Cita dan Cinta

“Ooo…………..”.
Teriakan itu seakan memanggil ??

Aku menoleh kebelakang, kudapati seseorang yang tidak begitu kuharapkan.
“Gak denger y? Make jilbabnya terlalu rapat sich? Ketutup banget dhe kupingnya ? Dari tadi tau dipanggillin !”

…”Ooooh,, Maksudnya manggil siapa?” Tukas ku ketus

“Ya, kamu lah! “

“Ooh, ” Aku semakin gerah. Padahal matahari belum pada puncaknya

“Ooo, sinian dikit napa! Ada yang penting nie yang mau aku omongin ?” Aku memilih selangkah menjauh darinya.

“Penting buat kamu belum tentu penting buat aku y?!”

“Kok gitu sich?”

“Harus berapa kali sich? Kaya nya udah teramat sangat sering BANGET dhe
…dikasih peringatan ! jangan pangil O !” Kalo masak air, udah mendidih kali.  Amarah sepertinya sudah pantas untuk ku siramkan pada orang ini

“Udah biasa kan!”

“Ya, jangan dibiasaain!! Tukas ku ketus

“Apa salahnya sich? lagipula nama kamu terlalu panjang buat dipanggil. Biasanya kan emank semua orang panggil nama, ya. Huruf depan atau huruf belakang nya aja! kaya aku contohnya, anak – anak manggil aku Var atau Dov, kaya nya jarang banget yang panggil nama lengkap. Dovar?. So, nama kamu cukup keren kok di panggil Oo…, karena nama Ryza udah kebanyakan! ORyza itu kepanjangan”

“Ooooo!” sambungnya dengan gaya memoncongkan mulut dan menggerakkan tangannya ke depan wajahku seperi mau merawuk. Aku menatapnya jengah.

” Oke, Kita masuk ke intinya,”

“Eh belum ada kesepakatan ya , aku  mau ngomong apa gak ?!” Potong Ku,

“Nach itu udah ngomong. Lagipula dari stadi kita udah ngomong tinggal pada intinya aja,,!”

Aku males menanggapi orang ini, yang tidak akan pernah bisa diem sebelum diladenin, aku terpaku. Membisu. Mau gak mau menunggu ujarnya. Daripada dia banyak tingkah nantinya

“Oo…!”

“Jadi begini…..,” Seriusnya

“Eh, tapi sebelumnya. Perasaan kerudung yang kamu pakai semakin lebar & panjang aja? Bisa buat ngumpet tuch!!”

Tuch kan…!! Ngerti kan?! ada  aja ulahnya. Bukan hanya sekedar bulu kuduk merinding di dekatnya! Bahkan aku tidak pernah mengharapan orang ini hadir atau sekedar numpang lewat dalam kehidupan ku. Ngeselin bin nyebilin.

Pandangan mata nya tak pernah lepas dari wajahku, seolah puas dengan iringan tawa yang amat geli ketika dia berhasil mengangkap kekesalan diraut wajah ku yang tak bisa ku sembunyikan.

Sudah cukup!!! Aku mantapkan diri, meninggalkannya yang masih asik dengan sesuatu yang tidak sama sekali kuanggap lucu !!!. Waktuku seakan terbuang sia – sia menanggapi Dovar Satria Wiguna.

***

Oryza Putri Rahma Itu bukanlah nama  tiga orang tapi milik satu orang gadis. Oryza Putri Rahma . Oryz, begitu biasa ia dipanggil, sedikit orang memanggilnya putri, Oryza, dan hanya ada satu orang yang memangginya ‘O’ dan belum ada yang memanggilnya Rahma.

Salah satu kewajiban orang tua pada anaknya adalah memberikan nama yang baik. Sebab, nama itu adalah bentuk doa, jadi jika ada sebagian orang yang mengatakan ‘apalah arti sebuah nama?’ emangnya dia mau namanya diganti jadi nama – nama tumbuhan atau bahkan bintang?.

Nama ibunya adalah Rahma, dia adalah putri satu – satunya keluarga H. Soleh. Apabila dipenggal dari setiap kata dari nama Oryza Putri Racmah , nama gadis bermata bening itu. Oryza,  dari bahasa Latin yang artinya padi, hanya kutipan dari ‘Oryza’ Sativa L Mengambil dari filosofi padi itu sendiri, bahwasannya sepiring nasi sebelum disantap, dimulai dari proses  yang cukup panjang. Padi tertanam ditempat yang penuh lumpur. Setelah padi menguning dan telah diberi pupuk, para petani mulai memanennya dengan proses  selanjutnya dipukuli kesebuah papan agar bulir – bulir padi rontok, kemudian padi akan dibawa dan dituang disebuah lesung untuk sekali lagi dipukuli oleh alu – alu. Dan dari alur yang melelahkan itu padi telah dipenuhi sesuatu yang berguna dan dibutuhkan banyak orang. Yang pada akhirnya menjadi makanan pokok manusia, khususnya di Indonesia. Sang ibu sengaja menyematkan namanya kepada buah hati terkasih yang juga merupakan bagian dari doa terindah yang dipersembahkan orang tua kepada anaknya.   Oryza Putri Rahmah Harapannya, nama tersebut bisa menjadi kekuatan bagi putridsatu – satunya ibu Rahma dan bapak H. Sholeh yang kelak dalam perjalanan hidupnya pasti akan melawati aral – rintangan dalam menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Sederhana, dimana setiap orang tua menginginkan anaknya berguna bagi kedua orang tua, agama, dan bangsanya. Sesederhana pikiran ibunda Putri yang menginginkan anaknya laksana padi yang dapat mensejahterakan banyak orang.

