“Bintang – Bintang Kecil Ku” Kisah Cinta Sang Guru TK

Pagi yang indah. Lihat saja sinarnya, terang berbinar! Senyuman mentari membawa kehangatan yang terasa nyaman sampai kehati. Di langit, awan saling berarakan riang, menarikan tarian  sambutan, ‘selamat datang September ‘.  

Semangatku membuncah, penantian panjang memasuki bulan ini membuatku sungguh merasa seperti gunung yang mau menyemburkan rasa bahagia luar biasa. Yeah…! Libur sekolah telah berakhir dan sebentar, sebentar lagi aku akan bertemu dengan bintang – bintang kecil ku. Membayangkan wajah mereka, sungguh membahagiakan, senyum manis selalu menghias di bibir  mungil dengan gelak tawa dan kata – kata yang terkadang masih terbata – bata, kepolosan mereka menyemburatkan ketulusan dan kejujuran seorang anak manusia yang masih putih bersih tanpa dosa. Kesabaran menjadi bagian terpenting untuk dapat merangkul mereka, terkadang mereka mengambek, merengek – rengek, merongrong apa saja yang membuat mereka tak  nyaman. Dan disaat itulah aku semakin menyayangi mereka, dengan pelukan, dekapan yang hangat,  mampu membuat mereka tenang dipelukanku.

Sehari sebelum liburan berakhir, TK Al – Ikhlas zamzam Rahman telah bebenah. Membersihkan, merapikan dan menata ulang kembali ruangan dengan nuansa baru yang lebih ceria. Para guru dari TK A, TK B dan kepala sekolah ibu Zen semuanya berkumpul, saling bahu membahu mendekor ruangan dan menyulapnya menjadi Jannah bagi anak – anak. Hiasan pelangi, bunga berwarna – warni, kapal – kapalan dan pesawat terbang menggantung cantik di atap – atap langit. Serta gambar – gambar indah hasil karya anak – anak pada perlombaan lukis kemarin memenuhi dinding ruangan yang cukup luas ini. Mereka pasti senang! Nyaman dan betah berada di rumah kedua mereka.

Aku tersenyum lebar. Berdiri elegan di depan pintu kelas TK B dengan hati berdebar – debar, rasanya tak berlebihan, aku mengenakan pakaian baru. Jilbab hijau dan gamis putih untuk menyambut mereka. Aku meremas – remas tanganku sendiri saking tak sabarnya menyambut mereka. Dan beberapa detik kemudian, seorang anak berlari – lari kecil di susul seorang wanita paruh baya mengikuti dari belakang dengan terengah – engah,

            “Bunda Ais, bunda ais..!” teriak Dava sambil melambai – lambaikan tangannya kearah ku, aku segera meraih tubuh mungil itu kedalam dekapanku.

            “Bunda kangen sekali dengan Dava, murid Bunda yang shaleh,”

            “Dava juga bunda…” sambut Dava. Memasang senyum selebar lebarnya sampai gigi ompongnya terlihat! Tapi itu malah membuat murid tersayangku ini terlihat lebih manis daripada gula.

            “Gimana sayang liburannya?” tanyaku sambil menyentuh pipinya yang merah merona terkena sinar mentari pagi. Tapi seketika bibirnya yang mungil berubah murung! Tak ada satu kata pun yang keluar, Dava malah tertunduk lesu! Aku segera meraih kedua tanggannya dan berkata,

            “Dava tidak meninggalkan sholatkan? Ibu dan ayah Dava pasti merasa beruntung mempunyai anak sholeh seperti Dava! Kan Dava anak yang berbakti kepada kedua orang tua!”

            “Dava sholat 5 waktu kok bunda, walaupun subuhnya sering kesiangan..hehe! Tapi Dava selama liburan Dava mengahal surat – surat pendek Bun, Dava sekarang sudah hafal surat al –ikhlas, surat Al – falaq dan surat An – Naas.”

            “Waah, subhanallah anak bunda pintar sekali! Semoga berkah liburanmu sayang biar Allah selalu ada dihatimu” Aku meletakkan kedua tangan Dava di dada-nya. Sekejab Dava terpenjam sambil mngucap

            “aamin,”

Sejak pertama kali melihat Dava setengah tahun yang lalu sebagai murid pertamaku di TK ini, aku dibuat jatuh cinta pada bocah lelaki yang punuh semangat dan periang ini, walaupun ada secuil kesedihan yang kurasakan tersimpan di dirinya. Dava Putra Permana, adalah anak kandung dari pasangan Ibu Dina dan Pak Rian yang keduanya memiliki kesibukan sebagai karyawati dan karyawan disalah satu perusahaan ritail di Jakarta, hanya sedikit waktu yang dapat mereka berikan pada putra semata wayangnya yang sehari – hari diasuh mba Mariam. Tapi hebatnya anak ini dan  membuatku semakin kagum padanya adalah ketegaran dan pengertian kepada kedua orang  tuanya yang tengah mengumpulkan kebahagiaan untuknya, sehingga membuatnya hampir tak pernah murung. Sinar mata anak ini, menerangi hatiku.

            “Bunda, Dava masuk kelas yach!” pinta Dava, dan aku tersenyum tanda meng-iya-kan.

Menit kemudian, ku lihat Fatimah menabur senyum bunga – bunga nya semerbak mewangi sampai ke lubuk hatiku, dan Ibu Aya juga memiliki senyum yang sama seperti anaknya. Ibu dan anak itu berjalan beriringan sambil bergandengan tangan membuat separuh penduduk bumi iri melihat kasih sayang mereka yang terpancar jelas. Kompak! Sama – sama mengenakan jilbab berwarna pink bercorak bunga – bunga  berwarna ungu.

