di permen saja tapi juga lengket di jam, aku bahkan berfikir ini sudah biasa, telatnya sebuah jadwal acara merambah ke mana – mana bahkan diacara sepenting ini ? aku jadi kembali dibuat berfikir tentang kisah Fadli-Aya-Dila, rasanya terlalu rumit aku dibuatnya dan aku tidak habis pikir Dila adikku yang usainya terpaut 4 tahun lebih muda dariku mempunyai keberanian untuk melamar seseorang yang ia harapkan menjadi imam-nya, tidak ada yang salah memang, apalagi jelas alurnya tidak semena – mena, Dila tidak mengatakan langsung pada pria itu tapi menurut rencana akan melalu perantara, walaupun hal itu kini gagal. Sedangkan di usiaku yang tahun ini menginjak 29 tahun, aku masih berfikir bahwa ‘kalau jodoh juga gak akan kemana’ sama dengan ‘kalau jodoh juga akan datang sendiri’. Aku jadi kembali merenung tentang diriku sendiri, melalui kisah ini ?

Sudah kurasakan memang dari 1 jam yang lalu bahwa ada yang aneh dan janggal diacara ini pasalnya kok ? ijab qabul belum juga dimulai ? yang aku lihat bapak penghulu sepertinya lebih gelisah dibandingkan pengantin pria ? Aya pun tak kunjung terlihat ? beberapa orang memisahkan diri yang bila dilihat dari pakaiannya yang seragam seperti sanak saudara kedua calon mempelai ? mereka sibuk sendiri – sendiri ? semua hadirin menunjukan ekspresi yang sama sekarang yaitu heran dan bertanya – tanya ? seperti yang ku tanyakan ? ada apa ? kenapa ? apa yang terjadi ?

Tepat diwaktu 1 jam 20 menit telatnya acara, seorang bapak yang terlihat sepuh dengan kopiah hitam yang menutupi rambutnya yang sebagian terlihat putih berdiri di depan hadirin dan seperti ditindih beban berat di pundaknya yang mulai ringkih bapak itu berkata dengan tertatih dan serak yang tiba – tiba setelah mengucap salam dengan bantuan mic yang terlihat gemetar dipegang, mencoba menyapa kembali setelah beberapa detik terdiam dengan mengucap;

“Terimakasih atas kesediaanya bapak  – ibu, tamu yang terhormat, bapak penghulu, sanak saudara, keluarga besar, sahabat, dan segenap hadirin dari kedua belah pihak calon mempelai yang telah menyempatkan hadir di acara ijab qabul yang kemudian akan dilanjutkan dengan pesta pernikahan antara…” suara bapak itu hilang kemudian, lebih tepatnya seperti tidak dapat melanjutkan perkataannya, akan tetapi dengan mata yang berkaca – kaca bapak itu mencoba kembali bersuara,

“Sebelumnya, saya pribadi Yanto Sutio sebagai bapak dari putri saya tercinta Aya Kumala dan segenap keluarga besar…….. memohon beribu maaf…… maaf sebesar – besarnya atas ketidaknyamanan ini, sungguh tidak terduga dan terencana sebelumnya bila ada ketidaksesuaian dalam acara ini, dengan sangat – sangat berat hati,” setetes air mata akhirnya tumpah di wajah ayahanda Aya Kumala disusul kemudian terdengar gemuruh tangis dari sebagian orang, aku semakin bertanya, ada apa ini ?

“Yang seharusnya, pernikahan ini antara Fadli Muhammad dan Aya Kumala tidak dapat terlaksana, dengan berat hati kami memohon maaf,,,” Aula bergemuruh, orang – orang berbisik – bisik dan bertanya – tanya tentang apa yang terjadi ? aku pun demikian, walaupun tak kusuarakan cukup dalam hati.

“Awalnya kami pun syok dan sulit menerima, hingga memerlukan cukup waktu untuk mengambil keputusan lain yang sesingkat – singkatnya, dengan ketulusan dan keikhlasan semua pihak, pernikahan ini, ijab dan qabul akan tetap terlaksana sebagai mana mestinya akan tetapi pernikahan ini terjadi antara Fadli Muhammad dengan Aisyah Rahma yang tak lain adik dari aya Kumala, sekali lagi kami minta maaf dan memohon restu serta doa yang terbaik untuk kedua mempelai dan keluarga. Dan tak lupa kami ucapkan terimakasih atas kehadiran dan pengertiannya. Saya akhiri dengan mengucap hamdala dan wassalamualaikum, “

Setalah menyelesaikan sambutan itu, bapak  Yanto jatuh dalam pelukan Fadli Muhammad, keduanya berpelukan erat, sangat jelas terlihat bahu mereka berdua yang bergetar, hingga gelombang – gelombang haru seakan menyeruak ke seantero ruangan ini, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi aku dan mungkin sebagian besar undangan yang lain hanya mampu terpaku dengan situasi saat ini.

