Mereka Mengajarkan Rasa Syukur

 

pengemisHanya sekilas melihat? Jangan hanya mengedipkan mata lalu mengalihkan pandangan kita! Walaupun mungkin kita teramat sering melihat pemandangan tersebut tergelar dihadapan kita bahkan setiap hari, hampir di setiap sudut ibu kota kita dapat jumpai. Walaupun begitu jangan biarkan diri kita menjadi ‘biasa melihatnya’ hingga tak ada sedikitpun perasaan yang menggelayuti hati kita, tanpa rasa iba, rasa kasihan keprihatinan ataupun perasaan seandainya ‘seandainya kita yang seperti itu? adik atau kaka kita atau bahkan kedua orang tua kita seperti itu, bisa kah kita masih tetap bersikap ‘biasa’?

 

Jakarta menjadi segala pusat kemajuan dalam berbagai bidang, pendidikan, tekhnologi, ekonomi, dan lain sebagainya, tapi disisi lain mengapa sebagian dari kita malah mengalami kemuduran kepedulian kepada sesama? mereka mungkin tak meminta lebih dari kita hanya seribu atau bahkan recehan lantas banyak diantara kita mengacuhkan. Mereka diam, sering kali kita melecehkan menganggap rendah apa yang mereka lakukan? Siapapun yang ada diposisi mereka ‘mengemis’ adalah hal yang paling tidak diinginkan dan itu menjadi sebuah keterdesakan yang memaksa mereka berbuat demikian. Tapi sekali lagi bahkan kita mengacuhkan alasan mereka untuk tetap bertahan hidup sebagai ‘peminta – minta’. Jakarta sebagai ibu kota lebih kejam dari ibu tiri, hal itu sudah menjadi stigma sebagian besar daripada kita yang pada akhirnya membuat kita menjadi apa yang sering kita pikirkan tetang kekejaman itu.

jakdasdasdTugas dan kewajiban kita bukan hanya memberi uang, dan bukan hanya uang yang mereka butuhkan untuk hidup. Dan kepedulian bukan hanya berbentuk rupiah, adakah diantara kita yang pernah menanyakan kabar mereka hari ini?  Menanyakan tentang keluarga mereka? tentu hal itu dianggap berlebihan oleh sebagian besar diantara kita, tapi sadar kah kita bahwa mereka telah memberikan sesuatu yang lebih berharga dari sekedar uang, mereka telah mengajarkan  kita arti bersyukur bahwa kita paling tidak mempunyai kehidupan yang lebih baik dari mereka sehingga tidak perlu meminta –minta. Namun, hal itu pun tak kita anggap karena kita lebih sering melihat mereka sepintas dan menganggap biasa apa yang mereka lakukan.  Atau kita telah memberi mereka uang hanya sebatas menggugurkan kewajiban kita memberi tanpa ada perasaan lebih, tentu mereka tidak akan menolak bila dikasih, coba lah beri sesuatu yang lebih daripada uang iringi pemberian itu dengan senyuman dan doa tulus agar kelak kita tidak melihat mereka lagi menjalani kehidupan pengemis tapi berubah menjadi penderma.

Kita pun tahu bahwa ada diantara para ‘pengemis’ yang menjadikan perbuatan pengemis sebagai profesi padahal mereka itu tidak termasuk orang yang boleh mengemis (meminta-minta), misalnya bukan orang miskin tapi mereka memanfaatkan rasa iba orang lain kepada mereka untuk mendapatkan uang. Namun kita pun tidak bisa memastikan siapa diantara mereka yang memanfaatkan situasi itu, mungkin kita hanya bisa menduga tapi terkadang dugaan kita membuat kita malah berfikiran buruk kepada setiap pengemis, kita menjadi was –was sendiri merasa takut pemberian kita kepada mereka disalahgunakan? Sehingga banyak diantara kita ragu dan memilih tidak memberi. Kita menghapuskan kewajiban kita memberi dengan sebuah anggapan yang belum benar adanya, hanya praduga, dan pada akhirnya menganggap perbuatan memberi sebagai kesia – siaan.

asdsadaLain lagi dengan persoalan mendidik seorang peminta – minta dengan tidak memberi karena kekhawatiran pemberian kita yang tak seberapa itu menjadikan mereka nyaman diposisi mereka sehingga membuat mereka terbiasa meminta – minta. Itulah kita yang sering menganggap dugaan hingga akhirnya menjadi sebuah kenyataan. Kalau begitu adanya mungkin kah itu hanyalah alasan kita untuk takut terus – terusan memberi?

memberi sebagian dari apa yang kita berikan tidaklah membuat kita menjadi kehilangan banyak, sedikit yang kita berikan tidaklah seberapa banyak dibandingkan dengan yang mereka berikan kepada kita sebuah peringatan bahwa kehidupan kita yang lebih baik ini sepatutnya disyukuri dibandingkan mereka yang selalu kekurangan dan memaksa diri untuk meminta bantuan orang lain dengan mengemis. Kalau begitu bukan mereka yang miskin tapi kita, kita yang telah memiskan diri kita sendiri dengan tidak peduli, kurang bersyukur. Karena memberi itu adalah salah satu wujud syukur.

Iklan

7 pemikiran pada “Mereka Mengajarkan Rasa Syukur

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s