Berkarya dan Berdaya! Menulis Bukan sekedar Bakat

Pelangi Senja ThawalibWaktu menunjukan pukul 09.55 saat diriku tepat berada di depan Taman Ismail Marzuki. Langit Salemba di pagi ini tersenyum cerah dan terang berbinar. Di tempat yang sama di 2 X pertemuan sebelumnya kegiatan pelatihan menulis FLP Jakarta diselenggarakan, kali ini memasuki pertemuan ke IV. Tak sabar aku ingin segera sampai di selasar mesjid Mimazah, bertemu dengan Palris Jaya sebagai pemateri di pertemuan ini. Kulangkahkan kaki seribu kali lebih cepat dari jalannya keong, tapi masih sempat kusisipkan sedikit waktu untuk melihat wajah bersahaja itu, ia selalu membuatku bersemangat dan optimis, aku sempat menyapanya dengan sebuah nyanyian.

Tanah airku Indonesia

Negeri elok amat kucinta

Tanah tumpah darahku yang mulia

Yang kupuja s’panjang masa

Rayuan pulau kelapa. Patung Ismail Marzuki. Salam hormat penuh daya dan karya pak, pahlawanku yang kubanggakan, kataku dalam hati. Aku kembali bergelut dengan rasa cemas jangan sampai telat! gerutuku.  Peluh, membasahi dahi dan beberapa bagian tubuhku,  rasa gugup seringakali menyerangku. Mugkin karena terlalu semangat!

On time. Kali ini aku datang tepat pada waktunya, jam 10.00. Sudah lebih dari 20 orang-an yang datang, mataku berpedar mencari sosok yang dirasa pas dengan namanya Bang Ipal atau penulis handal Palris Jaya. Belum datang? Sabar dan tetap berbaik sangka mungkin macet.  Aku pun menemui beberapa orang yang ku kenal, saling salam dan kemudian bertukar cerita, berbagi semangat tepatnya!

Lewat 10 menit. Bertambah 5 menit. Belum datang juga?. Palris Jaya. Bahkan namanya baru pertama kali kudengar. Ya Tuhan, kemana saja aku selama ini? Dia adalah penulis terrkenal yang karyanya sering terpampang di majalah – majalah terkemuka ibu kota seperti majalah Aneka, Story, Kawanku sampai majalah Annida. Palris Jaya digambarkan oleh pengurus FLP sebagai sosok yang teristimewa, dia handal dalam karya, pandai dalam strategi media, juara pula dalam beberapa lomba bahkan jagonya. Aku tak sabar! Kemana – kemana? Kemana?… Sumpah! Aku tidak sampai menyanyikan lagu itu.

Akhirnya datang juga. Oh, itu Palris Jaya gumamku membatin. Sosoknya tinggi semampai, berkulit tidak gelap juga tidak terlalu putih, memakai topi, dan berkaos tak berdasi. Senyum selalu mengembang di wajahnya, ramah.  Aku membuka modul ‘Menjadi Penulis Smart’ bukan untuk membacanya disaat seperti ini, tapi untuk mencatat hal – hal penting yang disampaikan pemateri.

“Apa tujuanmu menjadi penulis?” tanya bang Ipal, begitu kalimat pertama yang kugoreskan di lembar putih bagian belakang modul. Pertanyaan yang tertuju tepat ke hatiku, hingga pertanyaan itu membuatku merenung sejenak dan meyakinkan kembali segala niat dan harap.

“Setelah nulis mau apa?” kutulis besar – besar pertanyaan bang Ipal.