***

Hampir sama seperti tahapan proses yang pernah kulihat sebelumnya di berbagai acara ijab qabul, dimana ada proses sungkeman ataupun permintaan izin dari kedua kedua calon mempelai kepada orang tua mereka, kali ini aku merasakan jauh lebih mengharukan, bahkan aku pun tak sanggup menahan air mata ketika mendengar Aisyah meminta izin kepada orang tua dan juga sang kaka yang seharusnya ada di posisinya,

“Kepada ibu dan ayah ku tercinta, putrimu yang banyak sekali kekurangan, yang mungkin selama ini banyak salah,, banyak khilaf dan rasa – rasanya tidak cukup mampu membalas budi dan kebaikan kalian, memberanikan diri meminta doa dan restu untuk ini menempuh pernikahan yang berkah. Karena Allah, Aisyah sungguh – sungguh mencintai kalian,,,” Air mata meleleh terungkapkan semua rasa dari permintaan izin Aisyah yang sungguh terdengar tulus hingga tak satu pun tamu yang tidak menadahkan tissue atau apapun untuk menutupi haru mendengarnya, Pelukan diantara mereka pun begitu erat terlihat.

“Untuk Kakakku, Aya Kumala yang aku cintai karena Allah dan kuyakini pula mencintaiku karena Allah, insyaallah aku ikhlas pada apa yang terjadi ini, dan aku pun yakin kakak begitu tulus padaku, tak terkotori sedikitpun prosesi sacral ini yang disaksikan pula oleh malaikat – malaikat Allah, bahwa sebagai manusia tujuan hidup kita hanyalah terus beribadah kepada Allah Subhana wata’ala, doa kan dan restui pernikahan ini kak, agar berkah dan bahagian untuk semua,, “

Ini adalah pertama kalinya, aku datang di acara ijab – qabul yang paling menyentuh, walaupun banyak hal yang dipertanyakan tapi sungguh tak mengurangi sedikitpun khadimat dan khusu-nya acara ini. Seperti yang ku katakana sebelumnya, aku hanya datang menggantikan adikku yang diundang. Oya ? Dila. Bagaimana dengannya ?

Pada detik – detik terakhir menelang ijab-qabul, semua orang mulai gelisah,, calon mempelai wanita yang sebelumnya minta izin ke belakang dengan alasan perutnya sakit, tak kembali ke ruang rias pengantin. Sebelumnya tanpa ada yang curiga, ia pun diizinkan meninggalkan ruangan itu. Walaupun acara harus dimundurkan beberapa menit kedepan sampai menunggu calon mempelai menyelesaikan hajadnya. Semenit yang terlewat berubah sampai setengah jam lebih, calon mempelai wanita tak kunjung muncul. Akhirnya, ia pun disusul oleh adiknya.

Aisyah mengetuk pintu kamar mandi, namun tak ada tanggapan ? malah terdengar suara tangis dari dalam ? Aisyah terus mengetuk dan memanggil – manggil,

            “Kakak….kak Aya, Kak.. buka pintunya ka ? kaka nangis ? kenapa ka ? tolong buka ka pintunya? Kak… “

Setelah cukup lama memanggil dan mengetuk, pintu kamar mandi terbuka, Aya langsung memeluk Aisyah adiknya,

            “Kak kenapa ? kok nangis ? ada apa ka?”

Dalam pelukan Asiyah, aya masih tersedu dalam tangisnya,

            “Kakak tidak bisa menikah dengan mas Fadil Ais! “

            “Kenapa ka ? Hari ini pernikahan kalian”

            “Ndak bisa Ais, kakak…..” Aya sesegukan, bahkan matanya terlihat bengkak, make up diwajahnya pun luntur, entah karena memang telah dihapus sebelumnya.

            “Ais, kaka….” Aya menggantung kalimat yang akan terucap dari mulutnya, seperti menahan sesak di dadanya.

            “Kenapa kaka ?”

            “Kakak,… sungguh tidak berani, kaka gak bermasud berbohong pada siapapun.”

            “Tidak berani apa ka ? berbohong ?” tegas Ais

            “Awalnya kaka pun tidak  mengetahuinya, kaka baru tahu setelah lamaran diterima, kakak menyesal sudah hampir saja berbohong pada mas Fadil dan kalian semua,”

            “Kaka… mandul Ais… kakak gak bisa punya anak… kaka mandul…“ Tangis Aya semakin pecah, semakin terdengar menusuk di hati Aisyah yang juga bercucuran air mata.

