Cinta Tini Wini Biti

Gemetar segetar – getarnya. Kelu, ketika bibir ingin berucap. Semuanya gamang ketika pikirku nyaris menjejak. Dari A sampai Z bahwa diriku yang tersisi dari kawanan kawan tak mampu bergerak di pojok ruangan yang berdebu untuk sekedar berucap.

“ ….?!” Akhirnya suara ku, sepertinya hanya sebuah erangan yang tak jelas? setelah sempat mengendam cukup lama di ujung tenggorokan yang sangat haus, kering dari air atau sekedar ludah yang hampir tak tersisa. Cowok klimis berkaca mata itu hanya memandang sinis ke arah Tini dan kemudian menariknya ke dalam kehinaan dan rasa malu gak ketolongan karena di cuekin abis.  Cowok klimis yang tampangnya lebih mirip tembok  karena ekspresinya selalu saja datar paling banter sinis.?!

“Jangan berfikir macem – macem dan ngelakuin hal yang enggak – enggak yach!” Acam Tini sambil memegangi kayu yang siap dia layangkan kalau terjadi yang tidak – tidak pada dirinya, pasalnya kita hanya berdua? Terjebak, lebih tepatnya kesasar ketinggalan rombongan perkemahan. Berduaan? Gak kebayang dhe kalau yang ketiganya setan..hihi….Putra masih tak ingin bergumam. Bahkan untuk sekedar membela diri

“Aduh, sampai kapan ini?” Keluh Tini sambil menelungkupkan kedua telapak tangannya ke muka. Akibatnya tampang Tini belewek abis karena stress menunggu hujan yang tak kunjung reda dan malam yang kian larut. Dingin yang menusuk – nusuk membuat Tini semakin salah tingkah. Mondar – mandir gak jelas, kadang nyeloteh kaya anak bayi yang lagi belajar ngomong.  Dan yang jelas adalah  dia jauh – jauh dari cowok super nyebelin ini.  Kian waktu Petir bergemuruh nyaring membuat Tini makin merunduk karena takut, setidaknya itu yang dapat membuatnya diam. Duduk tenang.

“Aduh, w ngerasa sendiri disini….??!…”

“Halllooooooo……”

“Oollllahhh……….”

“Heeeeh,,, lo manusiakan?! Ngomong donk!!!! Jangan diem aja..!!! W harus gimana?” Rasa nya Tini ingin nangis. Tini udah sering kesasar dan terjebak dalam situasi apapun dan dimanapun tapi kalau terjebak bareng cowok ini ngebuatnya lebih baik terjun ke jurang palllliiiiiing dalem. Tini sudah tidak bisa berkata apa – apa untuk membuat Putra berkata. Sampai Tini makin mojok  memukul – mukul sebuah batu dengan kayu yang sedari tadi digenggamnya. Menit  kemudian Tini diam sendiri, terus mukul – mukul gak jelas. BT abissss………

“Eh, Tini winni bitti….”

“Kedengaran ada yang ngomong? Tapi gak enak banget yach kedengerannya, suaranya sember kaya ember . “

“Bisa tenang gak sich lo?”

“Bodo! w BTTTTTTTT….!” Teriak Tini sekuatnya.

“Tuhan, Aku tahu hujanMu adalah rahmat tapi please! Tuhan hujannya berhenti dulu. Please..pelase…”Mohon Tini dengan sangat. Mata nya terpejam dan mulutnya komat – kamit gak jelas. Putra memandang wajah Tini yang terlihat sangat manis dihadapannya saat ini, kaki Putra bergerak selangkah, Memperjelas pengelihatannya. Semakin tajam ia melihat Tini maka hatinya semakin mantap mengatakan.

Tuhan, hijanMu adalah rahmat, maka berilah kekuatan kepada ku untuk mengatakan, ‘Tini w yakin lo setuju buat nikah sama w!”

Tini terperajat, pas matanya terbuka Putra dihadapnya.

Ini cowok ngelamar atau nodong? Ya ampunnnn!

Tini loncat selangkah ke belakang!  Namun, hatinya pun girang gak ketolongan, Putra si klimis berkacamata jatuh cinta pada Tini wini biti yang salalu mengganggunya.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s