Stones into Schools

ImageSubhanallah2999Stones into schools, buku setebal 475 halaman ini menyudutkan rasa sedihku, meyentil naruniku yang hampir membeku, mendera diriku, meng-gebrak-ku yang tengah termenung dalam keterpakun, mendikte-ku akan sebuah cita – cita yang bukan milikku seorang diri, bila Greg Mortenson saja mampu menegakan tiang pedidikan  yang runtuh dalam porak – poranda perang di Afganistan maupun Pakistan, ditambah lagi bencana alam yang semakin  memperburuk situasi di sana, di pedalaman desa – desa terpecil, ditengah – tengah masyarakat  muslim, malu rasanya bila kita masih berjibaku pada kepentingan diri sendiri tanpa peduli pada yang lain.

Greg Morteson hanya laki – laki biasa, seorang perawat asal Amerika. Suatu kali ia tersesat saat hendak mendaki K2 gunung tertinggi di dunia dan kemudian tanpa sengaja memasuki desa Korphe, desa miskin Pakistan, bahkan saking miskinnya sehingga satu diatara tiga anak di sana mati sebelum mencapai usia satu tahun. Dalam keletihanya setelah meyusuri hampir enam puluh tiga kilometer Gletser Baltoro dan kemudian diberi naungan oleh penduduk Korphe untuk beristirahat Greg melihat delapan puluh dua anak sedang duduk di luar, menulis pelajaran mereka dengan ranting kayu di atas tanah tanpa seorang guru pun terlihat. Dalam pemendangannya yang menyedihkan itu, Greg Mortenson berjanji pada dirinya sendiri, suatu hari nanti membangun sekolah untuk mereka. Yang pada akhirnya membawa Greg pada jalan takdir yang terjal sekaligus berbahaya untuk menepati janji mulianya, misi perdamaian dari dunia pendidikan.

Greg Mortenso, pendiri 131 sekolah di Afganistan dan Pakistan yang menyediakan pendidikan pada hampir 58.000 siswa. Pencapaian yang luar biasa yang bermula dari sebuah janji seorang laki – laki sejati, dalam buku Stones into schools ini diceritakan secara mendetail dan penuh kejujuran disertai percikkan ketulusan dari orang – orang selain Greg yang turun tangan dalam tugas mulia ini, seperti penduduk asli Afganistan – Pakistan, Mantan penguasa Taliban serta orang – orang yang tergabung dalam CIA (Central Asia Institut) yang dikepalai Greg, juga para donatur dari seluruh belahan dunia.

Masuk ke negara Afganistan – Pakistan bagi Greg yang berkewarganergaan Amerika bukanlah perkara mudah, ditambah lagi beberapa benang merah yag masih kusut antara dunia islam dan negara – negara barat pada saat itu, termasuk pristiwa 11 september, pembakaran Al – Qur’an di Guantanamo, juga kebijakan Amerika dan sekutunya memasuki Irak serta Osama bin Laden beserta pengikutnya yang selalu bertentangan jauh dari Amerika. Bukan hanya sulit, penculikan, pengancaman sampai tindakan membahayakan lainnya harus diterima Greg! Tapi tidak sedikitpun menciutkan nyalinya untuk tetap memperjuangkan pendidikan di bumi Afganistan – Pakistan.

Sedikit diulas mengenai buku pertama Greg Mortenson bersama David oliver Relin, Three cups of tea tentang pepatah balti “pada secangkir the pertama yang kau minum bersama kami, kau masih orang asing. Pada secangkir kedua, kau adalah teman kami. Tetapi pada cagkir ketiga kau menjadi keluarga, kami bersedia melakuka apa saja, bahkan mati.” (hal.21). Pepatah ini lah yang sampai pada terealisasikan puluhan sekolah telah menjadi semacam pendekatan atau penjajakan yang digunakan Greg untuk merangkul masyarakat setempat, begitupula dengan hal pertama sebelum dilakukan pembangunan sekolah – sekolah tersebut adalah pembuatan jembatan, selain untuk akses terpenting memasuki desa – desa terpencil juga sudah mejadi bagian yang tidak bisa dipisahkan, ibarat menjadi penghubung cinta dan kasih sayang diantara Greg yang berasal dari seberang negara nan jauh di barat bersama rakyat Afganistan – Pakistan yang membutuhkan uluran bantuan.

Penuh aral rintang yang bukan saja memakan cukup banyak waktu tapi juga mengancam kesalamatan Greg kala harus menelusuri puing – puing kehancuran daerah – daerah setempat dikarenakan perang ataupun bencana gempa berkekuatan 7,6 yang mengguncang dahsat wilayah Pakistan, belum lagi ancaman menghadapi  Taliban. Namun, dikarenakan niat dan tata cara baik dari Greg untuk menghidupkan kembali dunia pendidikan khususnya bagi perempuan – perempuan yang sempat dipinggirkan, Greg disambut baik bahkan dinantikan oleh rakyat Afganitan – Pakistan.

Semakin dalam aku menjejaki buku ini, aku diajak untuk berpetualang ke pegunungan Himalayah sampai kota Kabul bahkan masuk ke desa – desa pedalaman Pakistan – Afganistan. Aku sempat tegang ketika lewat buku ini menyaksikan antar peperangan di Afganistan dengan Soviet, saat Pakistan yang berlawaan pendapat dengan India dan pertempuran lain yang hasilnya selalu sama yaitu menyisakan kepedihan kehidupan manusia. Begitupula melewati lembar demi lembaran di halaman 182, di dalam bus bahkan aku tidak bisa meyembunyikan buliran – buliran air mataku, saat harus merasakan pederitaan akibat gempa di Pakistan dan daerah – daerah lain yang sungguh mengenaskan. Seluruh banguan sekolah ambruk, memerangkap tiga ratus anak perempuan di dalamnya. Banyak di antara mereka yang sudah tewas, tetapi sebagian masih hidup, dan ketika orangtua siswi – siswi ini mulai berlari memasuki pekarangan sekolah, mereka disambut oleh teriaka sayup – sayup anak – anak mereka dari bawah puing – puing. Namun disaat yang sama keinginan untuk membangun pendidikan yang layak tidaklah pula ikut hancur, ibarat api maka nyalanya abdi, keinginan malah semakin mengokohkan niat mereka dan tentunya juga Greg untuk mendidirikan madrasah – madrasah di sana. Walaupun diperlukan dana yang tidaklah sedikit dan waktu yang cukup untuk mewujudkan itu semua, namun berkat Allah SWT semuanya menjadi mungkin.

Buku sekuel memoar laris ‘three cups of tea’ ini megajarkan kita bahwa cita – cita yang menggantung di hati kita, bukanlah hanya milik kita seorang, terlalu sayang bila hanya untuk merasakan keuntungan bagi diri sendiri. Bila Greg punya jalannya sendiri, begitupula dengan kita, tidaklah harus sama. Tujuanya sejalan untuk menembar berjuta – juta kebaikan. Terutama dalam hal pendidikan, dengan pendidikan kita akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik, dalam hal kesejahteraa hidup ataupun kehidupan yang lebih seimbang diwaktu mendatang.

Hidup hanya untuk sekali, tapi dalam agama islam masih ada kehidupan selanjutnya yang abadi. Sayang bila, diri kita dengan segala daya dan karya hanya mampu menjadi manusia biasa tanpa banyak berguna bagi manusia lainnya. Mari lejitkan diri, raih ridho Illahi, buat diri jadi berarti, ciptakan karya yang walaupun kita mati kan tetap abadi.

Belajar itu adalah harga diri dan harga mati…!!!

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s