Girls Perfection

           “Maaf ya Ay, lo gak bisa gabung!”

            “Memangnya kenapa?” tanya Aya dengan nada kecewa

            “Lo seharusnya sadar!” jawab Siska sinis, menarik Aya ke dalam sebuah kenyataan pahit. Aya mematut dirinya, itu tidak adil! Ucapnya membatin.

            “mmmh…suara lo memang bagus, bagus banget! Lo pun cantik, gue rasa semua kriteria ada di lo, tapi grup ini harus sempurna! Dan yang membuat lo beda dari kita adalah….” Siska menggantung ucapannya, menatap Aya dengan tatapan tajam, penuh hujatan. Aya kembali melihat dirinya, benar kata Siska seharusnya gue sadar!

***

“Gue pantes kok ada di tegah – tengah mereka. Mereka sendiri yang bilang gue cantik, smart, berbakat dan yang tak kalah penting suara gue sempurna tapi hanya karena jilbab ini mereka menolak gue gabung ke Girls’ Perfection! Ini gak adil” gerutu Aya. Dinda terdiam, sudah pasti Aya tidak akan mendengarkannya saat ini. Seperti ngototnya Aya yang teropsesi untuk gabung ke girls band yang tersohor itu. Tapi sebagai seorang sahabat Dinda tidak dapat begitu saja terpaku melihat Aya sedih seperti itu.

“Aya, akan ada jalan lain yang lebih baik untuk lo nantinya kok, gue yakin itu karena lo punya kemampuan!”

“Kemampuan? Kaya nya itu gak terlalu berpengaruh deh Din, kalau gue masih tetap seperti ini!”

“Maksud lo Ay?” Dinda mengerutkan dahi,

Aya membelai  jilbab putihnya, jilbab yang menjadi mahkota-nya selama ini.  Matanya tidak berkedip melihat Girls’ Perfection latihan dengan giatnya, 8 orang gadis itu terlihat serius latihan menari, bernyayi  dan beraksi. Sempurna!. Aya, menahan diri! rasa iri tak mampu tertutupi, keinginan Aya saat ini menjadi bagian personil Girls’ Perfection!

***

            “Dindaaa…”

            “Astagfirullah Ay, ucapin salam dulu kek, kok malah teriak sih? Kuping gue pengeng tau!” protes Dinda di ujung telpon sana.

            “Gue seneng banget Dinda, sumpah seneng!”

            “Seneng kenapa?”

            “Gue berhasil ngeyakin Girls’ Perfection untuk nerima gue menjadi salah satu personil Girls’ Perfection.

            “Gue baru aja ketemuan sama Rudy Manager Girls’ Perpection dan semua personilnya. Mereka sepakat nerima gue menjadi bagian dari mereka. Din, akhirnya mimpi gue terwujud.”

            “Din…Din…! Lo denger gue kan?! Kok diam aja?”

            “Iya Ay, tapi kenapa mereka nerima lo?” dengan terdengar ragu – ragu Dinda berucap.

            “Lo gimana sih Din, ya karena gue berbakat! Gue sempurna seperti mau mereka!”

            “Kalau lo seneng, pastinya gue ikut berbahagia untuk lo lah Ay, selamat ya!”

            “Lo memang sahabat terbaik gue Din, coba lo di sini sekarang pasti gue peluk lo erat – erat, “

            “Lo juga sahabat baik gue Ay,”

            “Din, lo gak akan berubah kan?”

            “Berubah kenapa?”

            “Eh salah, maksud gue! gue akan tetap jadi sahabat lo, walaupun gue berubah!”

            “Maksud lo Ay?”

            “Gue…gue mutusin untuk ngelepas jilbab gue Din!”

            “Aya…. Lo yakin mau ngelakuin itu?” Dinda mempertegas nada bicaranya

“Ini kesempatan emas, gue gak mau keduluan orang lain untuk mengisi personil Girls’ Perfection yang lagi kosong sekarang. Lo paham kan?!

 “Din karena lo gue sadar bahwa jilbab itu kewajiban bagi setiap perempuan! Lo udah pake jilbab dari Madrasah dulu, dan sekarang lo mau gelepas jilbab lo itu. Ay, tolong lo pikir ulang lagi Ay!”

            “Din, gue yang minta tolong lo ngertiin gue!”

            “Oke! Gue berusaha ngerti! Tapi bagaimana dengan orang tua lo Ay?”

            “Gue pasti bisa buat mereka ngerti!terutama ibu”

            “Ay, apa lo udah yakin? Jilbab itu yang membuat lo sempurna Ay!”

            “Din, besok lo akan lihat dan semua orang akan lihat gue menjadi bagian dari Girls’ Perpection! Gue yakin itu

***

            “Aya, lo cantik banget! Rambut lo hitam panjang. Sempurna!” Puji Siska, anggota Girls’ Perfection yang lain ikut berkomentar setinggi langit, membuat Aya melayang.

            “Okeh! Sekarang kalian complete, selamat bergabung Aya,” ucap Rudy.

            “Lo bahkan paling cantik diantara mereka!” bisik Rudy pada Aya,

            “AYA..!” teriak Dinda, Aya menoleh ke belakang diikuti Siska, Rudy dan anggota Girls’ Perfection. Dinda berjalan mendekati Aya,

            “Gue gak nyangka lo bener ngelepas jilbab lo Ay, “

            “Kan semalam gue udah bilang sama lo Din, bahkan lo orang yang pertama tahu keputusan gue ini!”

            “Ay, lo ngelapas jilbab lo!jadi ini yang lo maksud sempurna!”

