Kisah Mesti di Sekolah # part 1

Teng… Tengggg……Tengg….!!!s

Bel sekolah berbunyi nyaring membubarkan semua siswa. Yang masih nanggung belajar karena guru yang nanggung ngajar, pada gelisah jadi seperti cacing kepanasan. Untung jam pelajaran terakhir kelasku PKNS (Pendidikan Pancasila dan Sejarah) yang diajar oleh pak Untung, guru yang paling menghargai waktu, khususnya lagi waktu pulang yang tidak ada siaran tunda!

            “Saya tahu kalian ingin pulang! Begitu pun saya!” katanya pada kami semua yang sudah  bersiap pulang dengan yang menyantol dibahu masing – masing. Dan kaki – kaki yang siap melangkah.

            “Sekian pelajaran kita kali ini, see you… assalamu’alaikum!”

            “Wa’alaikum salam,” jawab kami serentak keluar kelas.

Gerbang sekolah terbuka lebar – lebar, menyaksikan siswa – siswi penuh suka cita keluar sekolah seperti keluar dari sangkar. Sedangkan aku? Sama dengan sebagian kecil siswa yang lain yang masih di sekolah, mengikuti kegiatan ekstrakulikuler. Kebetulan aku ketua KIR (Karya Ilmiah Remaja) salah satu eskul unggulan. Kegiatan utama kelompok ilmiah ini adalah membuat penelitian, dan menyiapkan beberapa makalah untuk mengikuti lomba tingkat pusat sampai tingkat nasional. Tapi ditengah diskusi yang tengah asik berjalan, aku disamper oleh salah satu anggota OSIS.

“Assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikum salam,”  aku dan semua anggota KIR menjawab salam

“Maaf mengganggu, kaka sudah ditunggu di ruang OSIS!” kata Novi selaku wakil ketua OSIS II, pembawaannya sopan. Cewek berjilbab ini memasang wajah manis.

“Oya iya? Ada rapat ya? Aku lupa Nov!” aku menepuk jidad ku,

“Iya ka, ada bahasan penting tentang DSL kan?!”

Berat rasanya meninggalkan diskusi ini. Tapi tanggung jawab ku sebagai ketua OSIS tak kalah penting. Segenap jajaran ku sudah menanti di ruang OSIS. Dan tak baik rasanya membuat mereka lama menunggu, dengan segera aku pun meminta Natasya selaku bendahara KIR untuk membimbing jalannya diskusi.

Aku memasuki ruang rapat. Seluruh mata tertuju padaku, aku segera duduk di bangku yang di atas mejanya tertulis KETUA OSIS. Rere, Asih, Putra, Ricky duduk di jejeran bangku sebelah kananku dan disebelah kiri, ada Ayu, Dicky, Enceng. Masing – masing dari mereka memasang wajah serius, hanya segaris senyum saja yang seolah terpaksa dipasang disana. Entahlah, apa yang ada di dalam kepala mereka ! Ini rapat. Harus focus! Rapat kali ini membahas DSL atau Dakwah Sistem Langsung. Deni selaku ketua ROHIS sekaligus menduduki jabatan HUMAS menyodorkan map berwarna merah kepadaku. Aku pun menerimanya dan langsung membuka map itu, isi nya list nama anak – anak kelas 1 yang mangkir dari kegiatan DSL yang diadakan setiap 2 pekan sekali yaitu dihari Jum’at dan hari sabtu selapas pulang sekolah. DSL adalah kegiatan wajib untuk anak kelas 1, acara intinya adalah mendengarkan ceramah dari guru agama atau guru lain yang menggantikan.

            “Besok, setelah bel pulang sekolah, anak – anak ini dikumpulin di depan ruang OSIS, seksi Bela Negara tolong bantu bikin pengumuman sekarang juga! Taro di madding, terus kamu Den tolong bagi tugas ke seksi – seksi yang lain untuk masing – masing dari mereka keliling ke kelas – kelas  yang minggu ini harus ikut DSL! Saya sendiri yang akan turun tangan besok untuk ngasih peringatan ke mereka,!!

            “Ada pertanyaan?” tanpa panjang lebar saya melontarkan Tanya,

            “Mereka mau diapain Mes?” Tanya Richard

            “Di nasehati dan diberi tugas biar jadi anak rajin! Karena mereka udah melanggar aturan kegiatan sekolah!”

            “Okelah, insya’allah kita paham.” Tukas Dinda selaku seksi ROKRIS

Rapat dilanjutkan dengan beberapa hal penting terkait kegiatan sekolah yang melibatkan kegiatan OSIS, dalam seminggu  3 kali aku stand by di ruang OSIS dari sekedar nongkrong sambil diskusi seputar sekolah sampai rapat – rapat yang rutin dilaksanakan khususnya satu hari di tengah bulan. Setiap hari ruangan OSIS selalu menjadi kelas kedua ku, setiap hari nya aku selalu mampir, paling tidak sekedar meng-ecek anggota OSIS yang tidak melaksanakan piket OSIS. Pernah satu kali aku tidak mendapati anggota OSIS yang bertugas piket pada hari itu, tidak ada satu pun yang meminta izin sebulumnya padaku, dan itu membuatku harus bertindak tegas kepada mereka. Alhasil keesokkan harinya, aku memanggil 6 anggota OSIS yang mangkir dari tugasnya. Setelah berdiskusi dan mereka mengemukakan alasan mereka, aku pun memutuskan! Siang itu, saat matahari tepat di atas kepala. Istirahat kedua sekitar 20 menit, aku meminta mereka 6 orang yang 3 diantaranya anggota OSIS kelas 1 untuk keliling lapangan sebanyak 6 putaran. Mereka pun patuh! Tanpa mengeluh karena mereka lalai! Hanya saja wajah mereka berlipat 7. Aku tidak peduli, setelah masa hukuman itu selesai aku meminta maaf karena keputusanku yang mungkin menurut mereka semena – mena!

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s