Pela – Pela

Kepulan asap hitam pekat menyembur dari knalpot bus – bus metromini tepat di depan para pedagang asongan. Tukang gorengan masih saja sibuk merendam cireng – cireng ke dalam minyak panas, bekas menggoreng pisang, ubi, bakwan, tahu, tempe dari minyak yang telah di pakai berulang – ulang. Sedangkan kenek – kenek masih saja ribut berebut penumpang.  Tiba – tiba segerombolan laki – laki bertato, bertampang sangar, bertubuh gempal, berdandan serampangan ala preman, berlaga di tengah – tengah jalan dan menghentak keras tak jelas! mereka berhasil mencuri perhatian sebagian orang disini, dengan mata membelalak seolah siap melemparkan peluru – peluru ganas ke siapa saja yang tak paham atau belaga tidak mengerti siapa mereka? dan mau mereka!. Hanya dalam hitungan detik, beberapa orang menghampiri mereka dengan wajah pucat dan tubuh gemetar précis seperti ayam – ayam ketakutan sambil menyodorkan beberapa seribuan lecek. Lalu mereka yang hanya berani menjajah tertawa terbahak – bahak. Puas.

“Tia….” Begitu Kristin memanggil Sumartia, mengalihkan perhatian Tia dari padangannya semula. Yang punya nama menoleh, melambaikan tangan ke arah sumber suara. Kristin dan Yuke menunggu Tia berjalan ke arah mereka.

“Hp lo mana? Kamera mana – mana? Dompet lo gak taro di kantong rok kan? Tas, dari pas lo naik mobil lo gak gemblok dibelakang kan?” Baru juga selangkah mendekati mereka Kristin sudah melontar Tanya bertubi – tubi.

“Lama banget sih lo Ia..!” Sergah yuke,

Tia sumeringah, senyuman bercampur dosa karena datang telat.

“Semuanya aman Kris,” Tia menatap Kristin dengan mata bercahaya, Menyakinkan Kristin bahwa dia benar – benar telah bersikap waspada sebagaimana yang telah di ingatkan sahabatnya itu, harus berhati – hati naik metromini  jurusan Senen – Tanjung Periuk

“ Maaf Ya, w salah. Telat! Bokap w tadi marah – marah. Hampir aja w gak dibolehin keluar rumah!” Jelas Tia

“Kenapa bapak lo Ia?”Tanya Yuke

“Nyokap w nurunin foto berseragam polisinya, w sich yang usul biar diganti sama foto keluarga, hehe”

“Foto yang ada di ruang tamu itu?” Tia mengangguk

“Syukur deh?”

“Lho? Kenapa Ke?”

“Kumis bokap lo bikin w merinding setiap kali maen ke rumah lo, tamu juga bakalan serem kalau baru masuk rumah eh, udah disambut foto serem kaya gitu!”

“Kurang asem lo!”

“ Eh, Sari mana?” Absen Tia. Tia hanya mendapati 2 orang sahabatnya, dan kehilang seorang lagi.

“Biasa tuh anak gak boleh liat kucing! Doraemon lagi ngobrol sama temennya,!” Kristin menunjuk ke pojok halte, Tia menoleh ke kanan. Benar saja, Sari tengah asik memberi makan kucing – kucing. Yang tidak pernah tidak ada di tas Sari adalah makanan kucing bahkan terkadang ikan sisa. Pantaslah gadis itu dipangggil dengan julukan doraemon, dan terkadang dipanggil ‘Sari’ nama belakang yang paling dibanggakannya. Nama belakang, sering kali dilupakan oleh banyak orang. Namanya Dian Permata Sari.

“Doraemon!” Sari nengok

“Benerkan, dia sendiri udah merasa dirinya itu kucing. Hehe” kata Yuke, Tia dan Kristin ikut terkekeh.

“Ngapain lagi tuch anak pake ngegendong kucing segala.! Udah tau kita lagi mau menjalankan misi penting!’

“Yaudahlah Ke, biar dia anteng!” timpal Tia

“Eh, Tia udah dateng. Yaudah yukh kita mulai,” kata Sari

“Ntar dulu, dia belum dateng?”

“Siapa lagi Kristin?” Tanya Sari

“Kalau dia gak dateng, kita batalin pokoknya.!”

“Ya, jangan gitu dong Kris!” Protes Tia,

“W setuju!” Yuke angkat tangan

“Tinggal selangkah lagi Kristin, lomba nya tinggal 5 minggu. Kita gak punya banyak waktu lagi, Ini waktu yang pas buat observasi!”

“Tia, w bilang enggak!”

