Cinta di Langit Jingga

Senggigi-by-xnovelBias Jingga memantul pada lautan hingga menciptakan warna kemilauan emas yang indah dan menentramkan. Suasana sore di pantai kecil, gadis itu melamun di peraduannya, rasa putus asa mendekap, perih sekujur jiwa, namun ia bertekat kuat tak seperti buih di lautan  walaupun pada akhirnya ke pantai juga.

Jingga berjalan cepat nyaris berlari, sambil menahan tangis yang tak ingin ia tumpahkan saat ini. Semakin cepat Jingga berlari semakin bertekat kuat bagi Langit untuk mengejarnya. Langit tak pernah menyerah untuk mengejar cinta Jingga, dan gadis ayu bermata indah itu, tak kan berhenti berlari walaupun lelah melandanya.

Jingga selalu setia menunggu langit di bibir pantai kecil yang mereka namakan pantai cinta, Asmara melanda mereka berdua sebagai sepasang kekasih yang haus kisah cinta seindah dongeng tanpa derita. Mereka selalu berikrar setia di waktu matahari mulai tenggelam, dan langit mulai berganti malam. Langit selalu berbisik mesra di telinga Jingga bahwa hatinya hanya untuk  Jingga seorang. Dan mereka menghabiskan sore di tepi pantai, saat angin berhembus riang, saat ombak – ombak akhirnya ke pantai juga menghantarkan buih yang datang lalu hilang, sekedar singgah namun meninggalkan makna dan hasrat untuk selalu kembali datang.

Itulah masa indah Jingga dan Langit saat mereka menautkan cinta dan berikrar setia. Namun mengingat malam itu di tepi pantai kecil. Ibarat menabur garam dalam luka. Ingat Jingga tak kan lupa. Ketika itu. Jingga yakin,  Langit malam ini tengah sendiri menyepi seperti biasanya di tepi pantai, dan  Jingga ingin meluapkan rindunya pada pria pujangga hatinya. Jingga pun pergi ke pantai membawa berjuta kerinduan bagai bintang menghiasi malam.

Jingga tersungkur bisu dan lemas tanpa kata. Terbawa arus yang sangat deras menghantam karang hingga hatinya hancur berkeping – keping, berantakan. Dengan mata kepalanya Jingga melihat pemandangan yang membuat air mata deras membasah di pipinya, ingin rasanya Jingga menutup mata. Di depannya,  Langit, laki – laki yang amat dikasihinya, dicintainya dengan cinta yang tulus seperti ombak pada pantai, tengah bermesraan dengan seseorang.

“LANGIT….!!!” Teriak Jingga

Langit terhentak kaget melihat Jingga. Ketika dengan mesra Langit bersama seorang wanita di pinggir pantai yang sepi.

“Jingga,,,!?” ujar Langit yang langsung mengejar Jingga.

Bumi seakan runtuh menghancurkan cinta Jingga, hingga ingin rasanya Jingga memudarkan cinta nya pada Langit. Pertanyaan yang sangat ingin di lemparkan Jingga kepada Langit..

“Kenapa dirimu tega menghianatiku?”  Jingga pedih. Matanya tak henti berlinang air mata, dadanya sangat sesak bahkan untuk sekedar bernafas. Batinnya luka berdarah – darah. Cinta yang ia agungkan karang oleh badai yang menggulung – gulung jiwanya.  Langit hanya tertunduk lesu dengan penyesalan yang dalam dihatinya, berbias di wajahnya  yang terlihat tanpa dosa.

“Apa yang kamu lakukan dengan dia? Sungguh menjijikan aku melihatnya?” Jingga menunjuk wanita itu yang diam membisu.

“Jingga, aku akan menjelaskan semuanya!” Pinta Langit dengan iba. Tapi hati Jingga benar – benar luluh lantah, untuk berdiri saja rasanya sulit. Jingga seperti tak menapak di bumi, Air mata Jingga terus mengalir deras. Dengan mata sayu Langit mencoba menyentuh Jingga untuk sedikit memberikan kekuatan pada Jingga yang terlihat sangat lemah tergeletak di pasir tapi dengan sigap Jingga menepis tangan Langit.

“Jingga, melihatmu seperti ini aku sungguh hancur dan merasa semakin berdosa! Aku sungguh mencintaimu, tapi aku pun tak mampu untuk mengendaikan diriku.! Jingga…”

“Kau sungguh – sungguh kejam Langit! Berani – beraninya kau berkata cinta padaku,? nyatanya kau malah menghianatiku,!”

“Aku benci… Aku benci dengan semua ini! Aku benci padamu Lagit!” rasanya jingga tak mampu lagi membendung rasa kecewanya sehingga Jingga dengan sekuat tenaga berteriak meluapkan semuanya..

