Ayam

a_0084

“Aa Adi, mba kepingin paha ayam!” pagi – pagi si emba-ku ini menelpon, menghadapi orang hamil kadang memang merepotan, terlebih lagi saat ia ngidam bikin penyakit saja!

“Terus, apa hubungannya dengan aku mba? Kau kan tahu aku tidak bisa memasak. Atau nanti sore aku kerumahmu, akan aku bawakan paha ayam seperti yang kau mau, dibumbu apa? Balado? Semur di kecapin? Atau dibakar? Akan aku suruh istriku membeli ayam di pasar dan memasakkannya untukmu.” kurang baik apa coba aku sebagai calon paman? Kalau tidak ku ingat perempuan ini adalah satu – satunya kakak-ku sudah ku tutup telpon ini, aku sedang sibuk memberi makan ayam – ayamku ini, dengar saja! Kokokkan-nya terdengar parau dan kelaparan. Sungguh kasian ‘kreekkree!’

“Aku mau salah satu paha ayammu adikku,!” apa? Tidakkah ada gangguan sinyal di hp ku ini, kenapa suaranya terdengar rendah. Tapi kupingku masih sangat normal untuk mendengarkan pintanya itu, yang sungguh tidak masuk akal! Mana mungkin aku mau mengorbankan salah satu ayam – ayamku untuk permintaan konyolnya.

“Tidak. Lebih baik aku punya ponakkan ileran daripada ku korbankan ayamku untuk keinginanmu itu!” Gertakku bukan gertak sambal. Tapi juga ancaman untuk siapapun yang berani menggangu kebersamaanku dengan ayam – ayamku!

 

***

Minggu yang cerah. Asiknya waktu libur bersama ayam – ayamku yang berkokok setiap pagi menyapaku dengan suaranya yang merdu dan mendayu. Oh ayam… ingin rasanya ku peluk dirimu dalam dekapanku setiap saat biar warna merah bercampur sedikit hitam warna tubuhmu membuatku nampak gagah dan penuh wibawa.  Jenggermu yang bertahta di kepalamu menjadi lambang kejantananmu, terpukau aku dibuatnya.

“Mas.. Mas Adi.. Mas..!!!” terikkannya itu selalu membuat telingaku sakit, tidak percaya aku bahwa selama sisa hidupku ini akan kuhabiskan dengan mendengar suara yang selalu mengganggu kebersamaan kita oh ayam… Aku malas menjawabnya, seharusnya dia sangat paham bahwa aku selalu tidak bisa jauh dari ayam – ayamku ini. Aku tidak mau melewatan sedikitpun pertumbuhan ayam – ayamku ini. Biar dia sendiri saja yang ke halaman belakang, dia selalu bisa menemukanku di sini.

“Mas, ayam lagi- ayam lagi. Aku ini istrimu mas! Tapi kenapa kamu lebih sayang ayam – ayammu itu daripada aku?” aku sudah bisa menebak apa yang akan keluar dari mulut lebarnya itu. Kamu memang istriku, tapi please mengerti! Bahwa aku ingin terus bersama ayam – ayamku, memandangnya, bercanda dan bermain dengannya hanya itu istriku!

“Kamu cemburu sama ayamku?” Tukasku ketus

“Eling toh mas!, gila apa aku? cemburu sama ayam?”

“Kalau begitu jangan ganggu! Biarkan aku bersama ayam – ayamku!, toh kalau aku bersamamu ayam – ayamku ini tidak menggangu!” Aku masih santai saja menanggapi omelannya yang tak jelas ini, menganggu saja!

“Kamu tuh kelewatan mas! Sudah dibutakan sama ayam – ayam jelekmu itu. Mau makan inget ayam, mau tidur inget ayam, bangun tidur yang dicari ayam, pulang kerja yang disamperin ayam!”

“Enak saja kamu mengatai ayam – ayamku ini jelek! Ini ayam mahal. Ayam jago!” aku naik pitam pada siapapun yang berani menodai nama baik ayam – ayamku ini bahkan terkadang aku heran kemarahanku jauh lebih besar dibandingan aku yang dijelek – jelekkan.

