Sejarah Singkat Pendidikan Islam

Maha Agung Allah dengan segala kebesarNya yang telah menjadikan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah sebaik – baiknya ciptaan dalam perangai dan bentuk, dan membimbingnya menuju kepada kebenaran yang hakikih hingga dapat memberi cahaya pada manusia dan semua makhluk hidup lainnya hingga dapat keluar dari kegelapan. Tidak ada yang mampu menuturkan betapa mulia perangainya, bahkan ratusan biografinya belum lah cukup menggambarkan kekasih Allah.

 “Dan sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar – benar  memiliki budi pekerti yang agung.”

Misi beliau adalah rahmat, bukan saja bagi seluruh ummat manusia, tapi seluruh alam semesta. Ahmad M. Saefudidin mengatakan, ; “ Untuk dapat memahami misi Muhammad Saw sebagai pendidik dan rahmat bagi sekalian alam, harus menoleh kebelakang, mempelajari sejarah keadaan masyarakat manusia menjelang  kelahiran nabi Muhammad Saw, sehingga jelas wujud sebenarnya rahmat itu, perlu mengungkapkan sejarahnya bersumberkan Al – qur’an, beserta tafsirnya, keterangan – keterangan dari hadis nabi, atsar sahabat, kitab – kitab dan buku – buku yang disusun oleh ahli sejarah.” [1]

Sebelum kita menjerumus kepada misi Muhammad sebagai pebawa risalah akan jauh lebih baik kita menelisik serta menggali dan memahami pendidikan islam pada masa rasulullah, agar dapat dengan mudah kita menerapkannya kepada kehidupan sehari – hari  hingga tujuan sebenarnya dari proses pendidikan manusia demi kesempurnaan akhlak dapat tercapai.

Pola pendidikan islam yang dilakukan oleh Rusulullah bergandengan dengan tahapan – tahapan dakwahnya yang ia sampaikan kepada kaum Quraisy. Dalam hal ini menurut editor Prof. Dr.H. Samsul Nizar, M.Ag. dalam bukunya “sejarah Pendidikan Islam “ membaginya dalam tiga tahapan,

  1. Tahapan Rahasia dan Perorangan
  2. Tahapan Terang – terangan
  3. Tahapan Untuk Umum

  Tahapan Rahasia dan Perorangan

            “Pada awal turunnya wahyu pertama, al – qur’an surat 96, ayat 1 – 5, pola pendidikan yang dilakukan adalah secara sembunyi – sembunyi , mengingat kondisi sosiopolitik yang belum stabil.”[2]

Nabi Muhammad saw memulai karir dirinya sebagai seorang pendidik dari dirinya sendiri. Karena seorang pendidik ketika mengajar hakekatnya ia tengah mengajari dirinya sendiri tentang arti kejujuran. Kemudian lingkungan yang lebih kecil yaitu lingkungan keluarganya, istri tercinta yang ia ajarkan dengan sifat cintah kasihnya hingga ibunda Khadijah  mau untuk menerima petunjuk – petunjuk Allah dan menjadi manusia pertama yang beriman kepada Allah. Kemudian anak angkatnya Ali ibn Abu Thalib (anak pamannya) dan Zait ibn Haritsah (seorang pembantu rumah tangganya, yang kemudian diangkat menjadi anak angkat). Kemudian sahabat kharibnya Abu Bakar As – Sidiq dan yang lainnya hingga lama – kelamaan risallah Muhammad mampu diterima banyak orang tapi masih sangat terbatas. (Dikalangan keluarga dekat dari suku Quraisy saja)[3], seperti Utsman bin Affan, Zubair ibn Awam, Sa’ad ibn Abi Waqas, Abdurrahman bin Auf, Thalhah binti Ubaidillah, Fatimah binti Khattab, dan beberapa orang lainnya , mereka yang disebut denagn Assabiquna al awwalun . Rumah Arqam ibn Arqam adalah madrasah pertama dan pusat pendidikan kegiatan islam yang pertama pada era awal pendidikan nabi.

  Tahapan Terang – Terangan

Pendidikan secara bergerilya  berjalan selama kurang lebih tiga tahun, bukan waktu yang sebentar sampai datanglah wahyu selanjutnya yang memerintahkan Nabi Muhammad Saw berdakwah secara terbuka dan terang – terangan. Ketika wahyu turun, beliau mengundang keluarga besarnya untuk berkumpul di bukit Shafa, menyerukan agar berhati – hati terhadap azab yang keras di hari kemudian (har kiamat); bagi orang yng tidak mengakui Allah sebagai Tuhan Yang Esa dan Muhammad sebagai utusan Nya. Seruan dtersebut dijawab oleh Abu Lahab, “ Celakalah kamu Muhammad! Untuk inikah kamu mengumpulkan kami? Saat ini diturunkan wahyu yang  menjelaskan perihal Abu lahab dan istrinya.[4]

Perintah dakwah yang telah terang – terangan dilakukan oleh Rasulullah karena jangkauan dakwah beliau sudah semakin meluas dan merangkul banyak sahabat hingga banyak kaum Quraisy yang kemudian masuk islam yang semakin hari jumlahnya se makin banyak dan menjangkau semua kalangan. 

