Kajian Tip Top Rawamangun : Jauhi Neraka dengan Lisanmu

tp_1278471826dompet dhuafaKajian Tip Top Rawamangun biasa dilaksanakan pada setiap hari sabtu pertengahan bulan atau minggu ketiga disetiap bulannya, insya’allah dan  kenapa pada waktu itu kajiannya digelar, karena toko tidak seramai pada waktu awal dan akhir bulan saat orang – orang gajian, tapi sesepinya Tip Top Supermarket & Dept. Store tetap saja parkiran dipenuhi motor dan mobil customer, Alhamdulillah perusahaan ini berkah karena yang belanja sekalian bersedekah dan yang bekerja niatnya beribadah. Namun pada kesempatan bulan Maret ini, pengajian Tip Top Rawamangun baru dapat dilaksanakan pada minggu ke-empat tanggal 30 maret 2013, dan tema pada pengajian bulan ini adalah ‘Jauhi Neraka dengan Lisanmu’ yang disampaian oleh ust. Ade Purnama, Lc.

Bertugas sebagai MC Prasetiyo bagian staff gudang mampu mengawali dan mengahiri  pengajian  sesuai dengan susun acara secara tepat.  Sebelum dimulai jam 6.30, pengajian dibuka dengan tilawah Al – Qur’an yang disenandungkan oleh Indra Derazona bagian Staff LT (location Transfer) yang membacakan surat Al _ Hujurat ayat 11,12,13. Pengajian juga dihadiri oleh Tante Itche (pemilik Tip Top) dan Tante Aidar.

Saudaraku yang dicintai Allah,

Kita, ciptaan Allah yang disebut manusia. Kita hidup tidak dapat hanya seorang diri, kita saling melengkapi dan saling memahami. Interkasi yang terjadi dalam kehidupan ini, sering terjadi ketersinggan dan kekhilafan seseorang kepada orang lain, yang tanpa sadar terkadang menimbulkan segores luka pada sekeping hati, tapi sekali lagi kita hidup bersama, berbangsa – bangsa dan bersuku – suku, sebagaiman berfirman – Nya dalam surat Al- hujurat Ayat 13;

 

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki – laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku – suku agar kamu saling mengenal….”

 

Dan yang paling mulia diantara kita

Sungguh, yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti”

Pada masa Rasulullah, para sahabat yang kridebilitas keimanannya jauh diatas kita pun di uji dengan ‘menjaga lisannya’, padahal ketika Allah memerintahkan kaum muslimin pada saat itu untuk hijrah, tanpa ragu, malu atau takut mereka melaksanakannya sebagai bentuk ketaatan pada Allah dan rasulNya. Hijarah  disini bukan sebatas urban atau pindah antar kota atau merantau jauh ke negeri seberang tapi hijrah tanpa harta, hijrah tanpa tahu bagaimana kehidupannya nanti, hijrah meninggalkan rumah dan segala yang ia punya bahkan ia cinta. Namun dengan menaruh kepercayaan bulat pada Allah dan rasulNya, mereka patuh tanpa menggerutu atau mengeluh. Lihatkan keimanan mereka?! tapi sekali lagi mereka tetap di uji dengan ‘menjaga lisan’.

Abu Dzar Al-Ghiffari, salah satu sahabat mulia nabi Muhammad saw yang keimanannya mungkin melebihi kita. Kita dengan segala kelemahan dan  kealpaan dalam menjaga hubungan dengan sesama, bahkan terkadang mulut tak terjaga atau bercanda membawa luka. Abu dzar yang tak pernah diragukan keimanannya, lelaki yang disebut Nabi Muhammad memiliki lisan paling lapang, lidah paling jujur, dan tutur paling benar tetapi juga lisan kebenarnya kadang tajam dan tak menimbang perasaan orang lain, Abu Dzar pernah berbuat khilaf. Abu Dzar penah menghina Bilal dengan menyebutnya,  hai anak perempuan hitam

Rasulullah yang mendengar  hardikan Abu Dzar kepada Bilal seketika memerah wajahnya dan berkata; “Kamu menghinanya dengan menyebut-nyebut ibunya? Sesungguhnya kamu orang yang masih terdapat sifat jahiliyah dalam dirimu!”