“Ayolah Kris!!!” Tia merajuk. Kristin menatap tajam mata Tia yang berkabut kecewa. Kristin paham itu, tapi penelitian kali ini cukup berbahaya, yang akan dihadapi bukanlah sembarang tempat dan sembarang orang! Kristin jadi setengah menyesal mengusulkan ide ini.

“W sich ikut suara terbanyak! Siap,” ujar Sari sambil nyuapin makan anak ke mulut kucing berbulu hitam dipelukannya.

Tia pun  sadar tidak bisa merubah sedikitpun apa yang telah Kristin putuskan, itu adalah mutlak. Kristin tegas, bahkan terkadang terlihat egois.

Pandangan Tia berpedar mencari – cari  yang masih juga samar! Orang itu,  mata Tia melebar, kali – kali dia dapat melihatnya,

“DOOOORR..!!!”

Yuke, Kristin dan Tia terkaget bahkan anak kucing hitam yang digendong Sari meloncat dari dekapan.

“Akhirnya, lo datang juga!!” sambut Kristin kepada sosok bertubuh tambun, hitam legam, dengan kaca mata hitam mengangkring di kepala plontosnya.

“Ini dia?!” Hentak yuke,

“Kristin, lo dan temen – temen lo masih  SMA kan?, masih pitik – pitik!”

“Iyah, tugas lo cuma ngawasin kita dan mastiin kita akan baik – baik aja y!” Kristin nampak akrab, lelaki ini manggut – manggut. Dia  tetangga Kristin di Pendongkelan. Mantan preman pasar, mantan pencopet dan  mantan penjahat, syukurlah mantan! Dan sekarang Kerjaannya cuma 1 bantuin Ibunya berjualan sayur di Pasar Induk, dengan mengatasnamakan kasih sayang diantara tetangga Kristin meminta bantuannya untuk menjadi guide dikarenakan predikatnya sebagai penjahat! Eh, mantan penjahat! Terlebih lagi daerah sekitar sini pernah menjadi daerah jajahanya. Jadi amanlah! mudah – mudahan disertai lelaki ini.

“Kita manggil Om ini siapa?” Sari berbisik ke telinga Kristin. Tapi suaranya bisa terdengar semua orang,

“Panggil w MR. P.”

“Oh, MR.P…” Tia memperjelas, pikir – pikir namanya seperti merk product kacang?

MR. P..! Pimen yah?” Seloroh Yuke, membuat Sari, Tia dan Kristin menyembunyikan tawa, jadi inget kartun. MR.P tidak mengerti.

Layaknya bangunan tua Belanda, arsitektur yang kuat dan berciri khas, pilar – pilar berdiri angkuh, menyombongkan kekokohanya, daun jendela menjuntai dengan eloknya. Sungguh bangunan yang malang, tidak terurus. Hampir seluruh muka depan tertutupi  warung – warung pinggir jalan, penjual makanan pecel lele, gorengan, nasi goreng, sate ayam. Minuman – minuman, minuman panas, dingin sampai minuman keras bergambar topi miring.

Yuke, Kristin, Tia, Sari mengikuti MR P. yang berjalan berbusung dada di depan mereka. Seiring selangkah, mereka berjalan perlahan, saling menguatkan. Memaksa jejak langkah yang sempat goyah.  Luar binasa gedung ini! Nampak muram dan terbuang dari rawatan tapi masih tetap megah terlihat! Setidaknya  di depan mata sahabatnya yang masih setia menjadi terminal yang kini telah tua di Tanjung Priok. Mengitari bangunan ini, membuat hati bertanya – tanya akan sebab musabab ia terbuang?. Pintunya itu jebol. Masih ada daun jendela di sana, menguping setiap suara, dan apa kata dunia?.

Memasuki bangunan ini seperti berada dalam sebuah  museum tua yang besar. Suasana menghantu menyerebak di sekeliling ruangan yang luasnya sekitar 26 ha. Dua tiga orang melemparkan tatapan garang dan liar kepada mereka bertiga. Padahal pakaian yang dikenakan 4 gadis ini amat biasa, costum pergi ke pasar! Tia mendelik, apa yang mereka lakukan di pojok – pojok ruangan?. Berdua – duan!. Bagian dalam bangunan ini lebih buruk dari luarnya seperti hati yang menyembunyikan kemunafikan. Pengap dan gelap, sedikit redup karena sebagian jendela tertutup, cahaya terang di luar sulit masuk . Hanya berani menyelinap. Langit – langitnya masih  kekar dengan ditopang tiang – tiang penyanggah yang tersusun apik di tiap sisi ruangan. Walau lecek marmer di lantai masih layak untuk di ijnak hanya sedikit bercak.  Sebagaimana layaknya stasiun lainnya, di tempat ini juga masih terdapat tempat penjalan tiket, peron, ruang kepala stasiun, dan ruang PPKA (Pengaturan Perjalanan Kereta Api). Berada di dalam Stasiun ini, membuat ke-4 anak SMA ini tak henti berdecak kagum. Hampir tidak mempercayainya, bahwa sebentar lagi, selangkah lagi, mereka sudah berada di Pela – Pela.