“Sebaik – baiknya manusia diantara kalian adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain” (H.R. Bukhori).

Seorang Putri melenggang santai di pelataran jalan. Pepohonan rindang menaunginya dari terpaan langsung sang raja siang. Langkah kaki yang maju tak ragu. Sesekali menengok ke kanan dan kiri, hanya satu – dua sepeda motor melintas. Jalanan komplek yang terbiasa seperti ini. Sepi. Matahari berada tepat diatas kepala. Menaiki singgasana tertinggi membuatnya perkasa ditengah siang yang telah membuat banyak manusia di sebagian bumi berpeluh keringat, tak terkecuali Oryz yang menyusuri sepanjang jalan ini untuk bisa naik angkot di ujung jalan.

Tak ada yang salah dengan bola cahaya itu! Oryz mencoba menerobos sinarnya. Entah sekedar iseng atau memang merasa tertantang untuk melihat wujud sebenarnya dari dia yang begitu seolah berkuasa atas siang yang diciptakan Tuhan dengan begitu sempurna. Oryz memulai dengan mengedip- ngedipkan kelopak matanya sebagai pemanasan. Mengangkat kepala tinggi – tinggi, lalu membuka mata! menatapnya. Usahanya cukup maksimal hanya mampu menahan pandangan beberapa detik bahkan kurang.

Ooh, Sepertinya Oryz memang nekat !

Alhasil pandangannya kabur, Oryz menutup matanya cukup lama dengan posisi tetap berdiri. Mencoba membuka matanya pelan – pelan, malah senyum membias dibibir tipisnya, seolah menertawakan dirinya sendiri dengan tingkah nya yang terbilang aneh. Nyeleneh.

Ketika pengelihatanya telah kembali normal Oryz dikagetkan dengan pemandangan di ujung jalan sana yang membuatnya terkaget – kaget. Rupanya ada dua orang yang seolah memandanginya penuh delik?

“Aaakhhhh,,,, ??!”

Oryz berteriak..????!!

‘Auwww.. Aduhhh..!” Oryz mengadu

“Kenapa bisa ada lubang di tengah jalan kaya gini sich?’ Gerutu Oryz! Sudah ada di dalam lobang. Ya, Oryz terperosok ke bawah! Karena keasikan dengan eksperimennya, Oryz tidak melihat ada rambu – rambu jalan menunjukan ‘Hati – Hati ada perbaikan jalan!!!’

“Mbak….!!!? Mbak baik – baik aja kan?”

Oryza mengangkat wajahnya. Bukan lagi sakit yang dirasa Oryz atas beberapa goresan luka di tubuhnya. Tetapi MALU !!!

Matahari seakan menertawakannya atas kekalahan telak yang didapat Oryz ! Membuat wajah Oryz lebih merah dari kepiting saos padang,,,

Ooowh,,,, !!!

“Mbak….!!!”

Oryza tidak berani mengangkat mukanya kembali.

Kedua laki – laki itu seolah sedang berdiskusi, bagaimana? membantu gadis ini?. Tetapi Oryza tak lagi berharap ditolong.

Mata Oryz memastikan siapa dua orang laki – laki ini,

Mereka ? Ampun!ouh…!!!

“ Ane cari sesuatu dulu !” kata Rian kepada Faiz.

“Tunggu dulu yach mbak, temen saya lagi cari sesuatu dulu untuk ngeluarin mbak!”

Oryz hanya berani menjawab dengan anggukan. ‘Ya, Keluar dari lubang buaya ini dengan segera! Tapi kok si Ian belum sadar sich? Kalau nie aku, “ Hati Oryz berbicara. Berdebar dan gemetar. Tidak lebih dari beberapa menit Rian kembali dengan membawa sebatang kayu.

“Pake ini aja Iz! Ane rasa bisa, Insya Allah.” Dengan sigap mereka mencoba menolong dengan memberikan sedikit arahan terlebih dahulu.

“Maaf , pegang ini aja ya mbak !?.