Abu Dzar serta merta tersadar dan berpeluh dosa, menyadari kesalahannya dengan memohon kepada Bilal yang hatinya terluka, “Injak kepalaku ini Bilal!” Abu Dzar meletakan kepalanya di tanah berdebu  berharap Bilal memaafkannya dan membalasnya dengan mengijak kepala Abu Dzar dengan terompahnya sambil terus merintih, “Kumohon Bilal Saudaraku,”.  Tapi Bilal tetap tegak mematung. Dia marah, tapi juga haru, “Aku memaafkan Abu Dhar, Ya Rasullalah”.

Ingatkah kita pada sahabat nabi yang satu ini, Sa’d ibn Abi Waqqash yang doa – doanya selalu diijabah, seorang gubernur kufah (sekarang masuk daerah kekuasaan Iran. Red) yang berulangkali dipermasalahkan oleh penduduk kota ia memimpin. Umar ibn Al-Khathab pernah mendapat laporan bahwa Sa’ad  adalah pemimpin yang tak adil, curang, khianat dan selalu memberatkan rakyatnya. Dan Sa’ad hanya dapat berucap lirih dan berdoa pada Allah, “Ya Allah, jika dia ini menasehatiku sebagai sebagai saudaranya dengan ketulusan dan bermasud baik untuk meluruskanku, maka muliakanlah dia dalam kehidupan dan setelah kematiannya. Adapun jika dia dusta, dengki, riya’, dan hanya ingin dikenal orang, maka sempitkanlah hidupnya, panjangkanlah umurnya, dan masyhurkanlah kehinaannya.” Maka doanya diijabah, orang yang menjelekkannya mendapatkan kehinaan dalam umur yang panjang sebagaimana doa Sa’ad.

Dan Umar ibn Al – Khathab memerintahkan Al-Mughirah untuk  menggantikan kepemimpinan Sa’ad. Bukan, bukan karena Umar tidak percaya pada ketaatan dan ketaqwaa Sa’ad ibn Abi Waqqash , tapi itu karena Umar paham kelemahan Sa’ad yang terlalu peka dan mudah tersinggung atas hal pribadi dan tak mampu berlapang dada pada orang – orang yang menyelisihinya.

Begitulah kisah para sahabat, kemuliaan mereka menjadi cermin  terindah yang kilat kilaunya takkan pernah terkejar oleh sinar dari amal kita. Dan kita belajar banyak dari mereka. Belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari, khususnya dalam menjalin hubungan antar sesama kita, agar ucapan yang tajam tak menusuk hati yang peka, agar lidah yang kelu tak mudah membisu karena amarah yang tercipta dari ucapan yang tak terjaga. Agar kita belajar saling memahami dan mengerti,  agar kita mendapatkan rahmat dan naungan cahaya Illahi.

 

Saudaraku yang dicintai Allah,

Mari kita renungi surat Al- Hujurat ayat 11,12, dan 13 dan perhatikanlah beberapa hal penting yang dapat menyelamatan hidup kita dari kehinaan di dunia dan di akhirat, bergeraklah! agar  kita bisa sama – sama memperbaiki diri kita, bila sekiranya masih ada sifat – sifat kejahiliahan di setiap ucapan ataupun perangai, dihati yang tersembunyi atau jiwa kotor yang terpancar dari diri kita.

 

“Wahai orang – orang yang beriman!janganlah suatu kaum memperolok – olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok – olokkan) lebih baik dari mereka (yang memperolok – olok), dan jangan pula perempuan – perempuan (mengolok – olokkan)  perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok – olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok –ngolok)…”

Perempuan! Lebih dipertegas. “Kenapa?“ tanya ustad Ade pada jemaah.  “Karena…” perempuan doyan ngomong, hampir semua hal dibicarakan dan hampir tidak ada yang tidak bisa dijabarkan.  Begitulah, wanita ingin dimengerti!

Jangan memperolok – olok  karena boleh jadi mereka lebih baik, bahkan sekalipun kita sudah merasa lebih baik daripada mereka, memperolok – olok merupakan hal buruk yang tidak boleh dilakukan.

Jangan mengina diri sendiri. “bagaimana mungkin ada yang sanggup menghina dirinya sendiri?”begitulah kita, tanpa sadar  bersikap seperti itu,bukankah mengina orang lain artinya menghina diri sendiri, tanyakanlah pada hati terdalam kita yang tak mungkin berbohong terhadap kebenaran! Benarkah demikian? Terlebih lagi penghinaan secara fisik, dapat dikaitkan sama saja menghina Penciptanya, sungguh durhaka!. Astagfirullah,

Beda dengan diperbolehkannya mencela sifat atau kelakuan buruk seseorang yang ditujukan untuk bisa diubah, contoh; “cerewet banget sih jadi orang, kaya perempuan!”atau”Jadi orang jangan bermulut lemes (pengaduan/adu domba), nanti tidak ada yang mau berteman”.

