Tukang Sol Sepatu

Sore ini cerah, walaupun masih ada sisa – sisa hujan sejak pagi tadi yang terus berderai hingga siang hari, hujan yang cukup lebat beserta kilat. Langit kembali bersinar walau awan masih keabu – abuan. Bau tanah bercampur daun kering basah masih menyengat, lalu lalang kendaraan ramai, tak seperti biasanya, pun ramai dengan para pejalan kaki, orang – orang  yang mungkin sebelumnya tertahan di dalam rumah atau kantor karena hujan. Begini pulalah rasanya keluar dari kantor setelah seharian tadi bergelut pada rutinitas pekerjaan yang sedikit bayak membuatku bosan. Setelah keluar kantor rasanya sedikit bebas dari beban pekerjaan ? bahkan sesekali aku merasa seperti balik lagi ketika waktu sekolah yang menantikan bel berbunyi pertanda untuk pulang,  aku pirkir bukan hanya aku saja yang merasakan hal seperti itu ? paling tidak setiap orang pernah merasakannya. (Tidakkah kau demikian ? )

TUKANG SOL SEPATU

Aku berjalan santai sambil memandangi sepatu yang baru ku beli 2 hari yang lalu setalah gajian, memastikan benar – benar terlihat baik dan sempurna di kaki, walaupun sebelumnya sudah ku coba beberapa kali sebelum ku beli.

Aku duduk di sebuah bangku kecil depan warung kelontong, menunggu angkot. Pandanganku berpedar, hanya sekedar melihat sekeliling, kemudian mataku terpaku pada tukang sol sepatu yang duduk tergeletak memandangi dua box hitam di depannya, peralatan kerja yang biasa dipikul. Aku melihat wajahnya lelah. Aku menebak – nebak apa yang dipikirkannya sampai berekspresi demikian ? , tapi sulit bagi ku untuk mengetahui apa yang dipikirkannya ? aku malah bertanya dalam hatiku ?  sesore ini berapakah sudah yang dia hasilkan ? seberapa jauh jarak yang sudah ditempuh ? apakah penghasilnya cukup sebagai tukang sol untuk biaya hidupnya ? biaya hidup keluarganya sehari – hari ? kemudian terbesit sebuah pikiran “salah sendiri jadi tukang sol sepatu ? ini kota Jakarta, dimana kebanyakan orang – orangnya lebih memilih membeli sepatu baru ketimbang harus membetulkan sepatu yang modelnya telah tertinggal beberapa bulan yang lalu atau berapa banyak sih tukang sepatu di Jakarta yang sering lewat atau lalu lalang di sekitar rumah kita ? pastinya tidak sesering tukang sayur yang hampir setiap pagi tidak pernah absen. Astagfirullah, Apa kalian juga berfikir seperti itu? Aku rasa pikiranku sedikit keseleo diakhir. Tukang sol sepatu juga pekerjaan, pekerjaan yang dengan melakukannya dia mendapat penghasilan, membiaya kehidupan diri dan keluarganya. Pekerjaan apapun yang dilakukan seseorang adalah pilihan hidupnya, dengan senang atau tidak, terpaksa atau tidak ada pilihan (keahlian) lain.

Begitulah kita, seringkali menyepelekan pekerjaan orang lain, atau bahkan pekerjaan yang kita lakukan sendiri ?. Sama halnya dengan tukang sol sepatu, dengan kondisi masyarakat saat ini dengan gaya hidup yang kebanyakan mengikuti tren pastinya tidak mudah menjalani pekerjaan itu, akan tetapi diluar banyak pilihan yang mungkin dipikirkan, pekerjaan itulah yang dijalaninya saat ini. Sama kah dengan kita ? dalam menjalani pekerjaan yang saat ini kita lakukan ? aku harap tidak, bukankah pekerjaan yang kita pilih sudah dipikirkan dengan banyak memakan waktu untuk memutuskannya ? atau pilihan keduanya, kenyataan kita sekarang hanya ‘terpaksa’ dengan pekerjaan kita saat ini ? apakah sekarang ini kita tengah rendah diri ? merasa sulit dengan apa yang kita jalani saat ini ? bukan hanya kita saja yang sulit, lihatlah tukang sol sepatu itu !

Pekerjaan apapun yang pastinya halal, harus kita kerjakan dengan mengikutsertakan hati didalamnya, terlepas dari pekerjaan yang mengandalkan otot atau otak. Bagaimana lebih jelasnya pekerjaan dengan mengikutsertakan hati ? tanpa perlu bertanya demikian, jawabannya sudah bisa kita jawab dalam hati kita masing – masing !

“Merasa bahagiakah ?”

“Jika tidak ? “

“Buatlah dirimu bahagia !”

“Keluar !?”

“Jika harus ! Pekerjaan yang membuat kita tidak bahagia adakah jalan lainnya ?”

“Terlalu beresiko untuk keluar, tidak ada pilihan !”

“Nah, itu.”

Kebahagiaan itu letaknya dari dalam hati, maka untuk tetap dalam pekerjaan kita saat ini ikutsertakanlah hati didalamnya, tanyakan lagi ke diri kita untuk apa dan siapa kita bekerja ? berfikir jernih akan setiap langkah yang kita pilih, bukankah pekerjaan ini pun adalah pilihan ? yang mungkin tidak ada pilihan lainnya lagi. Jika dalam diri pun sulit menemukan jawabanya, mungkin jawabanya ada pada tukang sol sepatu ?!.

“Tidak ada pekerjaan yang begitu saja dengan mudah untuk kita lakukan, kawan !”

“Dari Miqdan r.a. dari Nabi Muhammad Saw, bersabda: Tidaklah seseorang makan lebih baik dari hasil usahanya sendiri. Sesungguhnya Nabi Daud a.s., makan dari hasil usahanya sendiri.”(H.R. Bukhari)

Inspirasi yang tak bertepi,

MestiFarah

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s