Rian dan Faiz memegang kayu itu, yang dirasa cukup kuat dan panjang sehingga bisa menjadi alat bantu untuk Oryz agar dapat naik dan pelan – pelan keluar dari lubang! Oryz sempat tergelincir karena rupanya tanah yang diinjaknya basah,

“Coba lagi mba! Kita tarik sekuatnya” sergah Rian. Oryz tak menyerah.

Setelah penuh perjuangan, Oryz mengucap hamdalah dengan nafas ngos – ngosan, kelelahan.

“Ahmdulillah,, “ Ucap Faiz bersamaan dengan Rian.

“Sepertinya, Luka – lukanya banyak mbak! Mbak ngerasa kesakitan banget yach? Kita antar ke rumah sakit terdekat ya?” tanya Faiz yang memperhatikan Oryz yang sedari tadi hanya merunduk?. Oryz malu ke ubun – ubun rasanya.

Sedangakan Ikhwan yang satu nya lagi seolah sedang berfikir dan menarik kesimpulan dengan bergumam,

“Oryz ?? “

Akhirnya  ngenalin aku juga. Tapi kenapa distuasi seperti ini? Dan kenapa ka Rian ada di sini?!!

“Oryz ? “ Rian mengulangi dengan nada keterkejutan

“Mmmmmhh.. IYA?  ” Oryz menjawabnya,

“Kamu kenal Ian?”

Oryz tidak bisa lagi menyebunyikan wajahnya. Hanya ekspresi yang sedatar mungkin yang bisa ia tunjukan kepada kedua orang yang telah baik hati ini memenolongnya.

Gadis mungil ini mencoba berdiri, berusaha meyakinkan kedua ikhwan ini dan dirinya bahwa tidak ada luka yang parah. Semuanya baik –baik saja kecuali malu itu. Padahal dibalik balutan baju muslimahnya, Oryz merasa meringis sakit. Hanya goresan tipis melukai wajahnya yang tidak dapat disembunyikan.

***

Bermula dari sebuah kata yang akhirnya selalu terngiang yaitu “Sebel!” yang selalu ku rasakan setiap kali dia didekatku. Kehadirannya, membuat ku tiba – tiba menjadi uring – uringan gak jelas? Siapa yang gak sebel coba? kalo ada seseorang yang mengatakan padamu sebuah kalimat yang sangat menyebalkan! Cewek berkerudung taplak! Pasti sebel kan tapi sebagian orang malah menafsirkannya Seneng Betul! Semuanya tambah nge-bete-in!. Begitulah Dovar tidak pernah berubah sedari dulu. Dia memang begitu! Mungkinkah ini caranya mengambil simpatiku kemabali?

“Jilbab yang lo pake hari ini, motifnya kaya taplak di rumah w!hehehe” ejek Dovar, sungguh Laki – laki ini menyebalkan. Padahal ini salah satu motif bunga yang aku suka.

Oryz didera kepiluan. Dulu, dimana pernah ada nama Dovar Satria Wiguna mengisi relung hatinya tentang pacar pertama. Astagfirullah, itu dulu dimasa lalu. Saat jahiliyah Oryz ‘dulu’. “Kamu bisa berubah atau merubah diri kamu seperti apapun yang kamu mau, tapi kamu tidak bisa merubah perasaaku untuk kamu! tidak akan pernah! Dan aku akan membuatmu tidak mampu melupakan masa lalu kita” Oryz tidak bisa. Benar – benar tidak lupa, melupakan sepenggal kata pun tidak mampu. Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan Dovar, saat Oryz memutuskannya! sebelumnya hijrah pada jalan cinta Nya.

Oryz memilih menghabiskan waktu siangnya di taman, duduk – duduk santai di bawah pepohonan rindang yang menawungi dirinya dari sengat langsung sinar terang sang raja siang. Pikirannya menerawang. Mungkin ikut bersama angin timur ke masa lalu, menerbangkannya ke lelaki itu?. Selalu saja, dengan tatapan yang sama Oryz memandang arakan awan. Dan kenangan itu seperti hantu terus menggerayangi tanpa henti.

“HEY…! “

Oryz! Berada dimanakah jiwanya? Rasa – rasanya tak akan ada yang  mampu menebak pikir gadis ini. Liahatlah,,, Lihat saja!

“ Oryz! “

Oryz tersentak, kaget bukan kepalang setelah tersadar dengan sebuah tepisan di pundaknya. Seseorang yang amat dikenal berdiri di hadapannya sekarang. Seorang lelaki yang tegap! Rapih, dari tubuhnya tercium aroma harum yang lembut tapi cukup menusuk ke hidung. Siapakah ia? Yang telah mengusik lamunan Oryz, dalam keasikannya.

“Maaf mengagetkan ya!”

Oryz diam. Enggan  rasanya Oryz menjawab, karena ‘Ya’ amat mengagetkan!

