Docang Ohang

ImageKota Cerbon yang panas,

“Mes, teteh jodohin sama dokter di klinik teteh mau gak?” tanya teteh, mungkin sekedar recoment. Sorot matanya tajam, menusukku kelu.

“Gak ah teeh,!” tolakku.

Teteh sering cerita tentang dokternya yang berwajah tampan, pria pujaan warga di sekitar desanya. Teteh juga pernah bilang ‘Mungkin, kalau aku belum nikah. Aku mau sama dia?’ ingatku saat itu.

“Kenapa?” tanyanya lagi dengan raut kecewa

“Kalau dokter umum aku gak mau teeh!”

“Kenapa kamu gak mau sama dokter umum?” nada suaranya melemah,

“Aku gak butuh dokter umum teeh, aku butuhnya dokter hati..!!!”

“Preeetttt…!”

Aku terkekeh, teteh seolah tidak menerima pilihanku itu. Tapi kemudian tersenyum sambil menggeleng – gelengkan kepalanya.

Aku dan teteh tengah bersantai sore di teras, kebetulan rumahnya terletak di pinggir jalan yang cukup ramai dilalui kendaraan. Hilir – mudik sesukanya. Beberapa menit kemudian teteh berbicara lagi, tapi suaranya terdengar tak jelas ditelingaku,

“Hah OHANG?” jelasku terbelalak,

“Teteh ada – ada aja nih! Gak mau ah,” sergahku segera

“Apa?” muka putihnya nampak memerah terkena sinar matahari sore berwarna jingga.

“Aku gak mau dijodoh – jodohin! Tadi nawari aku dokter sekarang OHANG? Orang Cina dari mana lagi?”

Aku ngambek, cemberut bebek. Eh, si teteh malah ketawa ngakak??

“Siapa yang nawarin kamu Koh Ohang?”

Aku masih sebel,

“Tadi teteh nawarin kamu DOCANG! Makanan khas Cerbon! Kamu tuh salah denger!” hahaha, tawanya makin lepas. Seolah puas!

“Oh, DOCANG bukan OHANG?!”

Aku masuk rumah, ke kamar, nutup muka pake bantal.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s