Nasehat Seorang Customer

16052011393“Mba… mba…!” panggil seorang customer, hanya aku di stand accessories dan mana mungkin aku cuekin.

“Iyah pak, ada yang bisa saya bantu,” aku mendekat, dengan seribu keramahan. Mempersembahkan senyum terbaik.

“Ini, “ dia menunjuk alat – alat jahit di dalam etalase

“Jarum!” pintanya

Aku memberikan jarum sesuai keinginannya,

“Ada yang lebih besar lagi gak?.  Lubang jarumnya?” Tanyanya setelah melihat jarum yang tadi kusodorkan

“Yang ini pak?” aku memberikan jarum sesuai dengan keinginanya. Dengan harga yang lebih mahal.

“iyah yang ini, pas! Tidak cepat karatan sepertinya,” ujarnya terlihat lebih puas.

“Ada alat yang memasukkan benang ke jarumnya gak?” pintanya lagi. Aku melihat ke dalam etalase, seingatku alat itu bergambar orang tua.

“Yang ini pak. Berapa?”

“3. Cukup!”

Aku melihat bapak di depanku ini, ia masih asik melihat – lihat perlengkapan menjahit. Seluruh rambutnya telah memutih, tubuhnya berisi, membuatnya terlihat lebih tegap dan segar. Pakaiannya rapih dengan baju lengan panjang berkerah warna biru laut, semakin teduh kulihat sosok bapak ini. Aku tak kuasa melontar tanya,

“Untuk ibu di rumah ya pak?” tanyaku hati – hati, khawatir dianggap lancang. Karena berani bertanya.  Dia tersenyum. Simpul.

“Kenapa? Biasanya yang belanja alat – alat jahit perempuan ya?”

Aku  mengangguk.

“Saya, kalau nyuruh istri saya sekarang. Maka dikerjakannya mungkin bulan depan!” selorohnya dengan sedikit tawa, membuatku membayangkan sesibuk apa pekerjaan istrinya?

“Tolong sekalian yang ini!” Ia menujuk alat pendedel benang. Sebuah alat yang berujung lancip. Aku mengambilkan yang berwarna biru. Mungkin sebiru hatiku saat ini.

“Nah, kalau ada celana atau baju saya yang keluar benangnya sedikit. Lebih baik saya mengerjakan sendiri!” Bapak ini menunjukkan celah di lengan bajunya yang benangnya hampir keluar. Seketika aku terkagum. Terlihatlah, gambaran yang jelas di mataku tentang pengertian seorang suami terhadap istrinya, terlepas dari sesibuk apapun pendampingnya.

“Sudah berapa tahun kamu kerja disini?” kali ini gantian ia yang bertanya. Maka dengan senang hati aku menjawabnya,

“Sudah tiga tahun pak.”

“Berarti betah ya?”

Aku hanya dapat menjawab dengan senyuman. Entahlah dia mengartikan apa?.

“Pastinya tidak stak hanya di sini pak, inginnya sich cari pengalaman lain lagi. Tapi sekarang lagi nanggung kuliahnya pak,” gumamku

“Wah bagus itu.” Aku melihat sinar matanya yang semakin terang mendengar ‘aku kuliah’

“Saya, tidak punya kepentingan apapun! Tapi saya senang kalau kamu mau terus belajar!” Jelasnya kemudian, aku menangkap kekhawatirannya yang mungkin dikira akan kuanggap sebuah ketidaksoapanan. Nyatanya tidak!

“Ini aja pak” selahku.

“ya,,ya..!”

Aku membuatkannya bon yang akan dibawanya ke kasir untuk dibayar,

“Nanti saya ambil  barangnya di sini?” tanyanya. Biasanya memang staff pajang di dept. store ini, bertugas hanya membuatkan nota. Selanjutnya, customer lah yang akan balik lagi ke stand  untuk mengambil belanjaan yang telah di masukkan ke kantong plastik. Tapi kali ini,

“Biar saya yang mengantarkannya. Bapak silakan bayar saja ke kasir. Nie bon nya!” Aku memberikan secarik kertas.

“Oya, kamu kuliah dimana? Ngambil fakultas atau jurusan apa?”

“Aku kuliah di STAI Thawalib pak, jurusan tarbiyah.”

“Mau jadi guru yach?”

Aku tersenyum, sebenarnya mungkin menertawakan diri sendiri, takut dikira terlalu aneh kuliahnya keguruan kok sekarang ini masih berstatus karyawan staff inventory control .

“Insya’allah. Paling tidak guru bagi anak – anak saya kelak pak!” aku kembali tertawa,

“Bagus itu!” Bapak ini seolah tengah memancarkan aura positive, yang membuatku seolah tak boleh malu, untuk mempunyai cita – cita setinggi itu.

“Dulu anak saya mau kuliah di UGM, katanya keren

“Terus saya bilang ke anak saya. Kalau kuliah hanya karena keren lebih  baik kamu tidak usah kuliah! Saya ngasih tahu anak saya gitu, ambillah kuliah yang kelak tidak akan membebani dirimu sendiri. Bukan karena gengsi atau sensasi, tapi kuliah yang tidak akan membuatmu kehilangan tugasmu sebagai seorang istri dan ibu bagi anak – anakmu kelak. Pekerjaan yang rentan terhadap pelecehan, sekertaris, bisa saja kan. Dia mendapakan bos yang tidak baik, lebih baik dihindari! Dan sekarang allhamdulillah anak saya bilang, ‘benar kata bapak! Jurusan ini membuat saya tahu banyak hal dan dapat bermanfaat bagi banyak orang  tanpa harus kehilangan kebahagian sebagai perempuan’.”

“Anak bapak kuliah dimana? Jurusan?”

“Anak saya dokter, dulu dia kuliah di UI”

Subhanllah, aku bukan hanya membayangkan sebangga apa bapak ini terhadap anaknya, tapi sungguh beruntung anak memiliki seorang bapak sepertinya. Sebatas pandangan manusia. Akan jauh lebih indah bila selalu berprasangka baik.

 

Inilah sekilas kisah yang tersalin dalam catatan diary ku , aku meyakini setiap hal punya makna, apapun itu sungguh memiliki arti. Setiap orang adalah guru, sekalipun yang mereka berikan hanya luka dan rasa sakit, kehidupan ini seperti sebuah sekolah yang mewajibkan kita untuk selalu belajar.

 

 

Pagi yang biru, di hari rabu,

06032013

Iklan

Satu pemikiran pada “Nasehat Seorang Customer

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s