“Aku gak maksud mengganggu, hanya,,,”  Belum sempat ia melanjutkan kata, Oryz terlampau gerah dan bersegera enyah. Bergegas Oryz pergi meninggalkan lelaki yang hanya bisa terpatri diposisinya berdiri.  Oryz melangkahkan kaki nya cepat,

“Ooo….eh,,,,Oryyza… itu….!!!!” Dia malah mengejar dan berteriak – teriak memanggil. Oryz semakin mempercepat langkahnya, nyaris berlari. Tapi lelaki itu tetap mengejarnya. Hampir sejajar, lelaki itu lebih cepat berlari. Menyeimbangi kecepatan Oryz berlari. Oryz tidak berhenti erus berlari.

“Oryz. O…eh Oryz,..,,,! Berhenti dulu, aku gak akan macem – macem kok!!!” Kata lelaki itu cukup keras. Tapi Oryz  tak percaya, Oryz memilih terus berlari. Dan sampai akhirnya Oryz!!!? AAa….H…!!?

“Oryz… Oryze kamu gak apa – apa ?”

Oryz tersungkur ke tanah. Lebih tepatnya lagi terjatuh! Darah merembes dari lututnya. Oryz mencoba berdiri dan menahan sakit yang tergambar jelas di raut wajahnya.

“Oryz sungguh, aku minta maaf!” Ucap lelaki itu. Sekilas Oryz memandang ke wajah putih di depannya, kata – kata ‘ sungguh’ yang keluar dari mulutnya mengena di hati Oryz.

“Maaf kan aku, jika sikap ku salah kepadamu, tapi apa yang aku lakukan agar kita,…”

“Aku tidak mampu melupakan kisah kita dulu, Dan pas kamu lari, aku melihat……” Lelaki itu menggantung bicaranya. Terlihat ragu – ragu berucap. Menelan ludah lalu,

“Melihat Darah!”

Oryz mendelik? Maksud dari Dovar apa? Pikirnya

“Maaf ya O, sepertinya kamu tembus! Eeemm, lagi halangan yach?”

Sumpah, wajah Oryz seketika memerah, dan langsung berdiri, sakit dilututnya terkalahkan dengan rasa malu gak ketolongan. Oryz segera melihat ke bagian belakang tubuhnya. Benar saja! ‘Aduh, kenapa bisa lupa, gak sadar! Malu – maluin diri sendiri’ gerutu Oryz dalam hati. Oryz jadi salting!

“Maaf, !” Oryz spontan kata itu keluar. Menunduk lesu, tak berani sudah menonggakkan kepalanya.

“Lho, kok jadi kamu yang minta maaf, aku…!”

Oryz mulai gerasak – gerusuk ! ‘ bagaimana? Ini? Lutut nya terluka, membuat ia kesulitan berjalan, ditambah lagi rok biru yang ia kenakan kotor. Oryz dibuat semakin cemas! Aduh, rasanya tidak mampu bergerak! Kaku. sakit. Dovar menyadari kegusaran hati gadis di depannya ini?! Pasti malu!.

“O..eh Oryz..! maaf . Oya  silakan pake jaket aku untuk menutupi itu,,”

Oryz tidak punya pilihan untuk tidak menerima pertolongan Dovar. Oryz mengambil jaket hitam itu dan langsung melingkarkan ke pingganya.

“Terus,, luka di kaki kamu. Sini aku yang obatin. Itu gara – gara aku!”

Oryz menolak, bahkan tidak membiarkan Dovar melihat dirinya dengan pandangan nanar seperti itu! Oryz berusaha menguatkan diri dari rasa sakitnya.

“Oryz,  aku mohon! Izinin sebentar aja, aku ngomong serius ke kamu!”

Oryz memilih tetap diam.

“Bentar lagi kita sama – sama lulus kuliah. Aku inget waktu pertama kita masuk kuliah bareng, waktu kita…”

“Aku diam bukan berarti aku mau mendengarkan kamu, tapi aku gak punya pilihan! Tapi aku mohon Dovar! Jangan pernah membahas masa lalu kita!” Potong Oryz dengan nada cukup tinggi. Dovar terdiam.

“Baik. Aku gak akan ngomongin masa lalu, tapi aku mohon kamu dengerin aku baik – baik, !”

“ Aku akan ngomongin masa depan, ini serius!. ” Dovar mencercar. Wajahnya memelas memohon.

“Aku mau nikah!”

“Nikah sama kamu, Orz!”

“Apa?”  Sungguh terkejut Oryz dibuatnya, ‘nikah?’Dovar melamar Oryz. Masa depan? Nikah?

“Aku yakin ini benar. Kalau orang – orang mikirin masa depan mereka setelah kuliah nanti bagaimana? mikir cari pekerjaan atau bahkan meneruskan kuliah lagi. Sedangkan aku memikirkan sebuah pernikahan, bersama dengan orang yang teramat aku cintai, dari dulu hingga sekarang. Yaitu Oryz Putri Rahma, hanya kamu seorang!”