Tempat itu bernama Pela – Pela, singkatan dari Pelacur – pelacur. Letaknya ada dibelakang stasiun. Masuk ke dalam, semakin jauh menyusur  ke ujung, semakin mata ini terperajat. Selama 10 tahun tidak beroprasi, kondisi stasiun ini benar – benar memprihatikan. Kondisi bangunan tak terawat menjadi stasiun mati.  Rel kereta api hanya terhubung pada jalur buntu. Di pinggiran  sepanjang rel telah terbentuk kotak – kotak sepetak bangunan di atas bangunan.

“Sayang banget ya, ni stasiun jadi temat begituan?!”

Pssiitt, dijaga mulut lo Yuk?” kata Kristin, dia memang nampak lebih berani dibandingkan yang lain. Sari memilih bungkam tanpa komentar,

“Sar, kucingnya mana?” Tanya Tia, pertanyaan yang tidak penting untuk ditanyakan disini, tapi Tia paham sahabatnya itu tengah ketakutan!.

“Kok bisa ya? Tempat ini ada?dan bertahan sekian lama?” Kata Tia, membuka diskusi berbisik sambil jalan perlahan.

“Yaiyahlah, dugaan w! pasti ada campur tangan oknum!”

“Maksud loh Kris?”

“Setuju! Polisi atau bahkan pejabat.,” Yuke menebak

“mmhh.. bener tuch.!” Sari ikutan

Di belakang stasiun, mereka seperti memasuki sebuah kota di dalam bangunan tua, rumah – rumah semi permanan berjejer tak  beraturan. Suasana Sepi. Pintu – pintu tertutup rapat. Sebuah perkampungan tua yang berusia 50 tahun bernama Pela – Pela. Lokalisasi termatsur di wilayah Jakarta bagian Utara.

Mereka beserta MR.P berjalan santai, seperti hanya sekedar numpang lewat. Jangan sampai mereka terlihat mencurigakan, itulah alasan kenapa MR.P melarang Yuke mengambil gambar. Tia hanya bisa mengabadikan apa yang dilihatnya di kepalanya, melihat seorang anak laki – laki yang kira – kira berusia 6 tahun tergeletak di lantai. Tidur. Pulas!. Wajah dan tubuhnya kumal, baju yang menempel dibadannnya yang kurus sangat kotor. Beberapa orang juga terlihat tenggelam dalam lautan mimpi, merebahkan dirinya di atas bale – bale yang hampir reot. Pikiran dan perasaan Yuke, Kristin, Tia dan Sari menyatu, semoga keingintahuan ini tak mengusik mereka!.   Selanjutnya, masih berjalan di tanah becek ini. Masih di dalam komplek stasiun tua Tanjung Priok. Lebih tepatnya Lokalisasi Pela – Pela. Di dalam sebuah gang sempit. Diantara 2 rel. Masih terus menyusuri! Sebuah kalimat dengan tulisan besar  “Kawasan Bebas Kondom”  kata – kata yang seakan menjadi maskot di kampung ini. Berjejer gubuk – gubuk yang letaknya acak – acakan. Berhempitan. Jauh ke ujung sepanjang rel kereta api, sebut saja itu rumah! Masih berpetak disana. Sampai ke ujung.

“Kita, pura – pura beli minum! Eh, beli beneran deh!” Perintah MR. P

Siap!. Mereka sigap.

“Manager keuangan.. siapkan uang!” Perintah Tia kepada Sari. Penunjukan paksa Sari sebagai pengatur keuangan dikelompok ini, menjadi bagian penting dari grup KIR (Karya Ilmiah Remaja) Phabel –Empat Belas- nama sekolah mereka.

“STOP!!!” mendadak MR.P. memerintah. Sempat membuat Yuke, Sari dan Tia merinding mendengar, karena terdengar membentak.

