Berhenti Belajar! Berhenti Jadi Manusia

Tiada akhir belajar selama kita masih hidup, dari buayan sampai liang lahat! Terus bergerak kearah yang lebih baik dengan belajar menjadi manusia seutuhnya. Pendidikan yang kita jalani ini pada hakekatnya  merupakan suatu usaha untuk menjadi manusia yang dapat mengembangkan sifat – sifat kemanusian dan mengeluarkan manusia dari sifat kebinatangan. Orang – orang Yunani lama itu menentukan tiga syarat  untuk disebut manusia. Pertama, memiliki kemampuan dalam mengendalikan diri; kedua, cinta tanah air; dan ketiga pengetahuan  (mampu berpikir benar).[i]

Dalam diri setiap manusia itu terdapat nafsu, manusia yang dapat mengendalikan darinya dari kebuasan nafsu yang menjajaknya berbuat diluar kemanusiaan adalah manusia seutuhnya. Sayangnya di zaman ini, kemanusiaan terasa mahal karena banyak manusia yang menggadaikan kemanusiaanya demi uang dan kekuasaan. Banyaknya godaan di zaman ini jangan salahkan karena manusia hampir – hampir seperti hewan, rakus akan kenikmatan dunia dan melupakan hakekat hidup yang bukan semata bernyawa tapi juga berjiwa. 

Terkadang sesuatu hal itu ibarat dua logam mata uang begitu pula ketika cinta tanah air ada dalam hati seseorang terlalu berlebihan, maka bahayanya ialah chauvinisme, bila disempitkan maka akan menjadi cinta dunia, maka konsep yang diterima akan menjadi sangat luas dan terlalu abstrak. Jika seseorang terlalu mencintai dunianya maka itu merupakan suatu kehancuran. Tidak adalagi pegangan, segalanya dianggap halal.

Interaksi kita dengan tempat tinggal kita sekarang melibatkan aspek psikologi dan emosi termasuk didalamnya kemampuan kita dalam mengendalikan diri dalam kehidupan ini. Mengendalikan diri dapat dimaksudkan mampu mengatur dirinya, mengatur nafsu dan keinginan yang acap kali berbenturan dengan kenyataan yang tidak sesuai harapan.  Perasaan yang menyentuh pada setiap interaksi kita pada tanah air bukan sesuatu yang diada – adakan, bukan pula hal yang menyimpang dari ajaran agama.  Bagi seorang muslim, komitmen kebangsaan seharusnya bukan sebatas politik yang diperdagangkan menjelang pemilu atau dikenang dihari kemerdekaan. Bagi kita, komitmen kebangsaan adalah bagian dari ajaran agama, naluri dasar fitrah kita, dan bahkan landasan awal dimana kita diperintahkan untuk saling mengenal, dalam rangka memakmurkan bumi ini.

Ki Hajar Dewantara mengemukakan gagasannya sebagai berikut; “Berilah kemerdekaan kepada anak – anak kita bukan kemerdekaan yang leluasa tetapi yang terbatas oleh tuntutan – tuntutan kodrat alam yang nyata dan menuju kearah kebudayaan yaitu keluhuran dan kehalusan hidup manusia. Agar kebudayaan itu dapat menyelamatkan dan membahagiakan hidup dan penghidupan diri dan masyarakat, maka perlulah dipakai dasar kebangsaan akan tetapi jangan sekali – sekali dasar ini melanggar atau bertentangan dengan dasar yang lebih luas yaitu dasar kemanusiaan”.[ii] Dari yang telah dijabarkan, bahwasanya pendidikan mengubah pengekangan diri manusia kearah kebebasan dengan batasan – batasan kemanusiaannya, mengubah prilaku manusia dari yang tidak beradab kearah kehidupan yang beradab karena pendidikan mengembangkan seluruh aspek kepribadian melalui transformasi nilai dengan cara mendidik, mengajar, dan melatih.

Syarat menjadi manusia lainnya adalah pengetahuan artinya mampu berfikir benar. Kedudukan akal dalam islam sangat penting, karena akalah yang menampung akidah, syari’ah serta akhlak dan menjelaskannya. Namun akal harus berada dibawah wahyu, sebagai seorang muslim sudah sewajibnya kita tunduk pada wahyu yang merupakan kebenaran mutlak dari Allah SWT. Memnag sulit jika kita mehami islam tanpa mempergunakan akal, dengan mempergunakan akalnya secara baik dan benar, sesuai dengan Allah, manusia akal merasa selalu terkait dan dengan sukarela mengikatkan diri pada Allah. Dengan akal manusia dapat berfikir, memahami, dan mewujudkan sesuatu. Namun, sekali lagi peranan akal dalam ajaran islam tidak boleh bergerak dan berjalan tanpa bimbingan wahyu yang berfungsi meluruskan akal.   Jika manusia tidak mempergunakan akal dan berbagai potensi pemberian Tuhan, maka ia akan turun derajat menjadi hewan seperti yang dinyatakan Allah dalam Al –Qur’an.

“ dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.”.

Hakekatnya pada diri manusia terdapat potensi yang dapat dikembangkan untuk menjadi manusia. Tetapi ada juga potensi untuk menjadi bukan manusia, menjadi bintang misalnya. Teori inilah yang dapat menjelaskan mengapa orang yang didik itu ada juga yang gagal menjadi manusia. [iii].

Mendidik itu memanusiakan manusia oleh karena itu manusia yang berhenti balajar artinya telah memutuskan berhenti menjadi manusia. Sekarang ini dapat kita lihat manusia – manusia yang berbulu domba yang sukanya mengkambing hitamkan satu orang dengan orang lainnya.  Manusia rakus seperti tikus yang sukanya memakan hak orang lain yang hidupnya menyusahkan dan merugikan banyak orang! Hidupnya hanya menginjak – injak hak orang lain. Kita seakan berada didunia sirkus dan menyaksikan pertempuran kadal dan buaya. Sedangkan yang lainnya memilih jadi abu dalam kemenangan yang keliru. Kita kembali pada al-quran dan al-hadist yang mungkin telah lama kita tinggalkan atau malah kita lupakan. Karena merasa seseorang yang hebat menurut kita tanpa ada tangan Tuhan di dalamnya. Sombong benar selendang Tuhan digunakan dan congkah dengan kekuatan akal?? Masihkah kita intropeksi diri? Atau malah merasa pintar dan tidak perlu lagi belajar???


[i]  Ahmad Tafsir, filsafat pendidikan Islam,

[ii] Engkos & Aan Komariah, Administrasi Pendidikan, (Bandung : Alfabeta , 2010)

[iii] Ahmad Tafsir, filsafat pendidikan Islam,

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s