“Aku yakin ! Bukankah kita juga pernah memimpikan hal ini juga?!”

Apa yang harus Oryz katakan? Sedangkan diam juga bukanlah jawaban.

***

Selapas shalat isya. Oryz keluar kamar menuju ruang keluarga, antara ruang tamu dan ruang makan yang tersekat tirai. Sang Ayah rupanya telah menanti anak semata wayangnya ini dan langsung terkesigap, menegakan posisi duduknya.

“Kata Ibun, ayah manggil aku.?” Tanya Oryz sebelum mendudukan tubuhnya di atas Sofa.

“Ibun mana?” ayah balik tanya

“Masih di kamar Oryz tadi.”

“Ada apa yah?” Oryz jadi penasaran.

“Oryz kita udah besar ya pak. Namanya orang tua manggil anak. Lah bukan suatu yang salah kan!?” Ibun tiba – tiba saja menimpali

“Iyah Ibun. ? Iya Ayah,” Oryz tersenyum lebar kepada mereka. Sungguh anugrah terbesar bisa melihat kebahagiaan mereka. Oryz selalu bersyukur dan bertafakur akan segala ni’mat berada dalam keluarga kecil ini. Dimana ada Oryz, Ibun dan ayah.

“Benar bu, Oryz kita sudah besar. Bentar lagi wisuda. Waktu sungguh tak terasa ” Kata ayah tak lepas pandang pada malaikat kecil yang telah berubah menjadi bidadari dihadapannya. Begitupun pandangan Ibun, sorotan kasih sayang yang terang benerang,

“Oryz, ayah dan Ibun sayang sekali dengan kamu. Tak perlu kau ragukan kasih Ibun dan ayahmu ini. Kebahagian kami adalah ketika melihatmu bahagia. Ayah tahu, kau ingin sekali melanjutkan study mu, kami pun bangga dan sangat mendukung keinginanmu itu. Ayah sering bilang kan, bahwa belajar itu adalah sebuah harga diri dan harga mati, maka selama kau masih ingin hidup teruslah belajar. Mengenai kelajutan kuliahmu S2 ke luar…..”  mata Oryza berpedar. Seumpama letupan kembang api yang menyembur ke angkasa. Oryz pun baru menyadari sebentar lagi keinginannya terlaksana. Insya’allah belajar ke luar negeri. Tapi kalimat ayah masih menggantung.

Sedetik semua diam. Ibun seolah memberi isyarat kepada ayah untuk melanjutkan perkataannya, ayah pun tanpa ragu lagi berkata,

“Kami ingin, sebelum Oryz melanjutkan kuliah S2 keluar negeri nan jauh disana. Oryz menikah terlebih dahulu, agar ayah dan Ibun tenang. Oryz tahu sendiri, ayah dan ibun tidak dapat menemani. Dan kami cemas, sungguh cemas akan nasib kau dinegeri orang!”

Rasa keterkejutan yang luar biasa tapi ditutupi itu, seperti menyembunyikan petasan di dalam tas yang akhirnya meledak. Memang hanya asapnya saja yang mungkin bisa terlihat sampai ke luar tapi isi tas nya mungkin sudah hancur tak karuan, sama dengan perasaan Oryza yang tak bisa ditembaknya. Bingung atau malah linglung?!

“Oryz anak ayah dan ibun. Sebagai orang tua ayah dan ibun tidak akan memaksa, akan tetapi tolong kau pertimbangkan harapan kami, ini tidak lain dan tidak bukan hanya untuk kebahagian dan keselamatanmu sayang,”

Oryz beranikan diri untuk memadang kedua orang  tua yang teramat dikasihinya dengan segenap rasa hormat. Tidak sedikitpun Oryz melihat sebuah tekanan ataupun paksaan, yang ada hanya wajah – wajah penuh belas kasih tanpa pamrih.

“Oryz, tidak usah bingung atau takut. Segala keputasan ada ditanganmu sayang, sertakanlah Allah dalam setiap pilihanmu, “ Ucap Ibun, suaranya lirih terdengar sendu di telinga Oryz.

“Oryz masih kaget Ibun, atau..” kata ayah mulai menerka

“Oryz bingung karena belum ada ?” keluarlah tanya dari ayah

Oryz masih tertunduk. Bukan tidak ingin menjawab, Oryz pun tengah bertanya pada hatinya

“Sebenarnya ada seseorang yang telah memintamu pada ayah dan ibun, tapi itu semua tergantung Oryz. Kita sebagai orang tua tidak ingin memaksa, ini bukan zaman siti nurbaya. Ayah pun tidak ingin menikahkanmu dengan orang macam datuk maringgi,”

Menikah? Sudah terskenariokah? Tadi siang seperti petir di siang bolong Dovar melamarnya.iba – tiba? Sekarang kedua orang tuanya  mengejutkan dengan sebuah perjodohan, bukan pejodohan, ayah memang tidak bilang akan menjodohkan Oryz akan tetapi bila ayah telah berani berkata demikian, Oryz yakin ayah telah berani menaruh harap pada putrinya ini, pada seseorang itu, entahlah siapa dia? Oryz pun segera mencari tahu, siapakah yang telah memintanya pada ayah dan ibun.

