Guru Bagi Anak – Anak Kita

Pendidikan zaman sekarang diarahkan untuk mencetak manusia yang pintar menguasai  ‘dunia’. murid yang budiman diganti dengan murid yang berprestasi. Dan lihatlah, kita lebih banyak   melihat anak yang tidak begitu paham arti kejujuran tapi lebih mengerti  bagaimana menggengam dunia ditangannya dan menaruh akhirat dibelakang punggungnya. Jangan hanya semata menyalahkan guru, karena mendidik bukan hanya semata tugas mereka tapi tugas kita sebagai orang  tua. Kita harus bisa menjadi guru bagi anak – anak kita.

mengajarkan anak

Tidak ada niat sedikit pun bagi orang tua mendidik anaknya jadi seorang pembohong, akan tetapi secara tidak langsung mengajarkan anaknya untuk belajar berbohong. Contohnya, ketika bunyi telepon berdering nyaring di rumah. Sang ibu menyuruh anaknya mengangkat telepon dan mengatakan ‘kalau ada yang cari mama, bilang aja mama nya gak ada..!!!” kemudian sang anak pun patuh dan taat kepada mama nya. Dengan kepolosannya ketika anak itu ditanya oleh si penelepon, “Mama nya pergi kemana dek,?” si anak malah berteriak, “MAMA… kata yang ditelepon mama pergi kemana?”. Mungkin kita khilaf atau lupa bahwa kita ini guru utama bagi anak – anak kita. Orang tua adalah contoh nyata dalam kesaharian anak, dan anak – anak adalah peniru ulung yang terus berkembang menjadi apa yang dia inginkan berdasarkan yang mereka lihat dan mereka tahu.

Ketika Sang ayah baru pulang kerja, dari kejauhan ia melihat anak – anaknya tengah bermain di halaman rumah, ia segera bergegas mendakati anak –anak nya dengan tidak lupa membawa hadiah yaitu beberapa batang coklat. Dengan antusias anak – anaknya pun segara duduk di bangku depan bersama teman – teman lainnya ketika sang ayah memberikan batang coklat tersebut akan tetapi si ayah malah menyuruhnya masuk dan  makan di dalam rumah.

Padahal anak kita itu sejak kecil tidak pernah takut untuk berbagi kepada siapapun. Coba saja kita menjulurkan tangan, ketika anak kita yang masih kecil tengah memegang makanan ataupun mainannya, dapat dipastikan dengan ikhlasnya si anak menyerahkan  apa yang ia pegang bahkan terkadang semuanya. Anak kita bersih dan polos ibarat kertas yang belum terwarnai, anak kita amat pemurah lagi baik hatinya, akan tetapi acapkali kita lah yang mengajarkannya untuk menjadi manusia yang  pelit dan kikir. Mungkin sekali  lagi, tidak ada maksud sedikitpun untuk mengajarkan demikian akan tetapi kita sering lupa bahwa kita sebagai orang tua adalah guru yang mengajarkan segala nya.

Mendidik bukan pula sepenuhnya tugas ibu, pastinya seorang ayah memiliki peran yang tak kalah penting. Rumah adalah madrasah utama bagi anak – anak dalam sebuah keluarga, sudah seharusnya bila dalam mendidik anak – anak, ada kekompakan yang terjalin diantara keduanya sebagai orang tua. Akan tetapi terkadang ayah dan ibu sering kali tak sepaham, contoh;

            “Boleh tahun baruan di luar bareng temen – temen enggak Bu, di luar rumah duang?”

Si ibu menjawab dan menggeleng,

            “Mendingan kamu tidur dek, gak baik ngerayain tahun baru!”

Tiba – tiba si ayah menyergah,

            “Biarin aja Bu dia main, toh cuma di luar, paling main petasan. Namanya juga anak laki, lagi pula tahun baru Cuma sekali setahun.” Belum juga mendengar tanggapan Ibu nya, si anak langsung berteriak,

            “Asssiiik!” dan berlari keluar rumah. Ia tahu bahwa pendapat ayahnya lebih kuat dari ibu.

Terlihat sepele tapi tidak baik bagi proses pembelajaran anak. Ketidaksepahaman ayah dan ibu dalam memberikan jawaban kepada anak akan sesuatu yang ingin dilakukan si anak akan membuatnya dalam kebingungan dan ketidakpastian yang nantinya akan membuat si anak mengambil keputasan yang tidak bertanggun jawab. Sang anak pun akan berani membangkang kepada orangtua karena tindakan yang ia lakukan  selalu ada pembenaran.

Menjadi orangtua cerdas di zaman ini memanglah tak mudah, namun selalu ada kemudahan dalam setiap usaha yang dilakuakan oleh orang tua untuk mendidik dan membesarkan anaknya sepenuh hati sehingga anaknya bisa menjadi anak yang shaleh/a, beriman lagi bertakwa, berbakti kepada orangtua, berguna bagi agama dan berjasa bagi negara, dapat menjadi seorang manusia yang dapat memanusiakan manusia lainnya dengan penuh kemanusiaan. Semoga kita mampu menjaga amanah Tuhan sebagai anugrah terindah.

#walaupun belum punya anak paling tidak belajar menjadi orangtua yang akan dapat mendidik anak – anak nya kelak sebagai generasi Rabbani yang menaruh dunia ditangannya bukan dihati atau pikirannya dan mengutamakan langkahnya dengan kaliam bismillah.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s