Karepmu wade lah mas, bisa gila aku ngadepin orang gila!”

“Biarin ye!”

 

***

 

Di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, aku keingetan terus ayam – ayamku yang mungkin tengah jenuh terkurung di kandang seharian. Uuuh, membayangkannya saja sudah mengenaskan.. ngenes aku,  ingin rasanya cepat – cepat pulang! Tapi, ini saja baru sampai ruangan inap rumah sakit tempat keponakkanku dari adik laki – laki ku dirawat karena penyakit  Demam Berdarah. Aku gelisah setengah mati. Kalau Penyakit malaria semacam DBD diakibatkan oleh nyamuk, rasanya kini aku pun  terserang malarindu karena ayam – ayamku.

“Om…om.. Kok diem aja?” tegur si Alif kecil, keponakkan ku yang paling lucu, giginya yang ompong tepat di tengah menggoreskan luka pada kebaikkanku yang sering memberikannya coklat dan permen – permen! Baru menyesal aku sekarang melihat giginya yang karang.

“Om,sedih ngeliat kamu sakit. Alif cepet sembuh ya! Om bakalan kasih apapun yang Alif mau deh, kalau Alif cepet sembuh!”   Aku benar – benar tidak tega melihat tubuhnya yang kecil tergolek lemas di atas tempat tidur dan perggelangan tangannya yang tertancap jarum suntik. Itu membuatnya Alif kehilangan kelincahannya dan kegesitannya yang menggemaskan.

“Om janji ya!” Walau dalam keadaan sakit Alif tetap tidak kehilangan senyum lebarnya itu. Aku pun membalasnya dengan sebuah imbalan permintaan!

“Aku mau ceker ayam om!” Apa? Anak kecil meminta tumbal. Dasar anak kecur, seenaknya saja dia meminta ceker ayamku, dia kira aku sudi mengorbankan ayamku untuk dirinya. Permintaan yang menyebalkan! Menyesal setangah mati diriku memanjakkannya.

“Alif, kamu tahu om mu ini sangat menyayangi ayam om lebih dari siapapun! Sudahlah lebih baik kamu sakit saja!” Aku gusar dan meninggalkannya dengan tanpa rasa kasihan bahkan sekalipun air mata buaya-nya berguliran dari matanya yang masih saja memandangku penuh harap akan ceker! Aku tidak peduli, aku pulang! Tak sabar membuka kadang ayam! Biar kutumpahkan segala gunda – gulana ku hari ini pada ayamku tercinta!

 

***

 

Minggu lagi… minggu lagi. Hari yang selalu aku nantikan untuk seharian bersama si ayam – ayam. Memberinya makan, memandikannya dengan sampho dan conditioner, membersihan kandangnya agar ayam – ayamku nyaman berkeram di kandang, mendengar celotehanya yang riang, tawanya yang menyenangkan. Sungguh indah kebersamaan ini.

“Adi!” Aku menoleh kebelakang, sosok wanita berkerut tua, berambut putih semua, dan tubuh agak bongok berada tepat dibelakangku. Aku berbalik dengan segenap tubuh menghadapnya, sesaat ku alihkan pandanganku dari ayam pada nenekku yang teramat kukasihini ini.

“Ada apa nek?” tanya ku lembut

“Gak ada apa – apa ncu!” suaranya terdengar gemetar tapi jangan kau remehkan! Diusaianya yang menjelang 90 tahun, ia adalah nenek perkasa yang masih sanggup melakukan apapun, memasak, mencuci, menyetrika dan kegiatan rumah tangga lainnya, kecuali menggendongku seperti masih kecil dulu! Hehe

“Ncu, kau teruskan saja lah urusanmu dengan ayam – ayammu  itu. Nenek tidak niat mengganggu!” Tuh kan! Pengertian sekali nenekku ini, sepertinya hanya dia yang lebih memahamiku dibandingkan siapapun! Ah, si nenek. Paham benar kau padaku.

