Jalan yang Berbeda

“Kau melempar perasaanmu seperti batu, membuatku sangat kesakitan!”

Lira menangis tersedu, tangis itu tidak bisa berhenti, ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia tidak peduli dimana berada dirinya dan dihadapan siapa sekarang?. Ia hanya mampu menangis. Rasa sakit itu kembali lagi, tidak cukup kah hanya sekali! Ini hati bukan Dufan?!

“Tidak ada yang bisa aku katakan sekarang ini, sebaiknya kau kembali!” Ucap Dewa menatap pilu gadis dihadapannya ini, mungkin keduanya merasakan hal yang sama, Dewa pun hancur, rasa sakit itu kembali lagi.

tepi tebing

Keduanya diam pada posisi masing – masing, Lira dan Dewa seolah berada dalam tepi jurang yang berbeda. Hanya ada dua pilihan, bersama untuk terjun bebas atau memilih jalannya masing – masing dan melupakan segala hal yang pernah dilewati. Keputusan ada ditangan mereka tapi tak satu pun dari mereka memulai memilih karena keduanya sama – sama menyakitkan! Rasa sakit yang pertama, mungkin itu yang dikatakan jatuh cinta dan rasa sakit yang kedua saat memutuskan untuk tidak lagi mencintai.

Cinta, bukan hanya ada kata “aku” dan “kamu” tapi ada “mereka” . Jika masih ada ego masing – masing dari kita maka itu bukan cinta karena keikhlasan adalah hal yang terindah dari cinta itu sendiri. Pengorbanan yang membutuhkan cinta, oleh karena itu Lira dan Dewa memilih jalan yang berbeda, menjemput takdirnya masing – masing.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s