“Sebelum neng lahir, perkampungan ini sudah berdiri. Dulu, memang tidak sebanyak ini penduduknya, bapak juga yang berpuluh – puluh tahun tinggal disini enggak engeh, bisa sebesar ini jadinya pela – pela, “ Tutur Pak Slamet, kerutan – kerutan diwajahnya seakan jadi saksi sejarah kehidupannya di tempat ini,

“Aqua doang Neng?” Tanya pak Slamet, membuat Tia tergesigap,

“Boleh deh pak kacangnya,” Pak Slamet menyodorkan toples berisi goreng kacang yang dibungkus plastik kecil – kecil. Sekedar basa – basi, Tia menyodorkan kacang yang diambilnya kepada Sari. Yuke mendapat tugas mencatat setiap dialog dengan detail antara Tia yang bertugas menjadi reporter dengan responden terpilih. Kristin mengamati keadaan sekitar dan bersiap memberi sinyal bahaya dari radarnya yang peka, terhadap setiap perubahan yang terjadi. Maklum, trackrecord hidup di jalanan membuatnya, sudah terbiasa dengan lingkungan seperti ini. Bahkan sebelumnya, Kristin sempat memberi ide untuk meneliti PSK di sekitar taman lawang, namun pada akhirnya mereka lebih tertantang untuk meneliti pela – pela.

“Oya, neng ada urusan apa datang ke tempat seperti ini? Hati – hati neng, gak baik neng – neng ini berlama – lama di sini!? Sekarang memang masih sepi, paling juga sebentar lagi jadi rame. Sebelum tambah gelap, sebaiknya pulang ke rumah!.”

Tia sempat gagap ditanya begitu,

“Kami dapet tugas dari sekolah pak, buat bikin makalah tentang stasiun tua.  Gak tau kenapa jadi keterusan deh kebelakangnya, hehe” alasan sekenanya, tapi juga tidak berbohong. Emang bener buat tugas..Tugas penelitian! Kata Tia membatin.

Azan berkumandang memanggil  jiwa – jiwa kesepian yang merindu surga.’alhamdulillah’ .PAS, sebelum pak Slamet bertanya lebih jauh, waktunya sholat! Tia sempat berkata “Nanti saja!” dalam hatinya, karena yakinnya tak ada mesjid atau mushola di sini. Di tempat prostitusi.

“Shalat magrib dulu Ta, Yuke, Sari,,!” Kristin mengingatkan.

“ Nanti aja Kris di rumah!” saran Yuke.

“Kalau sampe rumah, kalau enggak?”

“Ah lo mah Kris.!”

“Di sini juga ada mushola neng.” Kata pak Slamet menyela,  membuat Tia dan kawan terheran – heran, di tempat seperti ini ada mushola, ada yang shalat? Rupanya seperti apa pun manusia, pasti makhluk yang memerlukan Tuhan.

Pak Slamet menunjukan sebuah Mushola kecil di pinggiran gang sempit,  masuk lagi ke dalam. Paling pojok. Ada Mushola At – Taubah di situ?. Mushola At- Taubah, nama adalah harapan, bukan hanya sekedar kata tanpa makna. Selain itu juga terdapat gereja, tepat dua blog dari gang ini.

“Neng yang ini gak sholat?” Kristin mengeluarkan kalung salibnya yang tergantung di leher kepada pak Slamet.

“makasih ya pak,” ucap Kristin atas keramahan pak Slamet,

“Kris, lo mau kemana?” Tanya Tia, Kristin memisahkan diri, sementara sahabatnya menunaikan kewajiban shalat.

“W mau cari MR.P. dia ninggalin kita gitu aja di warung, kemana tuch orang?”

“Yaudah, tapi jangan jauh – jauh nyarinya! perintah Tia. Kristin mengangguk

***

Lokalisasi Pela – pela merupakan reinkarnas dari lokalisasi Kramat tunggak, bahkan jumlah PSK mencapai ratusan. Sepanjang bantaran rel kereta api di dirikan bangunan – bangunan liar, warung – warung klontong penjualan aneka minuman keras seperti; anggur cap orang tua, topi miring sampai vodka tersedia dengan lengkap.

Langit perlahan meredup lalu berubah menjadi gelap. Kesunyian pun berganti jadi hingar bingar music yang saling sahut – menyahut. Saling berdentung dengan keras, Berdendang, bunyi suara gendang. Para biduan mulai berboyang, siap menerkam laki – laki berhidung belang.  Lampu – lampu berwarna warni dikegelapan malam laksana taburan cahaya tak merata. Remang – remang.  Satu – persatu lelaki datang, berkawanan sampai berkelompokan. Seketika peron stasiun disulap seperti pasar malam. Stasiun beralih fungsi jadi tempat hiburan.

Tia, Yuke dan Sari terbengong – bengong ketika keluar dari mushola. Mungkin, mereka salah keluar pintu? Tapi musholanya aja cuma berpintu satu yang terbuat dari teriplek kayu? Dan ini bukanlah pintu kemana saja milik doraemon, yang bisa mudah berpindah tempat.

“Yuke, tadi gak begini?”  Sari menyelipkan tangannya kelingkar lengan Yuke, yang ditanya nampaknya jauh lebih tidak mengerti dengan pemandangan yang tergelar di hadapannya. Sebelum magrib, tempat ini masih sepi, tidak seperti sekarang?

