Filosof Mencari Cinta

“Ini kisah penuh hikmah. Kamu mesti mendengarnya! Daripada bengong” ucap Egi, tidak memberikanku pilihan. Yasudahlah, aku diam! Mendengarkanya memulai cerita.
“Begini ceritanya, dengerin ya!”
Aku mengangguk!
“Dengerin!”
“Iya, Ini lagi didengerin!”
“ Ada seorang filosof yang ingin sekali menikah. Ia memaksimalkan ikhtiarnya dengan mengutarakan niatnya ini pada kawan – kawannya, tidak lama kemudian salah satu kawannya mengajukan tiga orang gadis, semuanya berparas cantik.”
Egi terlihat sangat serius, aku pun mulai seksama mendengarkan tutur nya.
“Diantara ketiga gadis itu, Filosof merasa kebingungan dalam menentukan pilihan mana calon istri yang ideal untuknya. Dan untuk memantapkan hatinya,…”
“Filosof itu tidak menikah ketiga gadis itu bersamaan kan?!” sergahku, membuat Egi nampak sebal.
“Dengerin dulu, jangan di potong!” protes Egi.
“Iya, silakan diteruskan ceritanya!”
“Filosof itu meguji akhlak ketiga gadis itu dengan memberikan beberapa butir permata kepada mereka.”
“Wow! Permata?”
“Iya, permata yang sangat indah.!”
“Gadis pertama menerima pemberian itu dengan perasaan gembira dan mengucapkan terima kasih. Gadis itu bilang Selama hidup, saya belum pernah melihat permata yang lebih indah daripada ini,”
“Kemudian gadis kedua berkata, Kalau permata ini ditambah dengan emas, pasti akan menjadi kalung yang indah.”
“Setuju banget tuh!”
“Lagi – lagi kamu memotong ceritanya! Dengerin dulu!”
Aku tersentak, Langsung saja aku memasang wajah menyesal dan untuk itu aku membujuk Egi agar kembali bercerita.
“Gadis ketiga berkata, Ambillah kembali permata ini dan simpanlah. Bagiku cintamu sudah cukup “
“Wah keren nie yang ketiga! Gak matre!”
“Nah, menurut kamu filosof itu memilih gadis yang mana untuk dinikahi?”
Aku tidak menyangka Egi meminta pendapatku akan akhir dari ceritanya ini, aku sendiri bingung menjawabnya. Tapi kalau aku tidak menjawabnya Egi pasti akan sangat marah dan menuduhku tidak mendengarkannya dengan serius.
“Ayo jawab!” tukas Egi, membuatku berfikir keras untuk beberapa saat.
Aku harus jawab apa? Yang mana?
“Oke aku akan mencoba menjawabnya, salah gak apa – apakan!?”
“Jawab aja! Salah? Memangnya ulangan umum!”
“Hehe, sebelum aku jawab aku akan menjabarkan sedikit tentang ketiga gasis itu, menurutku gadis yang pertama, berakal cerdik, ridha dengan kenyataan, dan merasa berbahagia dengan pemberian yang diterimanya. Gadis kedua, dari jawabanya yang diberikannya, adalah orang yang tidak ridha dengan apa yang dimilikinya. Adapun gadis ketiga cenderung tidak hidup dalam alam kenyataan sehingga tidak layak memikul beban kehidupan suami – istri.”
“Filosof itu memilih gadis yang pertama untuk menjadi istrinya! Iya kan?”
Egi tersenyum, senyum kecewa yang selalu sama karena aku selalu dapat menjawab semua pertanyaannya dengan sempurna!
“Lagi – lagi kamu bisa menajawabnya dengan baik. Okeh kalau begitu, masih ada satu lagi pertanyaan yang kamu harus jawab kali ini, jawabnya harus YA!!”
“Lah, pertanyaannya dulu atuh!”
“Pokoknya jawabnya harus Ya loh!”
“Ih aneh, yaudah apa pertanyaannya! Aku pasti bisa menjawabnya!”
“Permata, mau kan kamu jadi istri aku?”
“YA. Tuh kan kamu berhasil menjawabnya!”
“Dasar, aku kan belum jawab apa – apa?”
“Aku udah denger suara hati kamu itu, tadi bilang ‘YA’!”
Aku bahagia, sungguh sangat bahagia, Aku menjawabnya
“IYah, kamu benar!”
“Yeaahh,,,!”
“eh, Ntar dulu, Filosof itu aja ngasih permata untuk calon istrinya! Mana permata buat aku???”

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s