Malam ke 22 tahun

 

Jam yang melingkar di pergelangan tangan ku menunjukan pukul 11 lewat 22 menit  . Aku menonga ke langit malam. Tiada bintang mungkin akan turun hujan.  Biasanya ada satu, dua orang yang berada di luar rumah  sekedar duduk santai atau berceloteh riang dengan para tetangga. Belum lagi orang yang lalu lalang atau pedagang nasgor keliling yang mangkal di tiang kelonongan perengahan jalan ini tapi kali ini sepi bahkan sunyi. Bintang peliharaan serupa anjing pun serasa enggan berkoar, apalagi kuncing yang tengah menikmati masa kawin. Begitu anteng!.  Jalanan setapak yang kutelusuri untuk dapat pulang ke rumah serasa jauh ku lalui. Tidak seperti biasanya, padahal aku hanya perlu melangkah beberapa langkah lagi untuk berbelok ke kanan kemudian menghabiskan sisa jalanan setapak ini hingga akhirnya  sampai pada sebuah rumah ber cat putih dengan gaya minimalis yang terlihat manis disebelah sebuah warung kelontong yang menjual segala rupa sembako dan keperluan rumah tangga.  Mengapa malam ini serasa aneh ya bagiku? Aku yakin tidak salah jalan. Hanya saja memang tidak seperti biasanya.

    Aku berdiri tepat di pertigaan jalan. Pas di tiang kelonongan. Aku tidak mengerti ada apa? Jam di tanganku tidak berdetak? Bulu kuduk ku berdiri!

            AAAAAAAaaaahh,…

Aku tergugu! Suara teriakan. Kenapa ada suara teriakan? Siapa yang berteriak? Dari mana asal suara itu? mata ku berpedar, melihat ke depan, ke belakang, samping kanan-kiri, keatas dan kebawah? mencari sumber suara?  Aku tidak menemukan apapun. Seperti yang ku lihat di awal. Semuanya sepi. Aku hanya melihat siluet diriku, aku berdiri tepat di bawah lampu tiang kelonongan. Aku… sekuat apapun usahaku untuk menggerakkan kedua kaki, seperti nya hanya sia – sia! Bahkan sampai aku lelah. Langsung lemas badanku,

            Aaaaaaaaahhh, untuk kedua kalinya teriakan itu! suara seorang wanita. Membuatku diserang rasa ketakutan yang mencengkam.

            Aaaaaaaaahhh!!! Kali ini! Itu suaraku! Suara yang melesat dengan cepat dan kuat  yang keluar dari tenggorakkan ku yang kering! Aku…. Aku melihat seorang perempuan tergeletak berlumur noda darah di baju kemejanya yang berwarna putih. Tepat di depanku! Aku menghindar bebarapa langkah. Nafas ku tersengal. Keringat dingin yang membuat tubuhku panas, jatuh bagai butir – butir jagung! Membasahi t’shirt yang ku kenakan. Aku menutupi wajah, aku tidak mendengar suara apapun selain jantungku yang bertabuh dengan kerasnya. Aku mencoba membuka mata ditengah rasa ketakutan yang luar biasa. Ibarat sembuah kematian yang mencengkam! Dan aku lebih terkejut karena perempuan tadi menghilang! Tak ada satu titik pun ceceran darah di tempatnya tadi. Rasanya aku tak sanggup melihat kebelakang! Atau melihat kearah lain. Tapi perasaanku semakin tidak mengenakan! Dan….

            AAAAaaaaaachhh…..!!!

            “Siapa kamu!!!!!” teriak ku pada seseorang berjubah hitam dan bertopeng badut membawa samurai yang juga terdapat tetesan darah merah pekat di tangan kanannya. Aku terjatuh! Tersungkur! Aku tak dapat bergerak! Aku takut. Aku… Menutup rapat – rapat mataku dan berteriak… Aaaaaaa…. Memang tidak terlalu keras! Aku sungguh lelah.

            “Aaaaaaaaaaa! TATA…!!!!”

Perlahan aku memberanikan diri membuka mata ku, tapi aku tak punya cukup kekuatan untuk membukanya!

            “TATA…!” itu namaku,

Aku baru mau teriak, tapi keduluan suara……..

            “Happy b’day to you……happy b’day TATA…!Happy Tata.,…!!!”

Aku membuka mataku lebar – lebar! Ini… Ini… aku tidak dapat berkata apa – apa. Air mata ku meleleh bagai bongkahan es di terpa sinar mata hari di siang bolong. Dinda sahabatku, langsung memeluk ku!

            “TATA,  selamat ulang tahun yaaa…. Kejutan buatmu!!!”

Zeze membawa kue ultah coklat. Di atas kue itu berdiri sepasang angka yang sangat cantik.

Aku melepaskan pelukannya dan berkata dengan sedikit keras,

            “Gila..! Kalian hampir w mati konyol karena kaget tahu!”

Dinda, Rasya, Kanza , Piye, dan semuanya malah pasang senyum seondah malaikat! Tanpa dosa! Nyengir yang paling lebar ada di bibir Dinda! Dan Aku tahu! Dia lah Otak dari semua ini!

            “Tapi seru kann!!!?” Kanza menarik ku dalam pelukannya dan berbisik,

            “Met ultah Ta..!” Disusul Rasya yang juga memeluk ku

Dan mereka sungguh tidak dapat membuat aku marah!

            “Masih dek – dek an tahu..!!!!” Ucap ku sambil memegangi jantung ini yang perlahan berubah frekuensi menjadi gelombang keharuan!

Perempuan yang ku lihat tadi rupanya Ria. Sumpah! Dia berhak mendapat Award atas bakat terpendamnya menjadi aktris    

AAAAaaaaa!!! Aku berteriak lagi….

            “W gak mau lihat badut!!!!” Orang berjubah hitang tadi mendekat kearahku dengan topeng badutnya! Aku takut sekali dengan badut! Rupanya gak ada cakep – cakepnya! Imut – imut nya! Lucu – lucu nya! Nyeremin… iiiiiihhh

            “Ini w Arya..! masa loe takut sich liat w!”  Topeng badut itu di lepas dan senyum termanis di dunia ini muncul ibarat matahari terbit!

            “Met Ultah Yaaaa!” Ucapan yang begitu manis darinya lebih dari coklat yang sering ia berikan! Dark coklat favorite ku,

Malam itu, memang malam teraneh dan menyeramkan dalam hidupku, tetapi sekaligus malam terindah di usia ku yang kini menginjak 22 tahun! Seorang perempuan cantik (PD) yang takut dengan badut dan paling seneng nonton pilem horror! Hihihi

Dan karmanya! Keesokan paginya! Arya di omelin abis sama pak RT yang telah mendapat keluhan warga sekitar rumah kami yang merasa tergangu dengan kejadian semalam. Rumah Arya dan aku hanya beda gang tapi 1 RT. Kasihan juga sich ngeliatnya jadi bulan – bulan Pak RT yang terkenal bawel. Aku hanya bisa memasang wajah sumaringah,,,,

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s