“ Tia, Kristin mana?”

“Gak tahu Ke,” Tia masih belum berkedip dengan pagelaran malam di tempat ini,

Untuk beberapa saat mereka bertiga memilih diam di depan mushola, sesekali laki – laki yang lewat berpandangan tak enak kepada mereka. Atau ada satu – dua orang menyalami ‘assalamu’alaikum’. Mungkin karena mereka duduk di depan mushola, tentunya karena penampilan mereka yang berbalut jilbab, syukurlah tidak mencurigakan. Biasa saja!

“W nyari Kristin dulu yah bentar!” inisyatif Tia. Tapi tertolak

“Jangan Ia, lo jangan kemana – mana! Kita ngumpul aja disini. Nanti Kristin yang nyamperin kita!”

“Gak Yuke, w takut dia kenapa – napa!?”

“W juga takut lo kenapa – napa!”  hentak yuke,

“Kok jadi main cari – carian sich? Kristin nyari MP.P. Eh, sekarang Tia mau nyari Kristin, jangan – jangan nanti kita nyari Tia lagi, atau Tia nyari kita. Olala…”

“W setuju kata Yuke. Lo Tia, disini aja!” Tunjuk Sari. Membuat Yuke mendelik melihat gayanya. Gimana sich kalau doraemon lagi marah karena dikatain seekor musang?.

Tia tak berkutit. Memilih diam dengan sikap tak tenang. Seperti orang yang gelisah, wajar memang. Menit berlalu dengan cepat melewati detik – detik penantian yang mencemaskan bagi mereka bertiga.

“HEEEI..!!! ngapain lo?” seorang lelaki menghentak,

Pandangan laki – laki ditujukan pada mereka bertiga, Sari bengong? Emangnya dia ngapain? duduk manis nich!, tak jauh beda dengan Sari, Tia pun tak mengerti, tapi kenapa orang itu, menugur kami? Yuke? Ternyata laki – laki tegap tinggi itu menegurnya, karena memotret dengan kamera digital di sembarang tempat ini,

Lelaki itu semangkin mendekat, matanya melotot, tangannya mengepal, bahkan seolah – olah tengah menujukkan taringnya. Mereka terlihat gugup, bahkan tak mengerti bagaimana menganggapinya?

“Ngapain kalian? Disini itu, gak boleh motret – motret tahu?!”

“ee, e..maaf pak saya dan teman saya gak tahu,”

“Makanya lain kali tanya dulu, sekarang mana kamera buat moto – moto tadi?!” todong lelaki itu, nada memaksa.

“Mana?” Bentaknya,

“Udah saya langsung hapus kok pak fotonya” ujar Yuke,

`           “Nich pak, gak ada kan?” Yuke menujukan kamera itu pada laki – laki di hadapannya,

Yuke menggenggam erat kameranya, akan tetapi lelaki yang berdiri tepat di depannya ini mencoba meraihnya,

“BENJO, ngapain lo?!” teriak seseorang dari arah selatan, yang dipanggil terhenyak mendengar suara itu. Tia, Sari dan Yuke ikut menoleh,

Benjo namanya, laki – laki bertopi dan bertato itu. Mereka semua mengernyitkan dahi? memperjelas pandangan, siapa yang berteriak itu? Suasana gelap, agak sulit memandang ke depan.

Mr.P…” Tukas Sari

“PAIJO?”

Serentak Tia, Yuke dan Sari beralih pandangan ke Benjo, lelaki itu memanggil Mr.P. Paijo dan, Mr.P teriakin Benjo?. Apa mereka bersaudara?

Di belakang MR. P, Kristin terlihat berlari – lari kecil menghampiri sahabat – sahabatnya,

“Tia, Yuke, Sar!!!” panggil Kristin

“Lo kemana aja? Lama amat?” tanya Tia,

“Tuch! Nyari si Paijo,” Kristin terlihat sewot,

“Oh, nama asli MR.P. Paijo? Gaya tuch orang” kata Sari

Di sisi lain, berjarak semester dari keempat sahabat itu,   Mr.P. alias Paijo tengah bercengkrama akrab dengan Benjo.

“Kemane aje lo?” tanya Benjo

“Kemane – mane w!” jawab Paijo

“Lo sendiri kemane?” Paijo balik bertanya

“Lah, w mah disini aja. Jagain Pela – pela!!!”

“Makin keling aje lo!”

“Nah lo, makin tambun Ben?’’

“Keling yang penting masih bening’”

“W tambun yang penting makmur” kemudian mereka kompak. Tertawa terbahak – bahak. Tia, Yuke, Sari melongo.