            “Assalamu’alaikum bunda Ais, “ salam mereka berbarengan

            “Wa’alaikumussalam Gadis shaleha dan Ibu Aya yang semakin cantik,”

Ibu Aya tersenyum simpul, wajahnya tersipu malu,

            “Bunda Ais bisa saja..!”

            “Bunda Ais, liburan Fatimah menyenaaaaaangkan sekali, Ibu mengajak Fatimah ke rumah nenek di kampung. Fatimah diajak ke sawah dan memancing di sungai sama kakek. Fatimah senaaaang sekali,” Tutur Fatimah dengan semangatnya,

            “Subhanallah, mengasikkan sekali sayang, nanti kamu ceritakan pengalaman kamu ya pintar, biar teman – teman Fatimah juga dapat merasakan kebahagiaan Fatimah. Bagaimana?”

            “Setuju, Bunda! Insya’allah, “

            “Alhamdulillah,”

Berbeda dengan Dava, Fatimah Az-zahra seorang anak perempuan cantik anak ketiga dari Ibu Aya dan Pak Doyo atau lebih sering disebut Uda Doyo pemilik rumah makan Padang di sebarang jalan depan TK Al – Ikhlas Zamzam Rachman, lebih beruntung dengan pendampingan yang full dari kedua orang tuanya, ditambah lagi perlindungan kakak – kakaknya. Fatimah murid ku yang paling tanggap dan cerdas, kesenangannya adalah menceritakan pengalaman nya kepada teman – temannya. Dan itu membuat dirinya terlihat lebih dominan dibandingkan yang lain,

Fatimah menyalami ibu nya dan bersegera masuk ke kelas, dan aku dibuat tertawa kecil oleh tingkahnya, karena tidak beberapa lama setelah Fatimah masuk ke kelas, ia malah balik lagi,

            “Oya, Fatimah lupa salam sama Bunda Ais,” Gadis kecil berlesung pipit ini menyalamiku dengan takzim.

Satu persatu anak – anak kalbu ku, memasuki ruangan. Aku tengok dari luar, mereka tengah asik berceloteh – celoteh riang sambil bermain dan bercanda, Alhamdulillah mereka kelihatan nyaman di dalam ruangan dengan nuansa berbeda dari sebelumnya. Aku sengaja membiarkan mereka beradaptasi sendiri terhadap situasi ruangan yang baru. Aku memang masih di luar kelas, beberapa menit lagi sebelum kelas dimulai, menanti buah hati ku yang lain, tinggal satu lagi, mata ku berpedar, mengharapkan seseorang dikejauhan sana segera melambaikan tangan mungilnya kearahku,

            “Rasya,” teriakku pada sosok yang kuharapkan tadi,

            “Bunda…” kurang dari beberapa meter lagi Rasya sampai di hadapkanku, tapi senyumnya telah merasuk hangat kedalam hatiku,

            “Assalamu’alaikum Bunda Ais, “

            “Wa’alaikumussalam Muhammad Rasya, bagaimana kabarmu hari ini nak?” Dengan tegas dan jelas Rasya menjawab,

            “Alhamdulillah, Allahu’akbar, luar biasa!” Lagi – lagi aku tertawa bahagia melihat tingkah pola lucu anak – anak kalbu ku,

            “Senang sekali Bunda mendengarnya, Rasya siap belajar menyenangkan bersama Bunda dan teman – teman?!.”

            “Siap Bunda,!”

            “Tapi…” kata Rasya menggantung,

Aku menanti nya melanjutkan apa yang ingin dia katakan,

            “Bunda, Rasya mau tanya?”

            “Apa sayang yang ingin Rasya tanyakan, insya’alah Bunda akan menjawabnya!” Rasya terlihat mengatur kata – katanya,

            “Kalau kita baik nanti masuk surga ya Bun,!” Tanya Rasya berubah sangat – sangat serius,

            “Iya” Jawab ku tak kalah serius

            “Ada surga buat anak – anak nggak Bun?” Tanyanya lagi

Subhanallah, tiba – tiba aku teringat canda Rasulullah dengan seorang nenek – nenek, Suatu ketika Rasulullah S.A.W. didatangi oleh seorang nenek tua yang bertanya, “Apakah kelak saya boleh masuk syurga?” Nabi pun menjawab, “Tidak akan ada orang tua di dalam syurga.”

Mendengar jawapan itu, spontan nenek tersebut menangis. Lalu Rasulullah berkata kepadanya : “Bahwa kelak tidak ada orang tua di dalam syurga kerana semua ahli syurga akan kembali muda“. Terinspirasi dari kisah itu, aku pun berniat mencandai Rasya, murid ku yang sholeh.

            “Wah, sayang sekali nggak ada cinta, “ Sahut ku menggoda anak laki  – laki pemilik pipi tercabi se Al – Ikhlas zamzam Rahman ini, seketika wajah Rasya berubah, matanya yang bening berkaca – kaca, aku buru – buru nambahin,

            “Iya, di surga gak ada anak kecil sayang, nanti Muhammad Rasya di surga udah gede seperti Bunda, “ Rasya tersenyum lebar. Sungguh indah senyumnya

Sungguh mulia kau Bunda kedua kami

Ibarat mentari yang menyinari bumi

Sungguh indah keikhlasan kau guru Tk kami

Penyejuk hati, dan pembimbing kami

Meniti kehidupan dunia yang indah ini

Keikhlasanmu penerang masa depan kami

Bak pelangi yang indah mewarni

 

Iklan

Satu pemikiran pada ““Bintang – Bintang Kecil Ku” Kisah Cinta Sang Guru TK

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s