Aku & Cita – Cita Mereka

Subhanallah2742Diawal pertemuan aku mengajar anak – anak kelas VIII SMP Muhammadiyah 16 Jakarta, aku menantang mereka untuk mengikuti perlombaan menulis yang aku buat dengan tema “Aku dan Cita – Citaku”, Mereka cukup antusias dan waktu perlombaan berlangsung 1 bulan.

“Kita harus mengenal siapa diri kita dan setiap kita harus punya cita – cita bahkan selagi cita – cita masih geratis gantunglah cita – cita kalian setinggi – tingginya !” kata ku dengan menggebu – gebu dan Alhamdulillah dapat kulihat senyum optimis paling manis dari mereka. Kemudian aku melanjutkannya lagi, “Setinggi langit, sekalipun kalian jatuh paling nyasang di pohon. Bahwa tidak penting seberapa sering kalian jatuh yang terpenting kalian harus bangkit dan maju!!!” Aku masih ingin melanjutkan perkataanku karena mereka jauh lebih serius dan memasang kupingnya untuk mendengarkanku, aku yakin dada mereka bergemuruh.
“Setinggi – tingginya, contoh kamu ingin jadi presiden, kalau gak kesampean bisa jadi istri presiden atau suami presiden, atau jadi manteri kalau gak kesampean juga ya jadi istri/ suami menteri. Setinggi – tingginya tapi jangan pernah bermimpi punya istri/ suami presiden, kalianlah yang harus jadi presiden. Apapun yang kalian cita – citakan, bermimpilah setinggi – tingginya”
Aku menanyakan cita – cita seluruh muridku, dan mengajak mereka menuliskan cita – cita mereka dan menaruhnya 5 cm di depan wajah mereka, jangan hanya ada di belakang kepala mereka (sedikit pesan dari film 5 cm). Diantara mereka ada yang ingin menjadi dokter, guru, pembalap sepeda dan hampir seluruh anak laki – lakinya ingin menjadi pemain sepak bola. Aku ingin ketika 5 – 10 tahun kedepan atau suatu waktu aku dapat melihat mereka dengan cita – cita mereka.

Memang tidak semua mengumpulkan karya cerpen, tapi subhanallah karya yang terkumpul sudah mewakili semua. Mereka mulai terhiasi dengan keinginan untuk merubah dunia menjadi lebih baik. Salah satu muridku berkata padaku,
“Aku ingin merubah dunia lewat musik,” aku tersenyum menyambutnya. Selanjutnya hanya perlu diarahkan musik yang bagaimana yang dapat merubah dunia, lain lagi muridku berkata,
“Aku ingin menjadi guru agar tidak ada orang yang bodoh!”
“Guru yang didapat digugu dan ditiru ya!” responku.
Lagi – lagi senyum mereka seakan menari – nari di mataku. Senyum putih dengan ambisi yang masih bening.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s