Untuk Tahapan awal proses pendidikan Rasulullah yang lebih berfokus pada kalangan keluarga saja dirasa belum puas dan tidak begitu maksimal untuk merangkul banyak masa lagi sesuai yang diharapkan. Maka, Rasulullah merubah strategi dakwahnya dari seruan yang berfokus kepada keluarga beralih kepada seruan umum, ummat manusia secara keseluruhan. Seruan yang lebih luas ini sesuai dengann perintah Allah Ta’ala dalam surat al – Hijr ayat 94 – 95.  Sebagai tindak lanjut dari perintah tersebut, pada musim haji Rasulullah mendatangi kemah – kemah para jema’ah haji dari Yastrib, khabilah Khazraj, yang menerima dakwah secara antusis. Dari sinilah sinar islam memancar keseluruh Mekkah.[5]

 Dalam pendidikan islam, Rasulullah adalah pendidik yang ideal yang patut untuk dicontoh dan diteladani, hal ini dapat dilihat dari peranannya yang sangat luar biasa besar dalam pengolahan dan perkembangan pendidikan, meskipun dengan sarana dan prasarana yang tidak memadai, namun ia telah sangat berhasil menciptakan out put yang berkualitas. Dalam kurun waktu yang relative singkat, bangsa Arab yang tadinya hidup dengann kegelapandan kejahiliahan yang sesat berubah mejadi berdaulat, berperadaban tinggi, bahkan menghantarkan bangsa Arab ke depan pintu gerbang adikuasa terutama pada fase awal pemerintahan dinasti Abbasiyah.

Proses pelaksanaan yang berlangsung dengann system halaqoh yang berlangsung dari rumah ke rumah, dan mesjid. Sistem halaqoh sendiri adalah system melingkar, antara peserta didik lutut mereka saling bersentuhan, sisitem ini  bukan saja menyentuh dimensi kognitif  tetapi juga menyentuh ke relung emosional dan spritualnya, menanamkan rasa ukhwah yang kuat diantara mereka. Sistem pengajaran ini juga lebih berfocus! Saling mendidik dalam kedekatan ukhuwah. Saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran karena satu dan lainnya masing – masing saling menjaga.

Metode pendidikan yang diterapkan Rasulullah bervariasi, sehingga tidak membuat rasa jenuh ataupun kebosanan peserta didik dalam mengikuti proses belajar mengajar. Dengan kedekatan antara peserta didik dan pendidik, murabbi jadi lebih memilki banyak kesempatan untuk mengetahui sampai mengukur kemampuan dar masing – masing peserta didiknya. Metode yang disampaikan disesuaikan dengan materi yang disampaikan dan kondisi peserta didik.  Metode yang diterapkan oleh Rasulullah antara lain adalah metode Tanya jawab, demonstrasi, dan sebagainya yang pada intinya membuat proses belajar menjadi active antara sang murid dengan gurunya.

Terdapat perbedaan anatara mengajar dan mendidik, mengajar hanyalah sebatas menyampaikan knowlarge agar setiap yang didik tahu tentang satu dan lain hal sedangkan mendidik bukan hanya sebatas tranformasi ilmu tapi juga pemahaman dan pendalaman terhadap setiap hal yang disampaikan, jangan sampai ada dari peserta didik yang tahu tapi tidak mengerti! itu sama saja seperti kerbau yang dicocok hidungnya.

 Zaman Rasulullah memanglah bukan zaman yang kita miliki sekarang akan tetapi kita tidak akan memiliki zaman ini jikalau tidak pernah menganal masa lalu sebagai sejarah. Jika setiap dari kita buta terhadap sejarah itu sama halnya kita hidup hilang ingatan.  


[1]  Ahmad M. Saefuddin, Deskularisasi Pemikiran : Landasan Islamisasi, (Bandung: Mizan, 1998).cet. ke-4, h. 166.

 

[2] Prof. Dr.H. Samsul Nizar, M.Ag. Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta : Kencana, 2008), hal. 5

 

[3] Q.S. 26 : 213 – 216

[4]  Lihat Q.S. 111:1-5

[5] Soekarno dan Ahmad Supardi, Sejarah dan Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung, Angkasa Bandung, 1990), h. 32

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s