“Ayah..” Oryz menatap lekat wajah ayah yang mulai menua

“Ibun,,” Kemudian melemparkan pandangan pada ibun.

“Kalau Oryz boleh tahu, siapakah yang telah berniat pada Oryz?”

Ayah dan ibu kembali saling menatap, mengisyaratkan sesuatu, yang membuat Oryz semakin penasaran.

“Oryz mengenalnya, mungkin sangat mengenalnya,ya kan yah?!” Ibu tersenyum pada ayah kemudian menabur senyum bunga mawar itu pada Oryz,

“Dia Rian, Oryz sangat mengenalnya kan? Ibun masih ingat bagaimana dulu kamu ingin sekali sekampus dengannya dan kamu sangat sedih ketika Rian lulus duluan dan langsung melajutkan study nya keluar negeri. ” yakin ibun mengenangnya, Rian.

Masya’allah. Ka Rian? Cinta pertamanya? dulu, di masa lalu..?? Kini kembali, dengan membawa harapan dimasa depan untuk membangun sebuah mahligai. Oryz memutar ingatnya ke beberapa tahun silam, betapa nge-fans nya Oryz pada ka Rian yang tampan, pintar, mapan dan Lelaki sholeh idaman sejuta wanita, termasuk dirinya saat itu. Namun, cinta Oryz pada waktu itu tak berbalas, bertepuk sebelah tangan, Rian adalah lelaki yang mengharamkan pacaran. Terus Bagaimana dengan Dovar? pacar pertamanya di masa jahiliyah.  Oryz terlalu terkejut hingga tak mampu menjawab lamaran Dovar. Oryz belum menjawab ya ataupun tidak. Bukan bermaksud menggantung lamara Dovar, Oryz selalu ingat pesan Ibun, ‘sertakan Allah dalam setiap keputusan kita’. Oryz tidak ingin gegabah!

***

Mereka datang disaat yang bersamaan,. Rian dan Dovar, dua orang dari masa lalu yang kini menawarkan masa depan. Sebuah pernikahan. Tidak menyangka, inilah tadir Tuhan. Sedangkan dipikirannya, terbayang mimpi besarnya study keluar negeri. Pernikahan, Oryz berencana setelah lulus S2 diluar, toh Oryz masih muda, dibandingkan teman – temannya seangkatan yang lulus tahun ini, Oryz paling muda. Di waktu SMA Oryz mengikuti kelas acselaersy. Dan sekarang Oryz harus memilih, salah satu dari mereka atau tidak memilih keduanya?. Oryz merenungi hati dan perasaannya. Bertanya pada diri sendiri, tentang cita dan cinta. Benarkah Oryz mencintainya? atau itu hanya perasaan yang lalu?.  Sekalipun pernikahan, memang jalan yang harus dipilihnya bersamaan dengan studynya, Oryz ingin proses yang baik, karena mencari ridho Allah semata, berkah serta membahagiakan semuanya.

Oryz terus merenungi dan menyelami hatinya, menyepi dan hanya kepada Allah, Tuhan Semesta Alam Oryz curahkan segala kerisauan. Berharap hanya padaNya dan yakin akan segala kehendakNya.

Tok…tokk…  Oryz menghentikan tilawahnya, bersegera membuka pintu kamar. Ibun berdiri dihadapannya sekarang.

“Oryz, segera kamu ke ruang  tamu ya, lepaskan mukenanya. Sudah shalakan?” Oryz mengangguk, lalu balik bertanya.

“Ada apa ibun?”

“Ada yang ingin bertemu dengan kamu,  sebaiknya kamu rapih – rapih diri dulu sana sebelum keluar ya.!”

“Terus ayahnya kemana bun? Emang siapa?”

Ibun sempat terdiam, Oryz sulit menebak siapa yang ingin bertemu dengannya.

“Yaudah kamu lihat sendiri saja ya! Ayah sudah ada didepan. Ibu mau menyiapkan minum dan kue – kue dulu “ Ibu bergegas ke dapur. Oryz pun segera ke ruang tamu.

Betapa kagetnya Oryz. Mereka? kenapa datang bersama? Dovar dan rian. Mereka tengah berhadapan dengan ayah. Suasana terlihat tegang. Oryz tiba – tiba pun gugup. Rasanya sulit sekali ditutupi, Orzy berharap suara detak jantungnya ini hanya ia sendiri yang dengar. Dovar dan Rian bangkit bersamaan,  sekilas pandangan Dovar dan Oryz beradu, lalu cepat ditundukkan.