“Oya ncu, nenek perhatikan ayammu yang itu. matanya sayu? Apa dia lagi sakit?” Aku langsung mendelik pada salah satu dari empat ayamku yang ditunjuk nenek.

“Tidak ah nek!” sanggahku, aku melihat ayamku yang satu itu baik – baik saja, mungkin si nenek kali yang harus kubelikan kacamata baru.

 

***

 

Hari ini pekerjaan kantor numpuk, membuatku harus lembur 4 jam dan pulang menjelang malam, pikiran ku mumet dan mataku penat bergulat seharian dengan data – data perusahaan. Satu – satunya hal yang bisa melebur rasa letihku ini hanyalah ayam – ayamku tercinta. Aku berniat langsung ke halaman belakang setelah masuk rumah, tetapi langkahku terhenti di dapur, ada nenek yang masih membersihkan perabot – perabot masak.

“Nenek, udah malam bukannya istirahat! Besok lagi lah diberesinnya!” kataku, seperempat nada memerintah.

“Iya cu,” turutnya,

“Kamu tumben baru pulang? Banyak kerjaan ya di kantormu?pasti belum makan kan?”

Nenek – nenek, setelah ayam – ayamku rasanya aku tidak pernah lupa terhadap pelukkan hangatnya, dan perhatiannya yang sungguh besar padaku, mungkin  mengalahi perhatianku pada ayam – ayamku, aku memang sangat kelaparan! Aku mau makan, dan rupanya nenekku yang baik hatinya ini sudah mempersiapkan makanan di meja makan yang disediakannya khusus untukku.

“Kamu makan yang banyak ya ncu!” perintah nenek sambil menyendokkan setumpuk nasi ke piringku,

“Wah, kelihatnnya enak nih ayam panggang nek? Bikinan nenek yah?” nenek tersenyum mengembang, aku sungguh tak sabar memasukkan satu sendok suap nasi plus ayam panggang ke dalam mulutku ini, dan benar saja! gigitan pertama ayam goreng ini sungguh menggugah nafsu makanku, aku melahapnya tandas, rasa lapar mengusai diriku untuk menikmati seutuhnya rasa gurih, manis, pedas, asin yang bergulat menjadi satu kesatuan lalu meluncur mulus ke dalam tenggorokanku, mengguncang lambungku dengan kekenyangan yang dahsyat. Eghhrr….nenek tersenyum bertambah leber beberapa inci setelah mendengar suara tahak ku yang menggelegar.

“Nek, ayamnya beli dimana? Ayam kampung atau ayam negeri nek?” tanyaku penasaran. Aku akan memintanya suatu saat nanti untuk membuat masakan ayam panggang serupa yang tadi ku makan. Enakkk…..

“Itu, ayammu ncu!”

Sontak aku seperti tersengat listrik beribu – ribo volt besarnya. Oh tidak, apa yang aku makan? Aku melihat perutku yang sepertinya agak membesar secara tiba – tiba ini, dan ayam – ayam tengah berkokok di dalamnya. Lambungku tiba – tiba serasa nyeri seperti dipatok – patok, parahnya lagi aku mengalami goncangan jiwa yang sangat dahsyat, pening kepalaku rasanya, kupingku pengang terbayang jeritan penyembelihan ayamkku ketika lehernya digorok, tubuhnya dimutilasi dengan tidak berprikehewanan dan bulu – bulunya yang wangi dan lembut karena perawatan khusus bulu ayam dengan conditioner dan vitamin bulu lainnya dicabuti tanpa kasihan oleh nenekku yang terlihat penuh ambisi ketika menjagalnya, ayamku yang malang itu dan proses penganiayaan ayamku yang pasti sungguh menyakitkan, Nenek tak ku kira kau sekejam itu padaku?apa salah ayamku? Dan apa salah cucukmu ini yang hanya mencintainya?

“Dari kemaren nenek perhatiin, salah satu ayammu itu matanya sayu cu, daripada sakit terus mati mending nenek potong, nenek masak aja  ncu! Syukurlah kalau kamu suka, nenek seneng!”