“Mereka itu kawan lama. Kaya nya sich udah lama gitu gak ketemu!” jelas Kristin

“Oh, pantas!”

“Syukur dhe, “ Yuke lega

“Emang tadi lo pade kenapa?”

“Ini Kris, si Yuke moto – moto, hampir aja mau diambil kameranya!” jelas Sari

“Yaudah yukh, pulang aja!”

“Lho kok pulang Kris?” tanya Tia,

“Ya, mau ngapain lagi?!”

“Bentar lagi Kris, kita belum ke dalem?” pinta Tia

“Gak bisa Ia, Mr. P. aja  mabok?”

“Hah? Kata lo dia udah tobat?” Sari menimpali

“Ya, mana w tahu? Tadi w nemuin dia lagi di warung minuman depan sambil ngobrol – ngobrol ama perempuan – perempuan?” jelas Kris.

“Anak – anak!” teriak Mr.P. Kristin, Yuke, Tia dan Sari menengok kearahnya

“Sini lo!” Ada kekhawatiran yang tersirat dari raut wajah keempat gadis itu?

“Kata Benjo, lo moto – moto ?” tunjuk MR.P

“Iya, Mr. tapi w udah apus kok?” jawab Yuke

“Bilangin Sob. Sama mereka, jangan sembarangan di tempat ini! Mereka bisa kena masalah besar! Untung aja lo sohib w Jo!” Benjo menepuk Mr.P, menunjukan kesungkanannya.

“Beres Sob!”

“Oya, perasaan w kenal cewek ini?” Benjo melihat dalam Kristin,

“Iyah, dia anaknya mah enoh!” jawab Paijo

“Mah Enoh, yang jualan di perapatan jalan sono? Yang jual mie ke anak – anak jalanan?!”

“Iyah Bang! Kalau lo lapar, ke emak w aja sana!” kata Kristin. Benjo menganguk – angguk

“Sip..sip..!”

“Yaudah sekarang kita pulang!!” sergah Mr. P

Sari sempat berbisik ke telinga Kristin ‘kata lo dia mabok? Ngomongnya masih bener Kris?’

“Mana w tahu? Emangnya w pernah mabok?”

“Jangan pulang dulu Mr.P. kita belum kedalam?”

“Mau ngapain lagi ke dalam?”

“Udahlah , Tia. Kita pulang aja!”

“Gak, bisa gitu dunk Kris! Kita harus tetap ke dalam!” Tia bersikukuh

“Kris! Kata lo cuma sebentar doing kan! W mau nanggung resiko kalau terjadi sesuatu sama lo – lo pade!”

“Lo mau ditawar, sama om – om genit di dalam? Syukur – syukur Cuma ditawar? Kalau di apa – apain gimana?” Kata Mr.P. dengan nada menakuti, tapi memang dia cukup serius mengatakan hal itu.

“Gak, Mr.P, kita pulang aja!” perintah Kris

“W mau kita tetap ke dalam!” Tegas Tia,

“Tia, w takut!” ucap Sari lirih. Tia bukannya tidak mengindahkan keselamatan diri dan sahabat – sahabatnya, akan tetapi moment seperti ini jarang sekali terjadi, dari awal dia hanya ingin mengangkat penelitian ini, dan ingin mengungkap siapa dibalik semua ini sehingga lokalisasi ini bertahan dengan kokohnya?  dan mengungkapkan pada semua orang bahwa kita harus peduli pada hal – hal seperti ini, bukan malah dipojokan tanpa solusi!  Itulah salah satu tujuan penelitian ini.

“Seterah kalian, kalau memang kalian mau pulang silakan! W akan tetap disini. w mau ke dalam! “

Sedetik. Dua detik. Semua diam! Tia melangkah pasti. Meninggalkan sahabat – sahabatnya dalam kebimbangan!? Kris, Yuke dan Sari hanya menatap pundak Tia yang perlahan pergi menjauh, seolah tak ada ketakutan dari anak itu. Bahkan untuk sekedar menengok ke belakang, mengajak sahabat – sahabatnya untuk sama – sama menyelesaikan penelitian ini.

Di bantaran rel kereta api, berseliweran perempuan – perempuan beraneka gaya dan daya. Menjerat kumbang – kumbang untuk bermadu. Meninggalkan jejak – jejak aroma menyengat. Mempermudah para jantan hinggap atau sekedar bersiul – siul kecil. Bedak super tebal serta lipstick warna menyala mengkilap di bibir – bibir para wanita, seakan menantang siapapun yang melihatnya. Sesekali tertawa manja dan menggoda, saat lelaki – lelaki mulai  mendekat.

