Doa Menjawab

mesti FarahOrang sering kali menyebutkan bahwa “Doa adalah senjata kaum muslimin” dengan doa, ikhtiar menjadi sempurna. Doa merupakan kekuatan, sumber energy sekaligus bukti pengakuan kelemahan kita pada kuasa Tuhan. Manusia makhluk paling sempurna diantara makhluk lainnya namun punya batas kemampuan, dimana tidak semua yang diingin dengan mudah tergapai, urusan terwujud atau tidaknya itu kehendak Allah. Dia selalu memberikan apa yang kita butuhkan bukan sebatas apa yang kita ingini, Allah lebih me

ngetahui yang terbaik dibandingkan pandangan kita sebagai manusia. Dengan doa kita pasrahkan keinginan kita pada Allah, berdoa adalah kebutuhan.

Doa dapat mengubah kesulitan menjadi mudah, membuat lemah jadi berdaya, kekalahan menjadi kemenangan, dan impian jadi kenyataan, tentunya bagi kita yang yakin akan pemilik kuasa Allah azza wa jalla. Tidak ada yang tak mungkin atas kehendak-Nya, seringkali manusialah yang membatasi pikirannya akan kekuasaan itu. Doa merupakan kebutuhan, akan sangat terasa ketika kita berada dalam kesulitan, keterdesakan. Tentang kekuatas doa, bahkan yang kita anggap mustahil jadi mungkin, tentang kekuatannya doa selalu mengundang datangnya pertolongan Allah, bukti kedekatan seorang hamba kepada Pemiliknya.

Semoga kita selalu yakin dengan doa, dalam lapang dan kesempitan hidup yang kita jalani, menjadikan doa sebagai sandaran dan tradisi atau kebiasaan dalam mengharapkan datangnya jawaban Allah yang Maha Mendengar. Seperti beberapa kisah ini, dimana doa merupakan kekuatan terbesar kita sebagai hamba Allah SWT, dengan kisah ini mari kita merenung, menghayati sebesar apa keyakinan kita pada Kuasa-Nya, sebutuh apa kita akan doa, dan betapa doa dapat menjadi senjata yang paling berharga asal kita yakin, tiada daya apa pun itu kecuali atas dasar kehendak-Nya.

Dahulu seorang laki – laki dari Bani Israil sedang ditimpa sulit. Kepada seseorang ia meminta agar dipinjami uang sebesar seribu dinar. Tapi orang berkata “Harus ada saksi dan penjamin. Kalau ada, aku akan kabulkan permohonanmu.” Karena tidak ada teman yang bisa jadi saksi dan penjamin, lelaki itu menjawab, “cukup Allah yang menjadi saksi.”

“Kalau begitu, “ kata yang akan meminjamkan,

“Kau benar dan bisa diperaya.” Si peminjam tampaknya meyakini kepribadiann lelaki itu, dan lelaki tersebut pun akhirnya mendapatkan pinjaman dengan waktu pengembalian yang telah disepakati.

Setelah jatuh tempo, lelaki Bani Israil itu hendak membayar utangnya. Masalahnya, ia dan si pememberi pinjamin berasa di tempat yang terpisah dari laut, dimana ketika itu tak sebuah kapal pun yang bisa mengangkutnya. Saat ia tak punya lagi harapan, diambilnya sepotong kayu dan melubanginya. Dalam lubang kayu itu,, ia letakkan uang sebanyak seribu dinar dan juga sepucuk surat untuk si pemilik uang. Setelah uang dan surat dimasukkan ia ratakan kembali permukaan kayu itu, lalu dibawakannya pergi ke tepi laut.

Sesampainya di sana, ia berdoa, “Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku telah meminjamkan uang sebanyak seribu dinar dari si Fulan. Ia meminta padaku agar aku menghadirkan penjamin dan aku katakan kepadanya, ‘Cukup Allah sebagai penjamin’ Dan ia pun menerima Engkau sebagai penjaminnya. Ia juga meminta kepadaku agar menghadirkan saksi. Aku katakana bahwa cukup Engkau sebagai saksinya dan ia pun menerima. Sejak tadi aku berusaha mencari kendaraan yang dapat membawaku untuk menyerahkan uang ini padanya. Namun, sebagaimana Engkau tahu dengan pasti, tak satu pun kendaraan yang datang. Sekarang aku menitipkan kayu yang berisi uang miliknya ini kepada-Mu.”

Setelah berdoa seperti itu,, ia melemparkan kayu tersebut ke laut sehingga hanyut di atas air. Sejenak ia memandang, kemudian ia pun berpaling dari pantai laut tersebut. Waktu demi waktu, ia tetap menunggu datangnya kendaraan yang akan ia tumpangi untuk pulang ke tempat tinggalnya. Sementara itu, beberapa hari kemudian, di seberang lautan sana,, laki – laki yang dulu mengutanginya sedang menanti kapal yang diharapnya membawa titipan piutangnya, karena tempo pembayaran sudah jatuh. Sembari menunggu, ia berjalan – jalan menyusuri pantai. Saat itulah ia menemukan sepotong kayu, yang hendak ia jadikan sebagai kayu bakar. Ketika ia membelah kayu tersebut, ternyata di dalamnya ada uang sebanyak seribu dinar dan sepucuk  surat. Ia pun menyimpan uang tersebut dan membaca isi suratnya.