Nenek senang, ya ampun..! nenekku senang diatas penderitaanku yang menyakitkan ini, nenek katanya senang dan riak wajahnya memang menggambarkan itu, namun hatiku sakit seperti diiris sembilu, dukaku bertambah dalam saja melihat nenek seneng. Dan kini tidak ada yang dapat ku lakukan kecuali meratapi duku ku kehilangan salah satu ayamku, parahnya lagi ditengah kehilangan dan jeraku ini, aku merasa kenyang dan rasa ayam panggang itu tak mau hilang dari mulutku. Ayam oh ayam nasibmu malang di panggang…

 

***

Sudah dua hari sejak kejadian ayamku yang malang di panggang sejak saat itu pula diriku terserang demam, panasku tinggi bahkan aku merasaan mataku sangat panas. Aku terus dihantui oleh arwah ayamku yang terus saja berkokok dan mematok – matok kepalaku tanpa ampun, dan dua malam ini ayamku itu selalu meyambangi diriku didalam mimpi,  ditambah lagi setiap kali aku melihat si nenek diriku seakan melihat bayangan ayamku didirinya. Sungguh mengenaskan, penderitaan mendekapku dua hari ini dan entah sampai kapan? Aku hanya bolak – balik kamar dan halaman belakang rumah tempat 3 ayamku termenung di kandang, mereka pasti merasakan kehilangan yang sama seperti diriku ini. Bendera merah putih yang berkibar di langit rumahku tepatnya di tiang bambu sebelah kandang ayam pun ku pasang setengah tiang untuk beberapa hari kedepan sebagai masa – masa berkabungku. Ayamku, rasanya aku masih sangat sulit mengikhlaskannya, hatiku ini menangis darah dan yang paling kusesali adalah rasa ayam panggang buatan nenek, yang tak lain dan tak bukan itu ayam kesayanganku masih sangat terasa kelezatannya di mulutku. Oh ayamku

Hp ku berbunyi, aku malas – malasan mengangkatnya dari embaku,

“Iya, ada apa toh mbak?”

“Makasih ya Di, “ucapnya diseberang sana, aku sama sekali tidak mengerti?makasih untuk apa?

“Mbak udah puas sekali, mbak yakin anakku yang masih dalam kandunganku ini akan merasa sangat beruntung memiliki om seperti dirimu.”

“Emang kenapa mba? Kenapa tiba – tiba sekali kau membanggakaku?”

“Maaf ya Di, aku baru sempet mengucapan rasa terima kasihku untuk permintaanku waktu itu yang awalnya kau tolak. Tapi eh, tiga hari kemudian si nenek mengirimkan 2 paha ayam panggang yang katanya itu ayam kamu! Kamu memang adikku yang paling memahamiku,”

Lemas aku dibuatnya, marahku pun berubah jadi bisu. Hatiku pun menjerit, ayamku……

Sedih bukan main hatiku ini, aku jadi teringat ucapan nenek dan alasannya memotong ayamku karena nenek melihat mata ayamku itu sayu dan diagnosis nenek ayamku sakit, padahal sudah ku kata nenekku itu salah liat, matanya lah yang agak bermasalah. Penyesalan lainya adalah kenapa tidak pada saat itu juga ku belikan kacamata untuknya.

Untuk kedua kalinya hp ku berbunyi memecah kesunyian di ruangan nestapa diantara aku dan ayam – ayamu yang tersisa, yang berduka,

“Om,,,,,,,,!!!” teriakan anak kecil ini, seperti teriakan suara hatiku memanggil ayamku.

“Ada apa Alif?” tanya ku basa dan basi. Aku tidak bersemangat meladeninya,

“Aku udah sembuh om sekarang, aku udah di rumah dari dua hari yang lalu om! Aku seneng banget punya om baik kaya om, makasih ya om atas ceker ayamnya yang ennnnaaaak banget! Waktu aku di rumah sakit nenek bawain dan aku langsung sembuh om!”

Lagi – lagi ku teriakkan tidaaaaakkk….!!! Ayamku yang malang….

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s