Dalam hati gadis ini, siapa yang tahu jika bukan dia dan Penciptanya. Gemuruh di dada tertahan dengan keingintahuan yang besar akan persoalan kemasyarakatan yang terjadi di tempat ini. Inikah potret buram sebuah ibu kota? Sisi lain yang sungguh mengenaskan! Tia berjalan menyelusi sepanjang rel dan gang –gang sempit. Banyak hal yang dilihat disini, gadis ini pun menyimpan pilu, seolah – olah ikut terluka atas noda para pencari sesuap nasi dan pelampias birahi. Bukan hanya yang muda bergaya, yang kulit mulai keriput tak soal untuk bersaing dengan yang bening. Mereka terlihat sangat sadar,berada di tempat ini! Melakukan hal ini dengan alasan sesuap nasi!?. Tahu apa Tia tentang dosa? Sedangkan mereka? Atau mungkin tidak ada yang mengingatkan mereka akan dosa? sedangkan yang mereka tarima hanyalah hujatan.

Tia terus menyusuri tempat ini, risih ketika beberapa pria memandangnya tanpa kedip. Yang Tia tangkap dari sebagian pandangan orang – orang yang melihatnya, hanyalah heran, ada seorang gadis berjilbab di tempat seperti ini? Akan tetapi Tia mulai terusik, satu – dua lelaki mulai berani menghapirinya,

‘’Mau kemana neng?’’

“Sama abang aje yukh!” ajak salah satu diantarannya. Tia menghindar, suasana yang agak gelap sedikit menghalanginya untuk berjalan lurus. Sesekali kerikil – kerikil kereta api menghambat langkahnya. Tapi Tia tetap tegar terus berjalan.

Derai tawa mereka, terdengar aneh oleh Tia, bahasa yang digunakan lepas dan cendrung kasar, bahkan diantara mereka ada yang berteriak – teriak,

“Lo kira w semurah  itu! 100 ribu!!!” Tia tak berani melihat adegan tawar – menawar itu, hanya mampu memasang telinga. Karena delik wanita – wanita itu, akan mengancam kehadiran Tia. Melewati gang sempit, di pojok – pojok gang terdapat tenda – tenda berukuran sekitar 1,5 meter X 2 meter, yang Tia tahu dari suara – suara itu, per kamar 50 ribu, Tia melengos sedikit, melihat ada apa saja dalam sebuah ruangan sempit seperti itu? hanya sebuah kasur, sedangkan dipojok pintu telah disediakan satu liter aqua.  Bahu amis santer tercium dari dalam ruangan itu?. Tapi tetap saja pria – wanita berpasang – pasangan mulai memenuhi bilik – bilik kamar.

Tiba – tiba tangan Tia ditarik, Tia terkaget! Belum sempat Tia berteriak, mulutnya telah dibungkam oleh tangan seseorang! Tia merontah, tapi tenaga orang – orang itu terlalu kuat, masing – masing memegang tangan dan seseorang mendekap mulut Tia, sungguh Tia merasa tak mampu melepaskan diri dan Tia meneteskan air di ujung matanya,

“Tia ni w! lo diem!” suara yang sangat dikenal Tia,

            “Kris,” Tia hanya bisa berucap dalam hati, karena mulutnya masih dibekap

“Maaf Tia, lo tenang ya!” Yuke berbica nyaris berbisik. Perlahan Kris melepaskan tanganya dari mulut Tia yang sudah berhasil mengenalinya. Diikuti Sari dan Yuke yang memegangi tangan Tia

“Ada apa? kok kalian di sini, bukannya pulang? “ Tia mulai mengatur nafas yang hampir hilang

“Mana mungkin kita ninggalin lo Tia, kita bukan temen yang ada kalau seneng dong! Walaupun tindakan lo ini gila!”

“Bener kata Yuke Ti, kita gak mungkin ninggalin lo! Tapi sekarang kita memang harus pergi! Udah puas kan lo keliling tempat ini!” Kata Sari

“Sebelum Benjo nemuin kita,!” Ujar Kris

“Benjo? Preman yang tadi? Temenya Mr.P?”

“Iyah, waktu lo jalan masuk kedalam w liat gelagatnya mencurigan gitu!? Maksa gitu ngajak Mr.p ke warung makan, tapi ujung – ujungnya ditawarin minuman. Jadilah dia tambah mabok.”

Mr.P malah ninggalin kita di stasiun dan nyuruh kita pulang dan nunggu angkot! Tapi karena kita bingung kita malah melewatkan angkot – angkot itu, karena kepikiran lo! Sampai akhirnya kita liat lagi Benjo masuk ke dalam dengan tampang aneh dan ninggalin Mr.P  dalam keadaan mabok berat! Kita takut terjadi sesuatu sama lo! Jadi kita putusin untuk nyusul lo!”