Karena penasaran, suatu saat si pemberi untang mendatang lelaki Bani Israil yang dulu berutang itu sambil membawa uang seribu dinar yang diambilnya dari kayu itu. Ia bertanya, “Apakah engkau mengirimkan suatu untukku?” Lelaki tersebut menjawab, “Aku beri tahu kepadamu, aku tak menemukan satu pun kendaraan yang dapat aku tumpangi ataupun membawa titipan. Maka, aku mengirimnya lewat sebuah kayu.” Si pemberi utang berkata “Sesungguhnya Allah telah menunaikan kewajibanmu melalui kayu itu.” Maka pemilik utang pun pulang sambil membawa uang seribu dinar itu.

Subhanallah, semoga kita punya keyakinan yang sama seperti kedua orang itu, kepada kekuatan doa atas kebesaran-Nya dan penyerahan diri yang pasrah dan hanya berharap atas pertolongan Allah SWT. Namun, di zaman ini sering kali keyakinan kita akan kekuasaan Allah terkalahkan dengan kesombongan yang menyeledangi diri kita, mengaggap yang mungkin terjadi seperti kisah itu hanyalah di negeri dongeng, sedangkan di dunia ini segalanya mudah dibeli, sehingga berfikir bahwa yang mungkin akan menjadi mungkin dengan uang, sedangkan doa hanyalah sebagai jalan lain yang hanya sebatas diketahui, tanpa keyakinan akan dijalani dan sampai pada tujuan yang diharapkan. Begitupula dengan kisah selanjutnya yang sepatutnya membuat kita semakin yakin akan doa yang kita panjatkan, tentang keyakinan dalam berdoa, Allah mengikuti prasangka umatNya, maka berdoalah, Allah senang dengan hambaNya yang meminta dan pasrahkan segala ikhtiar yang telah dimaksimalkan.

Imam Ibnu Hajar Al Asqalani menukil dalam Al Ishabah, sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, bahwa seseorang laki – laki di jalan Rasulullah saw, Abu Mu’laq Al Anshari berangkat untuk berniaga dari Syam menuju Madinah. Dia berangkat sendiri, tidak bersama rombongan karena tawakalnya yang kuat kepada Allah. Ketika kembali ke Syam,, seorang perampok kuda menghadangnya. Perampok itu berteriak, “Berhenti!” Si pedagang pun menghentikan langkahnya, lalu berkata kepada si perampok, “Apa yang kau inginkan dari hartaku?” Perampok itu menjawab, “Harta itu hartaku, dan aku juga inginkan nyawamu.” Si pedagang berkata, “ Tunggu sebentar, beri aku kesempatan hingga aku bisa shalat.” “lakukan seterah kamu, “ jawab si perampok. Sang pedagang lalu mendirikan shalat empat rakaat, setelah itu ia menengadahkan wajahnya ke langit sembari berdoa, “Ya wadud, ya wadud, ya dzal arsyil majid, ya mabdi’u yang ya mu’id, ya fa’aalun lima yurid, as’aluka binuri wajhikalladzi mala’a arkana ‘arsyika, waas’aluka buqadratikallati qaddarta biha ‘ala jami’ i khalaqika, wa as’aluka bi rahmatikallati wasi’at kulla syai’in, la ilaaha illa anta, ya mughits aqhitsni.” Dia mengulangi doa itu hingga tiga kali.

Selesai itu, tiba – tiba muncul seorang pengendara kuda dengan pedang ditangannya. Ketika perampok itu melihatnya, ia menghampirinya. Setelah mendekat, pengendara kuda itu lalu menghujamkan pedangnya ke arah perut si perampok sehingga tewas di atas kudanya. Si pengendara kuda berkata kepada si pedagang, “ Ketahuillah, aku aku adalah malaikat dari langit ketiga. Saat kamu berdoa pada kali pertama, kami mendengarkan suara gemerincing di pintu – pintu langit. Kami pun berkata, “Sebuah peristiwa terjadi.” Lalu kamu berdoa yang kedua, maka terbukalah pintu langit dengan percikannya. Lalu kamu berdoa yang ketiga, maka turunlah Jibril menyeru, “Siapa yang akan menolong orang yang sedang kesulitan ini?” Maka aku pun berdoa kepada Allah agar diberi kuasa membunuhnya. Ketahuilah wahai hamba Allah, siapa saja yang berdoa dengan doamu saat dia terdesak, Allah akan menolongnya da melepaskan kesulitannya”

Pedagang itu lalu mendatangi Rasullah saw dan menceritakan kejadian tersebut. Rasul pun bersabda, “ Sesungguhnya Allah telah menuntunmu dengan nama – namaNya yang baik, yang jika Dia diseru dengannya akan Dia jawab, dan jika Dia diminta dengannya, akan Dia beri.”

Betapa itu semua membuktikan, bahwa Allah lah yang menjawab setiap kesulitan kita, Maka berdoalah dalam setiap situasi sulit yang kita hadapi. Allah maha Kaya, tinggalkan segala ragu untuk meminta padaNya, karena yang telah baik telah dipersembahkan untuk setiap umatnya yang taat.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s