Bang Ipal pun menceritakan perjuangannya yang luar biasa kepada ku dan anggota FLP. “Perjuangan merealisasikan keinginan!” Bang Ipal berkisah dan bertutur halus, hingga membuatku seolah masuk dalam perjuangannya. Balik ke beberapa puluh tahun silam, semasa sekolah dulu, Bang Ipal layaknya remaja pada masanya, agak jail akuinya, sering mencandai kawan perempuannya, bahkan meledek kebiasaan teman – teman perempuannya yang membaca roman ataupun cerpen di sebuah majalah remaja, membuat bang Ipal bertanya Apa bagusnya cerpen di majalah itu?apa hebatnya menulis di majalah? Sampai pada suatu ketika dia dihinggapi rasa penasaran yang kemudian mengantarkanya pada sebuah kesimpulan, bahwa dia pun bisa membuat tulisan seperti itu. Bang Ipal pun mulai merintis usahanya dari membeli majalah dengan uang jajan sampai keputusan besar untuk mencoba menulis. Bukan hal yang mudah untuk merealisasikan keinginan. Tapi bang Ipal terus berjuang! Dari membaca, mencoba menuliskan kisah lalu mengirim ke media. Kehidupan di desa dan kurang memadainya fasilitas pendukung tidak mengurangi kreatifitasnya dalam menulis, dia sampai harus memijam mesin ketik di sebuah bank daerah pada waktu itu. Mencoba dan mencoba! Tidak lelah untuk terus berjuang, perjuangan merealisasikan keinginan. “Menjadi Penulis terkadang bukan bakat tapi usaha” gugahnya lagi kepadaku dan anggota FLP. Saat matahari mulai meninggi, begitupun semangatku yang semakin membuncah. motivasi yang sungguh dahyat dari pemateri kali ini. Dari kisah, kita bisa ambil hikmah. Dalam setiap perjuangan selalu ada doa, kuatkan niat dan maksimalkan ikhtiar lalu tawakal. Man jadda wajada, kumpulkan semua daya, mari kita mulai berkarya!

“Kita butuh strategi!” kata bang Ipal tegas dan tandas, menukik dalam ingatanku. Ibarat mau perang, selain keinginan kuat untuk menang dan memimpikan kejayaan lalu aturlah strategi! Strategi? Aku jadi teringat strategi sahabat Rasulullah Salman al-Farisi pada saat perang khandaq. Pertempuran Parit (Khadaq). “pertempuran kecerdasan”. Untuk melindungi Madinah dari serangan gabungan, maka dibuatlah parit sebagai strategi berperang untuk menghindari serbuan langsung dari pasukan Al-Ahzab Quraisy dan bani Nadir. Lho kok jadi kesini? Aku berfikir, sekarang ini pun aku tengah demikian. Berperang pada diriku sendiri terhadap rasa malas dan membentengi diriku dari niat buruk atau niat melenceng dari usahaku untuk berkarya dan berdaya. Aku telah membuat lobang besar untuk menghalau segala keinginan buruk yang akan merusak niat tulusku untuk menulis, berbagi dan menginspirasi. Begitupula strategi untuk memperjuangkan karyakku kelak dan membuatnya layak diterima khalayak.

“Pelajarilah media!” aku sampai mengulangi kalimat itu dalam hati sebagaimana yang terlontar dari bang Ipal, tuturnya lagi, “Setiap majalah punya karakter dan kriteria sendiri dalam meloloskan naskah untuk diterima sampai diterbitkan. Contoh; berapa halaman yang diinginkan media dalam sebuah cerpen yang akan mengisi beberapa halaman di majalah tersebut setiap media berbeda – beda, femina biasanya 6 halaman, majalah gadis 6-8 halaman, atau bobo yang hanya memelurkan 3 halaman sekali terbit” bang Ipal kemudian menambahkan betapa pentingnya mempelajari media yang akan menjadi sasaran kita untuk dapat dimuat dalam majalah tersebut. Bahkan mengusahakan untuk mengikuti ritme media tersebut, “coba lihat 6 kali terbitan sebelumnya!” sarannya, itu akan sangat membantu untuk lebih melihat peluang yang ada. Aku sibuk mencatat dan berfikir, dan merasakan sedikit kegelisahan saat azan berkumandang, dan waktunya shalat aku tidak bergerak.

