Bicara itu fitra, Harusnya terjaga!

“Maklum ibu – ibu, suka bayak bicara!”  pernah denger ungkapan itu kan? Padahal belum tentu juga seorang laki – laki mampu mengerem omongannya, ada aja kok laki – laki yang banyak bicara walaupun tak banyak yang berbicara banyak. Berbicara itu fitra! Semua orang bahkan ketika bayipun kita sudah mulai belajar mengoceh dan merespon sapaan! Akan tetapi kalau sudah sampai tahapan ngomongin orang sudah seperti tengah makan bangkai saudaranya sendiri. “Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka, tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat Lagi Maha Penyanyang.” (QS. Al-hujurat : 12).

Ada kalanya mungkin sebagian dari kita pernah merasa amat disusahkan dengan bisik – bisik tetangga atau tembok yang punya kuping sampai bisa bicara, maksudnya sulit mempercayai seseorang di zaman ini. Huft, menyusahkan sekali omongan orang! Tak usah diamabil pusing kawan,! Kalau sudah begini biar lah anjing menggong-gong kita tetap berlalu, selama apa yang diperbiarakan tidak sesuai kenyataan, tidak begitu adanya ataupun tidak baik untuk didengar! Jangan sampai tanpa sengaja kita ikut mencicipi daging bangkai saudara kita artinya jika tak mampu mengendalikan emosi kita terjerumus balik membicarakan mereka yang membicarakan kita, na’uzubillah.

Ada istilah menarik di kantor saya; “Jika jarum jatuh dari lantai 3 bunyinya dapat terdengar nyaring sampai ke lantai dasar” Sungguh dahsyat! Berita apa pun itu? sepertinya semua orang ingin tahu. Begitu  mudah tersebar  lebih cepat dari desiran angin. Padahal dunia per-bintang-an dan dunia per-tumbuhan jauh lebih layak untuk diperbincangkan.

Memilih diam,  menjadi pilihan bijak ditengah banyak orang yang semuanya ingin bicara.

“Diam itu emas,” setiap perkataan akan dimintai pertanggungjawabannya, dan omongan kita bisa saja menyakiti orang lain.

Dalam Majalah Ummi edisi November 2012 dijelaskan beberapa ilmu tentang adab penggunaan lisan sesuai petujuk Rasulullah Saw, ;

Selalu bersedekah melalui kalimat baik. “kalimat yang baik adalah sedekah. Dan setiap langkah yang ia langkahkan untuk shalat (berjamaah di mesjid) adalah sedekah, dan menyingkirkan duri dari jalanan adalah sedekah,” (HR Al-Bukhori) Itu artinya pikirkanlah terlebih dahulu setiap kalimat yang keluar dari mulut kita paling tidak mampu mengendalikan diri untuk tidak berkata – kata buruk. Jangan malah sebaliknya, kalimat yang terlontar malah menjadi pedang tajam bagi orang lain. Terlebih lagi di zaman ini, dimana kebebasan menjadi kebablasan. Berhati – hati lah jaga mulut!

Hindari perdebatan, walaupun benar. Rasulullah saw menjamin orang yang menghindari perdebatan akan mendapatkan surga. “Saya adalah penjamin di rumah yang ada di sekeliling surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, meski dia bergurau. Juga di surga yang tertinggi bagi orang yang baik akhlaknya,”(HR Abu Daud). Sekarang ini banyak orang yang ingin bicara banyak. Berbicara salah satu bentuk eksistensi diri, seharusnya bukan hanya eksis tapi bermakna dan berarti bukan hanya sekedar keluar jadi pemenang dalam setiap perdebatan!

Tidak mengutuk dan berbicara kotor. Orang yang suka mencaci, menggunjing atau merendahkan orang lain adalah tha-ah, dan ini bukanlah sikap orang yang beriman. Sabda Rasulullah saw, seorang mukmin itu bukanlah seorang yang tha’an, pelaknan, (juga bukan)yang berkata keji dan kotor (HR Bukhari).

Bersuara jangan terlalu keras. Bersuara keras tidak atau tertawa terbahak – bahak tidak  mencerminkan adab yang baik. Allah SWT memerintahkan, Dan rendahkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk – buruknya suara adalah suara keledai,” (QS Luqman[31]:19). Selain mengganggu ketenangan orang lain terbawa terbahak – bahak  juga dapat membuat orang lain tersinggung. Mana tahu ketika kita tengah asik bercanda gurau, ada orang lain yang tengah risih dengan kebisingan kita karena hatinya tengah gunda gulana.

Semoga kita dapat selalu menata hati kita, menjaga lisan kita, tutur kata kita! Karena bicara adalah fitrah, harusnya dijaga! Karena  Allah Rabbul ‘izzati menciptakan kita dengan sempurna hati maupun jiwa.

Iklan

2 pemikiran pada “Bicara itu fitra, Harusnya terjaga!

  1. Mulutmu Harimaumu… peribahasa yang muncul, padahal mungkin saja pribahasa itu berlandaskan ucapan Nabi saw.

    Kalau lewat blog mungkin nulis yang baik-baik kan yaa.. karena blog itu kan “sedekah kata-kata”.

    best regards

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s