“Oryz, sini duduk dekat ayah!” Perintah ayah. Oryz sempat melihat Rian beberapa kali mengelap keningnya dengan tangan. Dovar terlihat tegang. Dan kini, mereka semua diam.

“Apakah Dovar meminta jawabnya sekarang?  Baru kemarin? Sedangkan Rian?apakah ayah menjanjikannya jawabanya sekarang?” gumam Oryz dalam hati.

Masihh sunyi untuk beberapa menit. Ingin sekali Oryz mengetahui apa yang difikirkan ayahnya sekarang. Tiba – tiba ibun datang membawakan secangkir minuman dan sajian ringan dalam wadah toples.

“Diminum dulu nak Dovar dan nak Rian, maaf ya ala kadarnya loh ” Ibun mempersilakan. Ibun kenal Dovar, sangat kenal. Dovar, laki – laki pertama yang pernah dikenalkan Oryz dulu, yang diakui Oryz sebagai pacarnya, pacar pertamanya. Bahkan ketika mereka putus, ibun sampai tidak tega melihat Dovar memohon kepada Oryz untuk tidak memutuskannya dan itu dilihat ibun didepan matanya sendiri. Begitupun dengan Rian, ibun pernah bilang ingin mempunyai menantu sepertinya, dan berharap putrinya mendapatkan kembali cinta pertamanya, Muhammad Rian.  Ibun duduk didekat Oryz, betapa hangat berada di dekat seorang ibu. Oryz segera memegang tangan ibun, untuk meredakan sedikit kegugupannya. Ibun sangat memahami keadaan putrinya sekarang. Ayah masih terdiam, dari wajahnya tak mengisyaratkan apapun, datar. Namun kemudian ayah segera memecah keheningan.

“Oryz, ayah yakin kamu paham setidaknya tahu maksud dari kedatangan mereka?” Pertanyaan ayah langsung mengena dihati Oryz, sesuai dengan yang ia pikirkankah?. Oryz melihat ke wajah ibun, mengambil sedikit kekuatan dari perempuan mulia yang telah melahirkannya, ibu pun membalas dengan senyuman sehangat sinar mentari.

“Maaf kan Oryz ayah, Oryz khawatir salah berbicara nantinya. Akan jauh lebih baik biar mereka sendiri yang mengatakan maksud dan tujuannya berkunjung ke rumah kita” kata Oryz. Ayah menarik nafas agak panjang lalu menghembuskannya, terdengar berat.

“Dia sudah mengatakannya pada ayah dan ibun!”   ucapan ayah mengapa terdengar menyudutkan Oryz, apa ayah marah Oryz belum memberitahukan mengenai lamaran Dovar padanya? Padahal Oryz baru mau menyampaikannya malam ini. Sedangkan Rian? Mungkinkah ayah ingin Oryz memberikan jawabanya sekarang, kepada mereka berdua? Oryz sungguh penasaran, apa saja yang sudah mereka bicakan? Dovar pasti mengutarakan keinginannya dan bermasud meminta Oryz pada ayah dan ibun. Sudah siapkah aku memilih seorang diantara mereka. Rasanya aku ingin segera mengungkapkannya. Batin Oryz bersuara.

“Bismillah,,,” Rian mulai berucap, didahului asma Allah, Oryz semakin tegang, Serasa jantungnya mau lepas, Oryz menahannya.

“Terimakasih, Om dan tante telah berbaik hati memberikan saya kesempatan untuk mengutarakan niat saya kepada Oryz secara langsung, dan mohon maafkan saya atas ketidakhadiran kedua orangtua saya disini, kondisi ummi sekarang sedang tidak sehat dan rasanya sulit untuk melakukan perjalanan Malaysa-Jakarta diwaktu dekat ini, begitupun abi yang terhalang kewajibannya sebagai salah satu staff  kedutaan RI disana. Tapi, insya’allah tidak mengurai sedikitpun restu yang telah mereka titipkan pada saya untuk melaksankan niat baik ini.” Rian tidak sedikit pun berani memandang ke arah  oryz, setiap kali pandangan mereka hampir bertemu, Rian menundukan wajahnya. Oryz makin bertanya? Kenapa Dovar terlihat kaku di tempatnya, mungkinkah?Dovar menunggu gilirannya berbicara? Untuk mengutarakan hal yang sama seperti Rian.

“Walaupun kedua orang tua saya asli Indonesia. Hampir seluruh keluarga besar kami berkumpul di Malasya, sebagiannya berada diluar pulau jawa, dan maafkan saya saat ini hanya bisa kemari dengan ditemani sepupu saya Dovar. Insya’allah jika niat saya ini terlaksana minggu depan abi akan datang secara resmi.”