Namun Langit memilih membisu, mendengarkan semua keluh derita gadis yang telah ia lukai  hatinya itu. Bahkan untuk sekedar kata  ‘maaf’ Langit merasa tak pantas untuk berucap karena Langit sadar perbuatannya tak pantas mendapatkan ampun dari Jingga. Langit pada malam itu seakan runtuh menimpa Jingga,  Pantai Jingga tak lagi indah. Kelam oleh hianat. Langit bagai buih yang meninggalkan luka dan kepiluan, nestapa yang tak kunjung reda.

***

“JINGGA…!!!”

“Ku mohon berhentilah..!!!” Dengan nafas terengah – engah Langit terus mengejar Jingga.  Di pinggir pantai yang sunyi. Dikala laut membawa ombak ke  darat, dan pasir – pasir saling  berbisik. Jingga pun telah lelah tapi sudah Jingga bilang bahwa ia tak kan menyerah, bebas dari rasa sakit yang dahulu menerpa hingga hati nya rapuh menjadi debu.

“Kau yang berhenti! Berhentilah,,! Jangan lagi kau ganggu aku,! Belum cukupkah kau sakiti aku…!?” Teriak Jingga masih dengan pelariannya,

Langit pun tak kan menyerah! Langit semakin mempercepat langkahnya yang maju tanpa ragu, sampai akhirnya Langit berhasil menarik tangan Jingga, hingga Jingga tak bisa lari lagi dari Langit.

“Aku mohon!”

Jingga merontah sekuatnya, tapi  tetap kalah oleh kekuatan Langit sebagai laki – laki.

Sekali lagi Langit berkata memelas,

“Jingga. Sungguh, aku sangat – sangat berdosa kepadamu, tapi ku mohon beri aku sedikit saja kesempatan untuk berbicara kepada mu!? Hanya sebentar!?”

Bukannya Jingga tak ada tenaga lagi untuk kembali melepaskan diri dari ikatan kuat tangan Langit, tapi di hati yang terdalam, jiwanya tak bisa menampik rasa yang belum pamit untuk Langit.

Sesaat Jingga dan Langit berpedar pandang, suara debur ombak menjadi latar soundtrack adegan mereka yang diam tanpa kata.

“Aku….” Ujar langit menggantung,

“Jingga, pertama kali aku melihat mu di pantai yang kita nama kan panti cinta ini, hati ku merasakan sesuatu yang luar biasa. Aku mengakui bahwa itu adalah cinta!”

“Jingga, aku yakin kau merasakan hal yang sama!”

“Jingga, aku mencintaimu…!” Ucap Langit,

“Langit! Kau benar – benar tega! Berani nya kau bilang cinta padaku tapi di sisi lain kau menghianatiku!  Apa ini yang kau namakan cinta?!” Tukas  Jingga penuh amarah dan nada – nada kecewa.

“Jinggga, maafkan aku….!”

“Sekarang kau malah bilang maaf!? Sadarkah dirimu atas perbuatanmu itu!?”

“Ya! Itu adalah sisi lain dari diriku. Jujur ku katakan padamu bahwa wanita itu adalah seseorang yang sangat berarti bagiku,“

“Itu berarti bahwa kau lebih memilihnya?”

“Langit, aku sungguh tak mempercayainya, benarkah ini adalah dirimu yang sebenarnya?”

“Inikah cinta Langit kepada Jingga!”

Langit hanya dapat berpandang penyesalan kepada Jingga.

Jingga tak ingin lagi berurai air mata, mungkin karena hatinya telah kering kerontang bagai ladang – ladang tak bertanam. Mendengar pengakuan Langit, hati Jingga sebenarnya tak kuat! Sakiiiit…!tapi Langit telah memutuskan jalan mana yang dilaluinya bukan bersama Jingga. Sedangkan Jingga hanya bisa menerima cintanya karang oleh debur ombak dilautan.

Dan setelah peristiwa  itu, Jingga tak ingin lagi menjadi pantai, Walau ombak salalu datang dan lagi datang. Walau buih selalu singgah menitipkan pesan maaf dan penyesalan, namun Jingga tetap memilih mendekap sisa – sisa kepingan langit yang waktu itu runtuh menghacurkan harapan dan cintanya. Jingga tetaplah Jingga di peraduannya yang syahdu penuh kedamaian, menyandar pada matahari yang terbenam dan ke esokannya muncul lagi memberikan terang.

Ku titipkan hembusan rindu pada angin yang membawa laraku ke timur,

Lewat bintang aneka warna ada gemerlap harap benerang doa

Pada dirimu yang membalut kenangan kedada waktu,

Lalu kau dekapkan pada musim rinai hujan yang tak pernah berhenti berderai.

Rasa kehilangan merajam pilu nyaris membisu, membuatku kelu mengeja namamu

 

Langit Jingga tiada cinta

lirih hati terus mendera, rasa itu membuat ku jera.

Namun, dirimu tetap meraja.

Resahku perlahan larut memintal untaian ikhlas tak berbalas.

Mimpi itu pernah tercipta, kini lebur bersama masa.  

 

Jejak memintal waktu

Setiap detik mengusik kalbu

Cinta, biarkan hati membisu

Lalu membeku

Bersama kenangan yang lalu

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s