            “Kakak gak mungkin melanjutkan pernikahan ini Ais, kakak gak bisa !”

            “Kakak,, kenapa jadi begini? Aisyah merasa sangat sesak mendengar itu ka, bagaimana dengan kaka ? dengan mas Fadil dengan pernikahan ini, bagaimana ibu dan bapak nanti ?”

            “Oleh karena ini pernikahan harus dibatalkan ! “

            “Kakak, aku yakin kalau mas fadil tahu hal ini, pasti mas fadil akan mengerti dan menerima kaka apa adanya. jadi kita tidak perlu membantalkan pernikahan ini ka, “

            “Enggak Ais, walaupun mas Fadil mengerti kaka ragu akan orang tua dan keluarganya, mas Fadil itu harapan keluarganya, dia anak satu – satunya.”

            “Pernikahan ini harus dibatalkan Ais, harus !!!”

            “Bagaimana dengan ibu dan bapak ka ? mereka akan sangat sedih !”

            “Kaka, gak bisa menikah dengan Fadil..Kaka gak bisa !”

            “Aisyah, kalau begitu kaka mohon kamu menggantikan posisi kaka,,”

            “Aisyah? Apa aku sanggup ka ?”

“Kak mohon, !”

Aya menggenggam erat tangan Aisyah, dengan mata yang penuh harapan.

            “Insyaallah,” Aisyah mengangguk tanda setuju.

***

Aya menangis tersedu – sedu dalam pelukan Aisyah, dihadapan sang Ibu, Aya dan Aisyah meminta izin, Ibu Munah pun larut dalam tangis, setelah mendengar penjelaskan putri – putrinya, hingga membuat seluruh anggota keluarga berdatangan, dan mempertanyakan apa yang terjadi diantara mereka ? setelah anggota keluarga lainnya tahu bahwa yang terjadi adalah Aya bersikukuh tidak mau menikah. Bahkan Aya pun meminta ijab – qabulnya dibatalkan! Sontak semua anggota keluarga menjadi marah dan merasa akan menanggung malu yang teramat besar pada semua orang, khususnya pada keluarga besar calon mempelai pria. Akan tetapi walaupun semua keheranan, mendengar aisyah yang akan menggantikan posisi kakanya, hal ini pun menjadi keputusan yang lebih baik daripada pembatalan pernikahan.

Pak Yanto, yang sebelumnya telah diberikan penjelasan oleh putrinya, akhirnya pun menerima dan membicarakan hal itu dengan keluarga calon mempelai laki – laki. Ketika calon mempelai laki – laki ditanya oleh calon mertuanya, ia pun berkata dengan yakin,

            “Niat saya menikah adalah karena Allah, saya yakin Allah terlah mentakdirkan saya dengan pilihan terbaik-Nya. Insyaallah saya terima, dengan ikhlas” hal ini membuat Pak Yanto beserta keluarga besar merasa lega, pihak keluarga mempelai laki – laki pun tidak berkeberatan.

“Masalah jodoh memang unik dan penuh rahasia, jodoh merupakan Misteri Illahi, ada yang sekali taaruf langsung jadi, ada juga yang harus berkali – kali taaruf, ada pula yang menjelang detik – detik terakhir malah gak jadi dan yang gak pernah direncankan malah berbuah pernikahan seperti Asiyah dan Fadil, “

***

“Bener kata kakak, itulah kenyataan tentang jodoh !”

“Terus kamu sendiri bagaimana Dil ?”

“Gimana apanya nih ?”

“Ya, gimana kamunya?”

“kaka sendiri bagaimana?”

“Lah, nie anak ditanya malah balik tanya! Yang pasti sih Kita tidak pernah tahu siapa yang kelak akan Allah datangkan kepada kita untuk menjadi pendamping hidup kita, yang penting ikhtiar optimal untuk mendapatkan pendamping hidup yang terbaik, Juga bersabar dan ikhlas dalam menghadapi ujian jodoh! Awalnya, kaka pikir  nanti juga jodoh kita akan datang sendiri. Tapi sekarang kaka pikir, diusia kaka yang 29 tahun ini kaka harus optimis dan penuh harapan pada Allah, bersabar dalam ikhtiar dan terus berdoa.”

“Aku jadi ingat ka, tentang buku yang aku baca judulnya Teman dalam Penantian , kata buku itu, optimislah, sebab bila ia (jodoh) tidak diberikan di dunia ini semoga kelak diberikan pengganti yang lebih baik di surga. “

Dan orang – orang berkata : “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami dan keturunan kami sebagai ganti penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang – orang yang bertakwa.” Mereka itulah yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sbeaik – baik tempat menetap dan tempat kediaman. (Q.s. al- furqan [25]: 74 – 76).

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s