            “Din, udahlah toh semua orang udah tahu gue ngelepas jilbab gue, dan mereka suka dengan penampilan baru gue ini! Bahkan pergaulan gue jadi lebih luas sekarang!”

Aya selalu berpegang teguh pada keputusannya, setiap keraguan selalu ia tinggalkan, baru kali ini Dinda melihat tak setitik pun keraguan itu pada keputusan Aya kali ini.

            “Ini, Jilbab ini yang menutupi setiap kekurangan,” Dinda memegang kuat – kuat jilbabnya, menunjukkan pada Aya bahwa di sinilah letak kesempurnaan seorang perempuan. Aya memilih diam bahkan mengacuhkan Dinda yang tersedu.

***

            “Ibu?”

Aya tersentak, Ibu berdiri tepat di hadapannya sekarang. Aya tergugu, getaran kegugupan medekap dirinya sampai – sampai tak satu pun kata keluar dari mulutnya yang mengutup. Diam, bahkan ketika ibu meneteskan air matanya, melihat lekat – lekat Aya dari ujung kaki sampai ujung rambut.

            “Ibu, aku bisa jelasin ibu. Aku akan jelasin ke ibu.”

            “Aya, penampilan kamu ini sudah menjelaskan semuanya pada ibu. Ibu takut Ay..!”

            “Ibu, maafin aku. Maafin aku akan keputusanku ini. Ibu gak perlu takut aku akan jaga diriku baik – baik ibu, aku janji sama ibu.”

            “Aya, ibu takut Allah akan meminta pertanggungjawaban atas apa yang kamu lakuin ini nak, ibu yang salah. Ibu yang gak bisa jaga kamu baik – baik Ay, ibu bukan ibu yang baik.”

            “Ibu…” Aya meraih tangan ibu dan menciuminya

            “Ibu, maafin aku ibu..”

            “Aya, pakaianmu ini minim sekali Ay, ibu tidak penah membelikan pakaian seperti ini padamu nak, kemana mahkotamu nak? Jilbabmu?”

            “AYA!” Tiba – tiba Rudy datang,

            “eh, maaf menggangu! Aya, kamu sudah ditunggu Girl’s perfection di depan panggung Ay, bentar lagi giliran kita!Ayo”

            “Ibu, ini impianku ibu, aku mohon ibu ngerti ya?!” pinta Aya, Ibu tidak bisa berhenti meneteskan air matanya, baru kali ini selama hidup, Aya melihat ibu sesedih ini.

            “Aya ayo!” Aya mengikuti perintah Rudy untuk segera beraksi ke panggung, meninggalkan ibu…

***

Panggung ini spectacular, semua mata tertuju pada  Girl’s perfection, sorot lampu yang begitu bergemelap menjadikan aku bintang diantar para bintang. Ini mimpiku, impian yang menjadi nyata. Aku dapat beribu pujian, dipuja jutaan orang, ini sempurna!

            “Kamu yang paling sempurna Ay,!” ucap Rudy, Aya tersipu malu. Pipinya merona kemerahan wajah putih bersihnya bersinar.

            “Ini lah jalan kamu Ay,”

            “Dan kamu yang membuat jalan ini semakin nyata Rudy, terimakasih ya!”

            “Aya, aku suka sama kamu!”

            “Kamu bercanda?”

            “Mana mungkin aku barcanda dengan hal sepenting ini terlebih lagi ini soal cinta.!”

            “Kamu mau kan jadi pacar aku?”

            “Pacar?”

            “Iya, kamu juga suka kan sama aku!”

            “Enggak! Kamu tahu aku gak pacaran! Aku gak mau pacaran! Itu sama saja kamu mengajarkan aku berzina! Aku gak pacar – pacaran!”

            “Kamu bilang apa Ay? Hey, kamu gak pacaran!, jangan sok suci!”

            “Maksud kamu apa Rudy?”

            “Dengan mudahnya kamu ngelepas jilbab kamu, lihat dong diri kamu sekarang! Jangan salahkan aku seperti ini, kamu itu terlalu menggoda! Wajar bila setiap lelaki tergila – gila sama kamu, seperti aku ini! Kamu gak usah MUNAFIK! ”

            “Aku gak seperti apa yang kamu bilang!” teriak Aya,

            “KAMU PEREMPUAN MUNAFIK!!!”

***

            BUKAAANNN…..!!!

“Enggak, aku bukan perempuan munafik!!! Bukan!!!”

            “Aku bukan perempuan munafik!!!…”

            “AYA…ay….Aya!!!”

Dinda mengguncang tubuh Aya!

            “Dinda..,!” Aya memeluk sahabatnya sangat erat sampai – sampai Dinda sulit bernapas!

            “Ay, lo kenapa?”

            “Astagfirullah’alazim…. Astagfirullah’alazim…. Astagfirullah…”

            “lo kenapa Ay?? Sampai keringat dingin begini?”

            “Ya’allah itu hanya mimpi.”

            “Lo mimpi apa?”

            “Gue mimpi,”

“Mimpi! Gue ngelapas jilbab gue, gue jadi bagian dari Girls Perfection!”

“Loh? Itu kan memang rencana lo? gue ke sini karena gue pengen negebuat lo merubah keputusan lo itu!”

“Gue gak mau jadi perempuan munafik Din,”

“Gue ngerasa mimpi itu begitu nyata! Lo bener Din, jilbab adalah kewajiban, dengan jilbab kita sempurna!”

Girls Perfection kan juga mimpi lo Ay,”

“Gue udah cukup sempurna dengan jilbab gue sekarang Din. Gue gak akan menukarnya dengan apapun!”

“Allah begitu sayang sama lo Ay.’”

***

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s