Menggunakan Hati Bukan Emosi

mesti FarahSudah dua kali ana dengar cerita itu! Di waktu dan tempat yang berbeda, di dua kali pertemuan halaqah gabungan yang diadakan sebulan sekali. Bukan mengenai bosan atau menarik tidaknya materi yang disampaikan, akan tetapi apa yang disampaikan oleh ustad Ristanto untuk kedua kalinya, membuat ana memiliki gambaran yang lebih terang dari sebelumnya akan sebuah usaha saling mengingatkan dengan kesabaran dan menebar kebaikan serta mengatur strategi jitu bagaimana dakwah atau menasehati seseorang dengan cerdik. Untuk kedua kalinya aku mendengarkan dengan seksama. Sang Ustad menceritakan sebuah kisah tentang anjing. Ya, anjing yang keseluruhan dari bintang itu adalah haram. Dengan lantang dan bersemangatnya ustad betutur cerita,

Ada sebuah komplek perumahan yang salah satu dari warganya sangat menggemari bintang anjing, dari segala jenis dan rupa anjing. Sebagai seorang muslim, pemilik anjing tersebut seharusnya paham bahwa anjing itu haram, akan tetapi karena kecintaannya pada anjing yang dianggapnya bintang paling setia ia menutup hati dan pikirannya. Namun, hobi dan kegemarannya mengoleksi anjing membuat para tetangga merasa sangat terganggu dengan longlongan serta suara – suara anjing peliharaanya yang selalu menggong – gong disetiap waktu. Satu persatu warga yang geram pun saling menasehati dari sekedar SP 1` peneguran secara halus sampai pada gertakan yang diharapkan agar si pemilik anjing lebih memahami kegusaran hati para tetangga yang merasa sangat terusik dan sangat terganggu ketenangannya . Namun, bukannya sadar si pemilik anjing malah terus asik bermain – main dengan anjing – anjingnya. Sampai suatu ketika, warga yang sudah tidak tahu harus berbuat apa lagi, melaporkan hal ini kepada seorang syekh. Beraksi lah syekh tersebut dengan pertama – tama hanya sejekedar bersilahturahim, syekh disambut dengan bersahaja oleh si pemilik anjing dan puluhan anjing – anjingnya, syekh juga mengomentari anjing – anjing itu, komentar baik yang dapat diterima oleh si pemilik anjing. Hari pertama syekh berkunjung hanya sekedar menemani si pemilik anjing bercerita banyak tentang kelucuan dan kepandaian anjing – anjingnya. Tidak disangka ternyata syekh tahu banyak tentang anjing, pikir si pemilik anjing. Dihari kedua kedatangan syekh, mulailah syekh menceritakan penyakit – penyakit segala jenis anjing yang sangat jelas ia terangkan, dialog yang berlangsung diantara mereka mengalir dengan tenang dan nyamannya. Rupanya, si pemilik anjing tidak tahu banyak tentang bahaya penyakit yang akan timbul dari berbagai jenis anjing yang dipeliharanya. Si pemilik anjing mulai khawatir, ia diserang rasa penasaran hingga mencari tahu lebih banyak lagi tentang penyakit – penyakit yang ditimbulkan oleh bintang anjing, ia mulai membenarkan apa yang telah disampaikan syekh kepada dirinya.

Kedatangan syekh untuk ketiga kalinya, juga tak kalah disambut baik dan ramah dari kedatangan sebelumnya bahkan kali ini tidak ada seekor anjing pun menyambut syekh seperti kedatangan pertamanya ke rumah besar itu. Alhamdulillah,  kini semua anjing – anjing yang dulu dimilki dan disayanginya telah ia jauhkan sejauh – jauhnya dari rumah dan tidak ada  niatan untuk dia memelihara bintang tersebut di rumahnya lagi.  

Dari kisah itu dapat kita cermati, ada sebuah strategi yang dilakukan oleh syekh untuk dapat meluluhkan hati si pemilik anjing yang selalu bersikukuh tentang hobinya yang sampai merugikan orang lain bukan hanya sekedar bermodalkan nama seorang syekh dan pemahamannya tentang agama toh. Persiapan yang matang telah dilakukan sebelumnya sampai akhirnya syekh paham benar bagaimana mendekati si pemilik anjing tersebut dengan pengetahuan syekh tentang segala jenis anjing berikut penyakit – penyakit yang menyertai binatang tersebut juga diperkuat juga dengan kebenaran agama mengapa binatang tersebut diharamkan. PDKT (Pendekatan) yang dilakukan syekh menggunakan hati bukan semata emosi.

Nabi Muhammad contoh sejati sepanjang masa membingkai dakwahnya dengan kearifan, kesantunan, kewibawaan, kebijakan, kebijaksanaan, dan kasih sayang. Ia mengajarkan kita berdakwah dengan kelemahlembutan bukan jalan kekerasaan, Nabi Muhammad saw amat pandai mengatur strategi dakwahnya dari perlahan sampai terang – terangan, semua yang dilakukan dengan cara yang cerdik dan cantik. Bukankah Hassan al –bana juga memulai dakwahnya dari warung kopi (cafe) ke warung kopi lainnya. Karena pada saat itu mesjid – mesjid sepi dan hanya dianggap sebagai tempat ibadah semata. Itulah strategi, ada yang simpati dan tak sedikit pula yang antipasti sampai makan ati! Ada yang mendengarkan dengan hati dan telinga tapi ada pula yang acuh dan melawan apa yang dia dakwah. Dari warung kopi, sebuah hal biasa yang ternyata menjadi luar biasa kala dakwahnya mendunia. Ini berbicara mengenai siasat kita dalam berdakwah. Kita bisa mengajak orang lain untuk meyakini apa yang kita yakini, tetapi tak bisa memaksakannya. Begitulah dakwah adalah kewajiban kita.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s