Pengantin Surga

484296_616391491709238_182194392_n484276_616391108375943_335621311_n

“MAMU  & ZEIN” Api asmara telah membakar mereka dalam rindu. Kobaran cahaya kasih diantara keduanya menyala – nyala dalam gelap gulita, namun harapan mereka telah porak – poranda. Jalan kisah mereka diliputi kegelapan dan diakhiri dengan kepedihan yang menghanguskan.  Jiwa mereka terpanggang kebinasaan, menyisakan debu kepiluan. Merana dalam panasnya asap kehampaan.. Ratapan mereka terdengar bagai lagu kematian.  Cinta, ada atau tiada kadang hanya menyisakan luka. Cinta, kebahagian tak kan berpisah dari derita. Cinta, ketidakberdayaan dan kekuasaan saling membinasakan. Cinta,,,

“Zein kamu adalah satu – satunya bukti bagiku.”

“Kamu adalah satu – satunya kekasih bagiku, Mamu.”

“Kamu adalah jalan terindah untuk menuju Tuhan.”

“Kamu adalah sebaik – baiknya penerang bagi jiwaku.”

“Kamu penerang hatiku, Zein.”

“Kamu permata hatiku, Mamu.”

“Kamu penguasa jiwaku.”

“Kamu adalah kiblat jiwaku”

(Munajat cinta mereka berdua:hal 25)

Kisah ini tak kan mampu membendung air matamu, seakan kau ikut merasakan penderitaan, kau turut menangung beban rindu yang teramat dalam, menyiksa jiwa dan membuatmu mengerti risalah kisah  antara Mamu dan Zein. Lika – liku jalinan keduanya bagaikan gelobang dasyat yang akan menghempaskanmu dalam kesediahan beku, yang teramat dingin.

Mamu dan Zein, dua insan yang tengah dilanda cinta.

Dalam kisah ini kau akan menemukan seorang gadis yang kecantikannya, tampak lebih menakjubkan dari segala keindahan, cantik gadis ini menjadi symbol dari pesona Tuhan yang sempurna, Zein seorang putri kerajaan Jazirah Buton pada pertengahan masa Utsmani, adik dari seorang raja terpandang pangeran Zainudin. Zein jauh lebih cantik dibandingkan sang kaka Siti, namun karena kecantikan mereka yang tiada tara, mereka dipingit di dalam istana. Tidak seorang pun lelaki yang bukan muhrim diperkenanankan melihat keduanya. Bacalah saja bukunya, lalu kau kan terbayang secantik apa mereka berdua…..

Tokoh lainnya yang juga memesona bernama Mamu dan Tajudin. Keduanya adalah pemuda terpandang di kementerian istana pangeran Zainuddin (Hal:40). Kedua pemuda itu memiliki karisma yang mematikan, dibalut kegagahan yang begitu megah. Mulia lagi berwibawa. Rasa keingintahuan yang membuncah untuk dapat bertemu, memandang kecantikan dua dua putri istana mengantarkan mereka pada kisah cinta.

Jalinan asmara antara Tajudin dan putri Siti berlabu pada mahligai suci, bersatu dalam janji setia. Bersemi  indah dalam taman kebahagian, memetik nikmat dari buah harapan. Namun sebaliknya kisah Mamu dan Zein. Cinta yang kuat dan mengkristal diantara keduanya itu, bercampur dalam gejolak rindu nan membara serta sebatas harapan yang mengembang dalam gambaran terindah dari ilumnasi yang menyala  nyala. Semua itu menyebar keseluruh perasaan keduanya, untuk kemudian terhimpun dalam satu asa. Akan tetapi, Mamu & Zein, turut berbahagia atas kebersamaan kedua manusia yang juga teramat dikasihinya Siti dan Tsajudin. Walaupun dalam keadaan terbakar keduanya yang terhalang sang pangeran penguasa Jazirah, yang tak lain kaka kandung dari putri Zein.

Zainudin, seorang pangeran yang berkuasa secara otonom. Pangeran Zainudin memiliki kecakapan yang tinggi, kekayaan yang berlimpah, pengaruh yang besar lagi kuat sebagai seorang penguasa. Sekalipun demikian, beliau tidak pongah hinggah diterima dan disenangi oleh semua lapisan rakyatnya (hal:20.)

Bumi selalu berputar. Ada siang, ada malam. Ada gelap, ada pula terang. Tak kan pernah ada dunia hanya dengan keburukan, hal itu akan bercampur menjadi kebaikan yang benerang. Kisah ini tak sebatas romantisme atau tak sekedar dera derita , ada intrik yang mengusik setiap hati untuk terjerambab dalam alur cerita. Ada  hikmah dalam setiap bait kata, dalam hembusan yang ditiupkan dalam setiap karakter ada contoh yang baik untuk ditiru atau bahkan musti dihindari. Dalam sebuah cerita selalu ada tokoh antagonis yang menambuh gendererang perang dan menyulut kebakaran. Dia adalah seorang licik,  isi otaknya hanya tipu daya, fitnah menjadi makannya. Bakar. Tubunya bogel. Kepalanya botak. Air mukanya angkuh. Sorot matanya penuh dengan dendam, kebencian dan hasut (Hal:115). Bakar rupanya menjijikan, namun sikapnya jauh lebih memuakan. Dialah penyebar fitnah yang mematikan, akan tetapi pangeran Zainudin masih saja terus memeliharanya sebagai pengawal istana.

“Wahai Tajudin. Kadang – kadang dalam menjalani hidup kita butuh orang dungu seperti Bakar….”

“…Percayalah, fitnahnya tidak akan sampai membahayakan kita.”

(Hal: 117)

Begitulah, pangeran Zainudin memelihara iblis dalam istananya. Bakar dan fitnah yang sungguh kejam.

Selanjutnya…..

Baca saja ya!!! ^_^

Novel Pengantin Surga sudah dua kali kubaca, entah terlalu peka atau bagaimana? Air mata selalu saja mengalir, bahkan ketika membacanya di dalam bus sehingga harus kusembunyikan kesedihanku ini yang seakan telah terasuki oleh penderitaan Mamu dan Zein. Novel setebal 283 ini, karangan DR. Muhammad Sa’ad Ramadhan Al – Bouty yang kemarin (22 Maret 2013) telah berpulang kepangkuanNya di usia 84, sebuah karya mega bestseller. Sungguh selain ulama terkemuka juga seorang sastrawan yang terbaik.

“Buku ini kebun hatiku, buah pikiranku. Kini kupersembahkan, dengan segenap kemampuan. Semoga….”(Prolog)

 

Semoga kau mendapatkan tempat terindah, dan tersenyum bersua denganNya…Aamiin.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s