Orang yang suka mengina, itu sombong pada dirinya sendiri seolah – olah berkata, “Kamu jelek!berarti saya cekep”atau “Kamu bodoh! Saya pintar”

Hindari hal demikian jika tak ingin berada dalam jarak dekat pada neraka! Menghina orang lain sama hal nya dengan menginakan diri sendiri!

“…..Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar – gelar yang buruk . Seburuk – buruknya panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang – orang yang zalim.”

Namanya ahmad, diipanggilnya mamat. Si Muhammad dipanggilnya memet, yang punya nama Yusuf dipanggilnya ucup. Lucunya sebagian kita, merasa tak masalah dipanggil tak sesuai, padahal orang tua kita telah jauh – jauhi hari mempersiapkan nama yang indah kepada kita bahkan sebelum dilahirkan atau masih sebatas rencana. Panggilan yang buruk merupakan bentuk lain dari penghinaan terhadap orang lain, bukankah kita telah banyak belajar bahwa rasa hormat itu penting sebagai pangkal sayang dan cinta pada sesama.

“Sesungguhnya kamu sekelian akan diseur/dipanggil pada hari Kiamat dengan nama-nama kamu dan nama-nama bapak kamu.Oleh demikian,  elokkanlah nama-nama kamu”. (Riwayat Imam Abu Daud dari Abu Dardak r.a.)

Biasakan yang baik dalam memanggil, kita tidak pernah tahu kedalaman hati seseorang, mungkin disaat kita memenaggil namanya dengan gelar yang buruk, hatinya sedang sakit. Orang kalau terluka ibarat kaca yang pecah, sekalipun bisa di lem akan  tetap berbekas.

 

“Wahai orang – orang yang beriman!jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya sebagaian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari – cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah maha penerima taubat, Maha Penyayang. “

 

“jangan – jangan..” jangan berprasangka buruk dulu pada sesuatu hal yang kita tidak ketahui pasti, berhusnudzon lebih baik walaupun ternyata salah daripada su’udzon benar. Atau membuat orang lain su’udzon kepada kita contoh; sepasang suami istri muda yang bermesraan berlebihan di tempat umum, seolah hanya mereka berdua di dunia ini sedangkan yang lain hanyalah patung atau menekin, tidak perlu repot – repot menunjukan pada dunia bahwa kita tengah bahagia, tapi sinarilah kebahagiaan hingga bisa dirasakan hangat cahayanya pada semua orang.

Setiap kita punya salah dan dosa tapi haruskah itu yang terus dilihat atau tak mampu terlupa hingga parahnya terkadang kebaikan yang lebih besar daripada kesalahan lebih terlihat dimata kita. Semoga bukan kita, bukan kita yang suka mencari – cari kesalahan orang lain, dan menjadikan kesalahan itu pedang untuk kita gunakan menyerang! Jangann kita yang mungkin penah difitnah, bahkan istri Rasulullah pun mendapat fitnah.

