Kau Pelangi Setelah Hujan

Pertengahan September, bulan ini mengingatkan aku tentang sebuah kisah yang tak akan berulang kembali. September dimusim panas membuat aku menulis secarik harapan pada selembar daun di puncak gunung kerinduan, agar segera berakhir musim kemarau beralih pada musim pengujan. Diriku memang bukanlah seorang yang pandai bersyukur bahkan aku tidak begitu menikmati mentari. Aku menunggu hujan dibulan ini, walaupun hujan selalu membangkitkanku pada masa lalu. Masa dimana antara kau dan aku….

            “ Masya’allah, dia malah melamun? Atau sedang terserang virus galau?”  Anne mengalihkan pandangannya kebelakang. Farah berdiri tepat di muka pintu kamar dan dengan segera mendekati Anne yang tengah mematung di depan jendela, entah apa yang dilihat? yang jelas hanya ada sebatang pohon palem di sana. Anne memandang Farah dengan tatapan sesendu bulan purna tertutup mendung. Farah malah mendelik dan langsung menaruh tangannya di jidad Anne

            “Emangnya penyakit galau kaya demam apa?” Protes Anne,

            “Ya kalii!?” Jawab Farah sekenanya.

Anne sedikit menggerakkan bibirnya yang ranum tapi tersenyum kecut,

            “Ada apa denganmu?” Tanya Farah

            “Kaya judul lagu azza?”

            “Ya gak perlu w nyanyiin kan?”

            “Enggak deh makasih!”

Akan tetapi untuk beberapa saat mereka malah diam. Hanya membiarkann waktu lewat beberapa menit Anne mulai bergetar untuk memaksakan beberapa kata keluar dari mulutnya,

            “Far, w belum bisa melupakan? Apa berarti w masih belum memaafkan?rasanya sakit banget? Tapi serasa masih ada selaksa cinta”

Dari mata Anne mengguling beberapa butir air mata, namun secepat itu pula Anne berusaha menghapusnya. Farah masih ingin diam, makin merapatkan dirinya kearah Anne, siap untuk dipeluk sahabatnya Anne paraditha kapanpun ia mau, dan benar saja Anne sungguh tak sanggup menahan gejolak kesedihan hatinya. Anne memeluk dengan erat Farah melia. Kali ini Farah yang menatap tanjam awan di balik bingkai jendela kamar Anne, dan perlahan awan di cakrawala langit siang itu berubah mendung.

###

            “Lo, mau bawa w kemana sich Far? basah tau baju w?”

Farah menggenggam tangan Anne dengan kuat. Sebuah payung meneduhinya dari terpaan air hujan pertama di bulan September.

            “Mau bawa lo ke surga?”

            “Gila lo! W masih mau hidup”

            “Yakin masih mau hidup?”

Anne pasrah diseret farah ditengah hujan lebat ini. Wajah Anne di hiasi garis ke BT an. Farah tak peduli sekalipun ia harus basah kuyup. Yang jelas Farah telah membawa Anne ke sebuah pertokoan di seberang jalan, bukan untuk mengajak Anne shopping, atau hunting belanjaan tapi menunjukkan sesuatu. Dan tepat di depan etalase  toko mereka berhenti. ‘Happy Wedding’ nama toko tertera disana.

            Farah melemparkan payung yang digenggamnya di tangan kanan sedari tadi. Anne sempet shock. Dan hujan mengguyur mereka dengan derasnya.

            “Lihat! Lihat Ne!!” teriak farah kepada cewek cantik didepannya ini,

            “Apa sich maksud loe Far?”

            “Lihat ke sana!” Perintah Farah sambil telunjuk tangannya terarah ke dalam toko. Mata Anne pun mengikuti petunjuk farah.

Anne kaget bukan main dengan apa yang dilihatnya di depan toko itu. Sebuah pemandangan yang sungguh menghancur leburkan hatinya yang tengah terluka, ibarat kayu yang dimasukkan kedalam api. Anne menutup mulut  dan memegangi dadanya, sungguh jantungnya berdetak amat kecang dan terasa menyakitkan.

Itu Reno, tunangannya dulu. Lebih tepatnya mantan tunangannya. Reno terlihat tengah memandangi seorang wanita yang berdiri mesra di dekatnya dengan menggunakan sehelai gaun pengantin putih.

Anne tak mampu menutup mata nya, sungguh apa yang dilihatnya saat ini menghancur leburkan hatinya yang tengah terluka. Anne menutup mulutnya dan menahan sakit di dadanya. Jantungnya seakan bertabuh dengan kecangnya ! terasa sakit yang tak terkira.

            “kalau lo tau w bakalan sesakit ini! Kenapa lo bawa w kesini Far?”

Kata Anne dengan intonasi suara amarah

            “W mau  lo sakit Ne! terus lo bangkit dari keterpurukan lo yang ngebuat lo sangat menyedihkan!, Laki – laki yang  lo selalu harepin!yang lo anggep cinta sejati lo! Yang lo yakini jodoh lo! Lo lihat Ne! bentar lagi nikah. Dan lo tahu kan perempuan itu siapa? Mereka emang pantes berjodoh. Mereka sama – sama penghianat! W Cuma mau lo sadar! Gak terus – terusan bergalau ria hanya demi Reno. Coba lo pentingin perasaan orang lain yang menderita melihat lo terus – terusan sedih dan hancur! Jangan kira lo doang yang ngerasain sakit!”

Anne menatap mata Farah yang memerah. Kalau bukan karena air hujan menutupi air mata Farah, Anne akan lihat wajah Farah banjir oleh air mata. Sungguh, Anne melihat kesedihan yang dalam pada diri sahabatnya. Anne baru sadar, sahabat sejak SMA nya ini teramat besar kasih sayangnya bahkan mungkin melebihi hujan pertama dipertengahan september ini. Anne tak lagi melihat sepasang calon pasutri di dalam toko sana! Tapi ia menatap lekat sahabatnya tanpa kata. Dengan cinta! cinta sejati yang tak akan bikin galau. Ternyata hujan dibulan setember benar – benar indah, Anne bahkan dapat melihat pelangi di mata indah Farah. Dan Anne memeluk erat Farah di tengah lebatnya hujan. Mereka berdua merasakan bahwa persahabatan itu indah seperti pelangi setelah hujan.

Iklan

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s