“Bener kan kata kita Kris!,”

“Iyah Ke,”

“Kenapa Ke?” tanya Tia

“Lo liat itu kan Benjo? Dari tadi w denger dia nyariin seorang wanita berjilbab berkeliaran disekitar sini.! Gawat!”

“Gimana dong?” Tia benar – benar cemas!

“Gak salah liat w?” Sari mengucek – ngucek matanya. Memastikan yang dilihat sebelumnya, beberapa kali menyipitkan mata pun yang dilihat Sari benar – benar sama.

“Lo liat apaan sich Sar?” Yuke mengikuti pandangan mata Sari.

“Hah?” Yuke membelalak, Sari memandang Yuke. Sari dan Yuke kini berpandang – padangan. Tak ada satu pun kata yang terucap. Keduanya sama – sama tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Kenapa sich kalian?” kali ini giliran Kristin yang bertanya.

Mereka masih di pojok jalan kecil, menunggu waktu yang tepat untuk keluar tanpa ketahuan Benjo. Entahlah apa yang akan Preman itu lakukan kepada mereka, hanya saja wajahnya memang tidak ada sedikitpun gurat – gurat kebaikan. Suram!. Kristin masih belum tahu apa yang menyebabkan kedua sahabatnya tiba – tiba berwajah pucat pasi? Sari dan Yuke seolah sama – sama tengah keselek biji nangka, membuat mereka tdak sedikitpun berucap bahkan bersuara?

“Kris !” panggil Yuke

“Tia,,,!”

“Kenapa Sar?”

“Gak mungkin w salah liat! Yuke juga ngeliat! Itu…!” Kata Sari, bibirnya bergetar. Seolah tengah menuangkan kegetiran. Kris, sudah melihat apa yang lebih dulu di lihat kedua sahabatnya itu. Sama terkejutnya, hanya berbeda ekspresi. Sedatar mungkin, walaupun tak dapat menutupi gelisahnya. Sampai akhirnya Tia pun melihatnya.

“Ayah!” Ucap Tia berat. Dilihatnya sesosok laki – laki tegap berpakaian parlente, berkumis tebal dengan kerutan – kerutan halus di keningnya yang mulai menua.  Benjo mendekati laki – laki yang dipanggilnya bos itu dengan penuh takzim. Menyalaminya seakan tengah bersalaman dengan seorang presiden. Tia masih menatap tajam seraut wajah yang memilki kemiripan dengannya, hidung bengis itu, mata dengan kelopak lebar itu, ayahnya.

Kembanggaan yang terbesar bagi tia, adalah terlahir sebagai anak seorang polisi, bahkan Tia berniat menjadi seorang polisi wanita mengikuti jejak ayahnya.

Tia tak ingin banyak menduga. Tubuhnya siap bergerak, tak akan ada setitik pun prasangkan buruk pada ayahnya tercinta. Kristin, menahan Tia. Menatap lamat – lamat wajahnya,

“Jangan lo bertindak bodoh lagi! Lo harus mikir panjang! Kalau lo keluar nyamperin bokap lo! Bukan lo aja yang akan diomelin ampun – ampunan sama ayah lo, kita juga dan yang pasti penelitan ini berakhir.!”

Yuke pun mendekap Tia,

“Kita lihat dan denger aja dulu. Walau bokap lo sangar w yakin dia polisi baik! Tapi kan bokap lo udah pengsiun jadi polisi. Terus ngapain bokap lo kemari?” selidik Sari

Tia menggeleng lemas, bertemu dengan ayahnya yang seorang pengsiunan polisi di tempat lokalisasi sungguhlah, tak pernah terbayang sedikitpun. Dan pertanyaan – pertanyaan mulai bermunculan di kepala Tia, dan harus ditemukan jawabanya sekarang juga. Tia berusaha tenang di tengah – tengah sahabat – sahabatnya. Mengontrol diri dan keadaan agar berjalan lancar.

“Aman Bos! Berkat bos. Setoran juga kan lancar. Gak ada masalah kan?!” kata Benjo

“W harap juga begitu, lo dan teman – teman lo tenang aja. Sangat sulit menggusur tempat ini, yang punya kuasa w! temen – temen w yang masih ngejabat juga ikut ngamanin. Hahaha”

Yuke, Kristin, Sari bertambah terkejut bagai tersambar petir di siang bolong, terlebih lagi Tia, hati dan perasaanya bercampur. Hancur! Kebanggaannya menjadi seorang anak polisi, kini bagai selembar daun kering yang terbakar. Penelitian ini mengantarkannya pada kenyataan pahit! Teramat menyakitkan.. Tia membeku! Yang lain mecair, seolah menadangi kesedihan sahabatnya ini.

 

Iklan

2 pemikiran pada “Pela – Pela

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s