Dovar sepupu Rian? Oryz semakin tidak mengerti? Sekian lama mengenal mereka. bahkan Oryz baru mengetahuinya. Jadi maksudnya kedatangan mereka secara bersamaan adalah..?? Kenapa tiba – tiba Oryz merasa kecewa? Apa karena semua praduganya keliru? Rasanya sesak di dada. Ternyata Dovar menemani Rian, bukan dengan kepentingannya sendiri? Apa Dovar tengah mempermainkannya?

“Oryz, saya berniat menikah denganmu, semoga niat baik saya ini berkenan dihatimu. Ini tidak lain dan tidak bukan hanya karena Allah semata, melaksanakan separuh agama.”

Bukan Rian yang Oryz lihat, tapi Dovar yang bertambah meruduk. Kenapa yang terdengar oryz serasa memilukan? Inikah rasanya? Ketika harapan tak sesuai kenyataan?  Kenapa Dovar dia mematung seperti itu? permainankah ucapanya kemarin? Kesungguhannya kemarin? Membangun masa depan bersama dengannya? Atau mungkin ini semua hanya sekedar sandirwara. Tidak! Ini benar adanya. Oryz mendengar jelas, sangat jelas yang berbicara dan mengutarakan untuk menikahinya di depan kedua orang tuanya adalah Rian bukan Dovar.

Oryz menangis, dia simpan kesedihannya didalam hati. Tidak ada yang tahu, kecuali Allah semata. Ingin rasanya, Oryz melempar tanya pada Dovar? Inikah yang diinginkannya? Kenapa ia sekejam ini pada Oryz?apa salah Oryz? Kenapa Dovar tega mempermainkan perasaanya? Oryz bergetar mendengarnya, Oryz mengehela nafas, dan memejamkan mata.  Namun yang harus Oryz hadapi sekarang adalah Rian, memberikan jawabnya. Ya atau tidaknya? Oryz memohon pada Allah untuk diberikan kekuatan. Rian menunggu, Dovar tergugu, ayah dan ibu masih terpaku. Semuanya menanti jawaban. Oryz sendu.

***

 

Assalamu’alaikum wa Rahmatullah wa Baraaatuh.

 

Oryz, maaf, maaf beribu maaf, maafkan aku.

Sungguh tidak ada sedikitpun maksud hatiku untuk melukai hatimu, terpikirpun tidak.

Ucapanku waktu itu di taman, sungguh benar adanya. Aku mencintaimu. Bersamamu adalah harapan terbesarku. Aku ingin menikahimu. Akan tetapi harus aku akui bahwa aku tidak berdaya. Rupanya, Rian sepupuku telah terlebih dahulu melamarmu langsung kepada kedua orangtuamu. Aku benar – benar tidak mengetahuinya, aku pun baru tahu pagi hari sebelum malamnya Rian memintaku menemaninya, melamarmu.

Aku sungguh hancur, sangat hancur tapi jangan sampai mengahacurkan keimananku sebagai seorang muslim, ‘Haram hukumnya bagi seorang muslim melamar di atas lamaran saudarnya.’ Perkataan itu aku ketahui dari Rian jauh sebelum aku sadar bahwa perempuan yang dari dulu dicintainya adalah kamu, dan menunggu kamu untuk menjadi yang halal baginya. Rian sama sekali tidak mengetahui perasaanku kepadamu. Aku mohon biarkan ini menjadi rahasia kita, dan semoga Allah mengampuninya.

Aku mencintaimu seperti yang kau tahu sedari dulu, tidak berubah atau berkurang sedikitpun, kian hari makin bertambah melihatmu menjadi lebih shaleha dan bertambah dewasa.

Namun aku hanyalah laki – laki  yang berusaha ikhlas melepaskan muslimah yang teramat aku cintai dipinang lelaki lain yang lebih siap dariku dalam urusan menikah. Rian akan membantumu mewujudkan semua mimpimu, sedangkan aku, hari ini aku bahkan harus tertatih mencari pekerjaan setalah izasah S1 keluar dan kembali merencanakan masa depan. Bersamanya kamu akan bahagia.. Insya’allah, begitupun doaku untuk kalian.

Aku mohon agar kau berbahagia, cintailah ia sebagaimana ia mencintaimu bahkan lebih karena Rian lelaki yang teramat pantas daripada aku.

 

Wassalam,

Dovar Satria Wiguna.

 

Hari ini adalah hari pernikahan Oryz Putra Rahma dengan Muhammad Rian. Setelah malam itu, Oryz tidak langsung menjawab pinangan Rian. Oryz meminta waktu selama  3 hari untuk shalat istiqorah dan meminta petunjuk dari Allah. Inilah takdirnya, betapapun manusia berkehendak, Allah tahu yang terbaik. Dalam istiqorahnya Oryz memantapkan hati dan mencari ridho Ilahi serta kebahagiaan orang tuanya. Walaupun saat membaca surat ini sebelum akad pernikahannya, air mata tak mampu tertahankan. Jatuh perih terasa dihati.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s