Saidatina Aisyah r.a. telah dituduh berselingkuh dengan Safwan Muattal al-Sullami, ketika itu  Saidatina Aisyah r.a tengah mencari kalungnya yang hilang setelah buang hanjat dan meninggalkan tandu, rombongan tidak sengaja meninggalannya, pada saat itu datanglah Safwan yang sangat terkejut melihat istri Rasulullah tertidur maka Safwan Muatall memberikan isyarat kepada Aisyah untuk menaiki untanya dan sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam tanpa satu pun kata terucap.  Namun sesampainya di Mekah sebuah fitnah yang keji menimpa mereka berdua,  tatkala itulah terdengar suara-suara sumbang dan fitnah bahwa isteri rasulullah S.A.W. telah berdua-duaan dengan Safwan. Ada yang kasihan, tidak kurang juga yang menyindir. Alangkah sedihnya Sadatina Aisyah apabila mengetahui keadaan itu. Dirinya begitu dipersalahkan tanpa sempat diberi peluang untuk membela diri. Berita itu pun sampai ke telinga Aisyah, ia begitu sedih, Saidatina Aisyah pun memutuskan balik sementara ke rumah bapak ibunya dan mengurung diri selama sebulan di situ kerana terlalu sedih dan kecewa.
Berita itu, kemudiannya sampai ke rasulullah S.A.W.. Baginda nabi juga begitu sedih serta hampir tidak tahu apa yang patut dibuat. Rasulullah sempat membuat perjumpaan dengan Saidina Ali, Saidina Zaid bin Thabit, Mirarah, dan beberapa sahabat yang lain untuk berbincang apa yang patut dibuat. “Masih banyak perempuan di dunia ini ya Rasullah,” apa yang diucapkan Ali ini benar memang masih banyak perempuan di dunia ini tapi mungin memang agak tak tepat suasananya hingga perkataan ini sempat menyinggung bunda Aisayah, Rasulullah pun menanyakannya pada Mirarah dan istrinya, maka ucapaan yang baik keluar dari keduanya, “Ya Rasulullah, Safwan Muattal al-Sullami lebih baik dari diriku, lantas sulit dipercaya bila ia berbuat demikian,” istrinya pun ikut berkata “begitupula Saidati Aisyah lebih baik dariku, dan ia adalah istrimu yang mulia, mana mungkin Aisayah melakukan hal demikian,”. Perkataan keduanya sedikit menenangkan Rasulullah sampai Allah S.W.T. yang Maha Mengetahui, menurunkan wahyu setelah sebulan lamanya kekusutan yang menimpa Aisyah, Rasulullah dan masyarakat Mekkah pada masa itu. Rasulullah S.A.W. sangat bergembira dengan jawaban daripada Allah S.W.T., lalu dengan segera menuju ke rumah mertua baginda nabi untuk menyampaikan khabar gembira itu kepada isteri yang disayanginya. Maka, terlepaslah Saidatina Aisyah daripada fitnah yang menimpa dirinya. Terbongkaralah perancangan jahat mereka-mereka yang dengki dengan perjuangan Islam. Tiga orang yang bertanggungjawab memulakan dan membesar-besarkan fitnah itu di kalangan penduduk Mekah. Dua orang lelaki dan seorang perempuan yaitu, Hassan bin Thabit, Mistah, dan Imraah binti Asyaraf al-Quraisyi, dsalah seorang wanita daripada kaum Quraisy. Maka, mereka telah dikenakan hukuman Qazaf, 80 sebatan kerana menuduh orang berzina.

Somaga kita bukan seorang penfitnah, atau pencari kesalahan – kesalahan orang lain seperti  Hassan bin Thabit, Mistah, dan Imraah binti Asyaraf al-Quraisyi, mungkin saja mereka hidup lagi dan bersemayam di diri kita dengan keliciknya memfitnah. Bersikap husnudzonlah seperti sahabat – sahabat nabi yang dengan tutur kata yang baik menyampaikan kebenaran walaupun pahit.  

 

Rasulullah saw. bersabda: apakah kalian tahu apa yang dimaksud dengan ghibah? Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui” beliau bersabda: “Engkau menyebutkan sesuatu kejelekan yang ada pada saudaramu” para sahabat berkata:” wahai rasulullah bagaimana jika apa yang dibicarakan tersebut ada padanya? maka rasulullah saw. bersabda: “Apabila apa yang ada padanya sesuai dengan apa yang engkau bicarakan maka engkau telah menggibahnya. Sedangkan apabila apa yang ada padanya tidak sesuai dengan apa yang engkau katakan maka engkau telah berdusta atasnya.” (H.R. Muslim/2589, Abu Daud 4874, Tirmidzi 1935)

Jika apa yang diucapkannya benar itu adalah Ghibah dan jika salah itu adalah fitnah. Bertuturlah yang baik, berbicaralah yang bermanfaat dan berbincang – bincanglah tanpa mencampurkannya dengan ghibah  ataupun fitnah, tahanlah mulut yang gatal untuk membicakan aib/kesalahan orang lain, bersikaplah seolah kita yang berada dalam posisi dipergunjingkan apakah senang? Tentu tidak, tapi bagaimana mungkin kita melakukannya?

Saudaraku yang dicintai Allah,

Kajian kali ini berjalan dengan lancar dan pengajian diakhiri jam 8.10, untuk selanjutnya setiap karyawan melaksanakan kewajibanya berkerja., banyak ilmu yang telah kita dapatkan, dan tidaklah lebih baik dari orang yang menuliskan ini atau yang membacakannya tapi yang lebih mulia disisi Allah adalah yang mengamalkannya.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s