Yang aku yakini bahwa setiap kita punya daya. Hanya berbeda cara dan alurnya. Membuat cerpen tidak mudah tapi dengan usaha, kita semua bisa. Coba saja! Jangan terlalu sibuk untuk merencankan, bergerak lah untuk memulai, sekali melangkah kita akan sadar bahwa hanya perlu sedikit perjuangan untuk tetap terus berjalan. Berkarya, sama halnya dengan menuliskan nama kita di sejarah waktu yang akan tetap terkenang walau jiwa kita telah hilang dari dunia ini, namun amal akan terus berkembang, mengalir tanpa putus dan terus bercahaya menyinari kegelapan yang pekat.  Berkarya dan berdaya! Sama halnya dengan berbagi, kita tidak akan kehilangan, malah akan semakin banyak mendapatkan, lain halnya dengan hanya sedar mengharapkan maka kita akan lebih sering kekurangan.

Jangan lupaakan! Bahwa setiap kita adalah guru, paling tidak guru kehidupan, itulah arti pentingnya saling menginspirasi. Agar kita tidak selalu merasa seorang diri. Kita tidak dapat hanya mengandalan diri sendiri walaupun kemandirian merupaan modal besar untuk berjuang. Kita patut, saling berkaca diri dan memotivasi tentang mimpi – mimpi kita, karena mimpi kita ibarat pelangi, yang tidak hanya indah untuk diri kita sendiri tapi juga mengihiasi langit, setiap orang juga akan merasakan keindahan itu. Memandangnya dan merasakan kebahagiaan yang sama.

Cerpen. Cerita Pendek. Hanya menceritakan 1 tokoh secara menyeluruh dan beberapa tokoh pendukung dalam sebuah ruang yang sempit. Pendek. “Bagaimana Meramu konfik yang oke!” Ada yang bertanya demikian pada saat sesi tanya jawab, “Gambarkanlah tokoh rekaanmu! Kalau perlu tulis biodatanya, ciri – ciri fisik sampai kebiasaan tokoh – tokoknya yang tentunya harus dibedakan satu dengan yang lainnya!” oh, mulutku membulat, lalu bang Ipal melajutkan perkataannya yang terlihat jenius dan tidak terlalu serius, “ Buatlah alur cerita naik – turun, agar pembaca tidak bosan! Ohya, jika tulisan kita berkisah tentang kesedihan maka rasakanlah penderitaannya, begitupun ketika menuliskan anding yang bahagia, buatlah pembaca mengalami kebahagiaan yang sama. Kalau saya memang lebih menyukai Ending yang menggantung!”

Bang Ipal pun kembali berkisah, tapi kali ini tidak melulu kisah nyata hidupnya walaupun tetap terinspirasi dari realita. Ini tentang cerpen – cerpennya yang hampir selalu menghiasi majalah – majalah ibu kota. Cerpen pun tak harus terus tentang cinta! Masih banyak topik menarik lainnya yang bisa diangakat selain itu, begitupun dalam cerpen islami, cerpen berbau sara, atau cerpen yang bersifat universal.

Ilmu itu luas, lebih dari luasnya bumi, bahkan dalamnya lautan terdalam. Ilmu yang kudapat dari pelatihan kali ini sungguh luar biasa! Aku yakin begitupun yang dirasakan kawan seperjuanganku yang lain dalam barisan FLP. Selesai acara aku mematut diriku sendiri dalam sebuah bayangan perjuangan orang – orang sukses, bahwa aku pun layak dan bisa untuk berkarya atau bahkan melebihi mereka. Insya’allah, dengan izin-Nya.

Aku berwasiat pada diriku sendiri tentang mimpi. Kata bang Ipal, ‘ Perjuangan merealisasikan keinginan’ setiap kita punya keinginan tapi tidak semua orang itu berjuang merealisasikannya. Padahal kita punya daya yang sama. Kalau dalilnya adalah, “menulis itu bakat” maka berhentilah dari sekarang untuk bermimpi menjadi seorang penulis! Tulislah pada hati kita masing – masing tentang mimpi yang akan terwujud dari perjuangan karena itu akan membuat diri kita lebih berarti dari sekedar berbakat.

Mestifarah

02042013 waktu semakin larut 11:36

Salam daya dan karya

Saling berbagi dan menginspirasi

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s